
Aku terbangun dari tidur ku. Ah iya aku lupa aku di rumah sakit.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Edward yang persis di sebelah ku sedang duduk dan menatapku dengan lembut.
"Nggak apa-apa" ujarku.
"Sha, maafkan aku, gara-gara aku kamu kehilangan nya" ujar Edward terbata-bata.
Aku yang mendengarnya benar-benar nggak bisa berkata-kata aku terkejut dan hanya menyentuh perutku, perlahan air mataku jatuh.
"A..anakku.. udah nggak ada?" ucapku gemetar.
"Maaf.. Aku minta maaf" ujar Edward sambil meraih tubuh ku dan memelukku.
Aku yang shock nggak mempunyai tenaga untuk melawan, hanya pasrah dan menangis di dalam pelukannya. Aku kehilangan anakku setelah aku menikah. Aku benar-benar nggak habis pikir ternyata pernikahan ku bisa membuat aku jadi seperti ini.
Beberapa saat kemudian..
Hatiku sudah mulai tenang.
"Jadi, karena aku sudah keguguran, aku rasa aku sudah nggak perlu melanjutkan pernikahan ini, apa kita bisa bercerai saja?" ujarku.
"Apa??!!" Teriak Edward dengan kedua mata nya menatap tajam ke arahku.
__ADS_1
"Iya, jadi kita bisa mencari kebahagiaan kita sendiri-sendiri." Ujar ku.
"Nggak bisa. Kamu kira pernikahan itu cuman mainan? Aku nggak akan melepaskan kamu." Ujarku.
"Tapi kita nikah cuman karena saling memanfaatkan kan?" Tanyaku.
"Hei, aku nggak akan pernah menikahi orang yang nggak aku cintai." Ujarnya.
"Bukan aku yang kamu cinta, aku cuman terlihat mirip saja jadi kamu mau aku." jawabku.
"Kamu kira aku akan menikahi orang yang mirip dengannya saja? Pertama aku mendekatimu memang karena kamu mirip, tapi sekarang aku memutuskan menikahimu karena aku mau kamu bukan hanya sekedar mirip" ujar nya tegas.
"Benarkah?" Tanyaku.
"Ya ! Jadi tetapla disini dan bersama ku, lahirkan lah anakku" ujarnya.
Dua hari kemudian..
Tubuh ku sudah pulih, aku kini sudah nggak terlalu terbebani, karena rasa bersalah ku terhadap Edward yang menikahiku yang mengandung anak pria lain. Selama di rumah sakit dia telah merawat ku dengan baik, dan menunjukkan cintanya. Kali ini aku akan berusaha untuk mencintainya, aku berusaha untuk jatuh cinta lagi.
"Sudah selesai makannya? Makan jangan sambil bengong" Ujar Edward yang berdiri di pintu.
"Ah bikin kaget." Ujarku.
__ADS_1
"Barang mu sudah ku taruh mobil semua, habis kamu selesai makan kita pulang rumah mamamu dulu." Ujarnya.
"Boleh nggak kalau aku nggak ikut ke Jerman dulu, aku masih mau disini dulu." Ujarku.
"Boleh, nanti aku akan suruh Doni untuk temani kamu disini, beritahu aja kapan kamu siap untuk pulang bersama ku, aku akan datang menjemputmu." Ujarnya.
"Terima kasih, tapi kamu cukup jemput aku di bandara aja." Ujarku.
"Tapi nanti kamu kerepotan." Ujar nya.
"Nggak, kan ada Doni." Ujarku.
"Kalau gitu aku akan taruh satu orang lagi untukmu. Agar kamu nggak kesusahan, tapi jangan lama-lama ya." Ujarnya.
"Oke, iya kuusahakan ya." Jawabku.
Kita bersiap untuk pulang, Edward menuntun ku dengan sabarnya, entahlah aku merasa cukup beruntung disini, meskipun kadang aku masih ragu dengan keputusan ku untuk tetap bersamanya, karena aku kadang masih memikirkan Frans.
Oh my God kenapa dia masih ada di kepalaku? Aku nggak ingin menghianati Edward yang sudah sebaik ini kepadaku.
Aku terus berpikir dan tanpa sadar menatapnya terus.
"Elisha, kamu benar-benar membuat ku salah tingkah kalau kamu terus melihatku, aku tau bahwa aku tampan, tapi nggak perlu di tatap terus, aku juga bisa salah tingkah." Ujar nya dengan percaya diri.
__ADS_1
"Idih ! Siapa yang lihat?" Kataku mengelak karena malu."
Bersambung..