
Aku terbangun dari tidur lelap ku dan aku masih di pesawat, dan ada yang memakaikanku selimut, entahlah tapi aku yakin itu Edward, meskipun dia marah denganku tapi dia masih begitu peduli sama aku.
Aku melihat dia yang sedang membaca sambil menikmati secangkir teh nya. Meski dia nggak menegurku dari aku bangun, aku nggak masalah, hanya saja, aku bosan dengan keheningan ini.
Ah mungkin aku perlu membuka percakapan random.
"Ward, bagi kamu apa itu cinta?" tanya ku dengan random nya.
"Hm? Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" Tanya Edward.
"Nggak apa-apa sih aku cuman mau tau pandanganmu terhadap cinta aja." ujarku.
"Bagi aku cinta itu bisa membuat kamu hidup lebih berarti tapi kadang kala juga bisa mmbuat kamu mati sia-sia." Ujarnya.
__ADS_1
"Waw.. benar sih, aku karena cinta yang salah membuat aku hidup sia-sia tapi di dalam itu aku bertemu cinta yang spesial yang menarikku dari dalam belenggu cinta yang gelap itu" ujarku.
"Hm? Tapi kamu juga masih mencarinya kan kemarin?" tanyanya.
"Iya itu kebodohan terbesar yang aku lakukan mempercayainya, tapi kamu lagi-lagi datang menolongku, aku yakin semesta mengirimkan kamu untukku, kamu yang sebenarnya orang yang tepat hanya saja datang di waktu yang salah, entahlah mungkin terlambat." ucapku.
"Bukan salah dan terlambat, tapi kamu yang sangat mudah terjerumus dalam mulut manis orang sehingga menyerahkan dirimu seutuh nya ke orang yang salah" ujar nya dan dia langsung berdiri meninggalkan ku.
Aku bertanya-tanya dengan raut wajah nya di perkataan terakhir, mungkin aku benar-benar terlalu banyak bertanya, lebih baik setelah ini mungkin aku nggak perlu banyak bicara lagi.
Sesampai nya di lobby salah satu asisten membukakan pintu mobil untukku, lalu aku mencari Edward bahkan nggak kelihatan.
"Nyonya, tuan langsung ke perusahaan, jadi beliau meminta saya untuk mengantar nyonya pulang dulu." Ujar Doni, karena bahasa Jerman ku masih kacau, aku hanya bisa berkomunikasi dengan Doni.
__ADS_1
Setelah aku masuk ke mobil hanya ada Doni dan asisten yang membukakan aku pintu saja yang ikut pulang, dan yang lainnya mungkin menunggu Edward.
"Nyonya besok tuan sudah menyiapkan guru bahasa khusus untuk nyonya, setiap jam tiga sore nyonya akan belajar bahasa Jerman" ujar Doni yang membuat lamunanku pecah seketika.
"Kenapa jam nya tanggung banget? Sampai jam berapa? Dimana les nya?" Tanya ku.
"Karena tuan belum mengijinkan nyonya keluar rumah sebelum menguasai bahasa, sampai jam enam sore saja. Dan guru bahasa nya akan datang ke rumah." Ujar Doni.
"Oke terima kasih" kataku.
Beberapa saat kemudian sampai lah aku di rumah yang cukup megah, dengan pagar yang otomatis terbuka sendiri, dan halaman yang luas, mobil berhenti di sisi halaman, aku berjalan masuk ke dalam rumah bersama dengan Doni, dan di sambut beberapa pelayan laki-laki di rumah, bahkan pelayan disini pun laki-laki, apa Edward nggak bosan melihat laki-laki terus?
"Ini adalah nyonya Elisha, istri tuan (dalam bahasa Jerman)" ujar Doni yang sepertinya sedang memperkenalkan ku, karena tangannya menunjukku, aku hanya bisa tersenyum dan semua nya memberikan salam padaku.
__ADS_1
Bersambung..