
Hari ini kita menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sebelum besok berangkat ke Negara pria di sampingku ini, yang sekarang adalah suamiku.
Nggak pernah terbesit di benakku aku akan menikah dengan seorang pria dari luar Indonesia, bahkan pria ini adalah pria yang cukup bahkan sangat mapan, terlihat dari bagaimana ia membiayai pernikahan yang di gelar dengan megah nya.
Aku menghabiskan waktu ku dengan pria yang salah dan bertemu dengan pria sempurna ini yang bisa menerima aku apa adanya seperti ini. Apa Tuhan bercanda sama aku? Atau Tuhan kasihan sama aku? Entah lah.. Sekarang aku akan menikmati setiap waktu ku selama hidup.
Berjalan di pesisir pantai pagi ini membuat aku merasa sangat tenang.
"Aku dengar-dengar dari orang Indonesia sini, kalau lagi hamil nggak boleh ke pantai, apa nggak apa-apa kita kesini?" Tanya Edward dengan tatapan was-was nya.
"Nggak apa-apa itu mah cuman mitos, malah sebenarnya kadang liat pantai begini bikin perasaan jadi lebih tenang tau, melihat air bergelombang, hantaran laut yang luas, biru dan indah" ujar ku.
"Meskipun kadang air bisa jadi musuh manusia, tapi kamu suka pantai ya." Ujar Edward dengan perkataan nya yang aneh.
Aku berpikir hendak menjawab apa, perlahan aku duduk di atas pasir putih memandangi pantai.
"Ayo duduk." Ucapku sambil menarik tangan Edward.
"Hmm.." Jawab nya sambil perlahan duduk.
"Meskipun air kadang menakutkan, tapi air juga nggak bisa di salahkan, kenapa air jadi menakutkan itu karena hukum alam, dan juga ada dari kesalahan manusia itu sendiri tau." Ujar ku.
"Banyak orang mati tenggelam di laut bahkan di kolam renang juga ada." Ujar nya.
__ADS_1
"Itu semua takdir tau, kalau Tuhan udah mau manggil kamu, kamu akan di panggil dengan cara apapun, entah tenggelam atau kecelakaan darat dan udara." Ujar ku.
"hmm.." Desahnya yang terlihat seperti nggak puas dengan jawabanku.
"Kenapa sih? Kamu benci laut kah?"
"Sangat" jawabnya singkat.
"Kenapa?" Tanya ku.
"Dulu, kakakku meninggal tenggelam di kolam renang, dia suka renang dan saat latihan nggak tau kenapa kaki nya kram dan dia nggak bisa bertahan dan langsung tenggelam ditengah-tengah kolam. Hanya ada beberapa orang disana, jaraknya jauh mereka berusaha menolong tapi percuma. Dan laut, dulu aku punya kekasih, mati tenggelam di laut, di keluarganya dia adalah perempuan satu-satu nya ceria dan riang, tapi malah pergi begitu saja di depan mataku." Ujar nya.
"Aku turut berduka ya." Jawabku yang benar-benar sudah nggak tau harus bicara apa lagi, karena tragis nya hidup dia.
"Hmm.." Jawabnya.
"Nggak usah, kalau kamu suka disini, kita bisa disini sebentar lagi." Ujar nya dengan lembut.
Satu point lagi yang ku dapat dari dia, nggak egois.
"Kalau boleh tau siapa nama pacarmu dulu?" Tanya ku.
"Catherine Cello" Jawabnya.
__ADS_1
"Berapa lama kamu pacaran? Kamu benar-benar mencintai dia ya?" Tanya ku dengan sedikit ragu.
"Ya, sangat, kita sudah bersama selama 10tahun dan dia sudah pergi 5tahun yang lalu dan aku nggak pernah menjalin hubungan dengan siapapun sampai bertemu kamu." Jelasnya.
"Kenapa kamu memilih aku yang bahkan baru kamu kenal? Kenapa nggak Dyana?" Tanya ku.
"Dyana, dia yang menyebabkan Catherine meninggal, aku melihatnya mendorong Caherine dari kapal hingga jatuh ke laut. Saat itu juga aku langsung menuntut Dyana, tapi dia masih bisa bebas, karena ayah nya seorang jaksa." Jelas nya lagi.
"Ya ampun, benar-benar kejam !" Seru ku.
"Di dunia yang punya kuasa lah yang akan menang." Ujar nya.
"Lalu kenapa kamu pilih aku?" Tanya ku lagi.
"Karena kamu mirip dia, benar-benar mirip, nggak ada yang berbeda dari kalian, hanya sifat mu sekarang berubah, mungkin sejak kamu bersama dengan dia." Jawabnya yang dengan santai nya.
Aku mendengar nya benar-benar cukup terkejut.
"Jadi dari awal kamu memperhatikanku hanya karena aku benar-benar mirip sama dia?" Tanya ku.
"Ya" Ujarnya dengan singkat tanpa ada rasa nggak enak sama sekali.
"Jadi aku hanya seorang pengganti?" Tanya ku yang sontak membuat nya menatap ku.
__ADS_1
Aku tau aku nggak berhak marah karena aku juga menggunakan dia untuk menjadi ayah dari anak yang bukan miliknya. Tapi hati ku tetap merasa sakit, aku langsung beranjak berdiri dan pergi meninggalkan dia. Air mata ku terus menetes tanpa henti, hatiku benar-benar rasanya sakit mengingat aku hanya lah seorang pengganti. Meskipun dia bertanggung jawab untukku. Tapi aku nggak pernah memintanya.
Bersambung..