Karena Pergaulan Bebas

Karena Pergaulan Bebas
#31


__ADS_3

Aku menelepon Ana dan menceritakan yang terjadi.


"Oh my God Bet ! Terus lu percaya? Terus lu mau gitu ninggalin Edward demi cowo kayak dia?" Ujar Ana yang semakin nggak sabar.


"Iya gimana An, aku juga bingung, dia bilang begitu." Ujarku perlahan.


"Aduh nggak tau lagi deh sama kamu, kamu seharusnya sudah paham dia itu bermulut banyak bermuka dua" Ujar Ana kesal.


"Aku pikirin lagi deh ya." Ujarku.


"What? Masih mau di pikirin lagi? Bet, jadi orang jangan terlalu polos, kamu sudah memiliki suami yang cukup sempurna, bahkan sayang sama kamu kan?" Kata Ana.


"Tapi aku cuman pengganti mantannya yang sudah meninggal, kalau dia bertemu sama perempuan lain yang mirip mantannya apa dia akan memperistri orang itu juga?" Ujarku kesal.


"Terserah deh Bet, lu pikir sendiri aja deh baiknya gimana" Ujar Ana kesal dan langsung mematikan telepon.


Nggak lama tiba-tiba hp ku berbunyi lagi, panggilan dari orang yang nggak di kenal.


"Halo?" Sapa ku.


"Hai, Bet, bagaimana tawaran ku di message instagram tadi? Kenapa kamu mengabaikan pesan ku?" Suara yang terdengar dari seberang telepon.


"Frans?? Ini Frans?" Tanya ku seakan-akan sulit untuk mempercayainya.

__ADS_1


"Iya ini Frans, maafin aku ya, aku sadar setelah kehilangan anak kita" Ujarnya.


"Frans, memang aku sudah nggak memikirkan tentang kita lagi, aku masih baik sama kamu, tapi kamu harus tau aku nggak pernah menoleransi penghianatan." Ujarku menasehati.


"Itu aku cuman bercanda, memang dasar Audy nya aja yang begitu, bisa di lihat lah kalau dia menganggap itu serius, berarti itu kesalahannya kan? Dia kan yang kegatelan?" Ujar Frans.


"Biar kupikirkan lagi saja." Ujarku dan langsung menutup telepon.


Apa yang harus ku lakukan sekarang, di lubuk hatiku yang paling dalam aku masih mencintai dia, iya dia yang selama bertahun-tahun bersamaku, bahkan meskipun Edward datang dia hanya seperti mengobati lukaku saja. Tapi rasanya di hianati itu sakit, aku nggak boleh menghianati dia. Nggak boleh.


Aku memutuskan untuk menelepon Edward,


"Halo" Edward menjawab dengan lembut nya.


"Halo, ko aku mau ngomong sesuatu." Ujarku.


"Bagaimana kalau aku nggak mau ke Jerman, aku mau disini aja." Ujarku dengan khawatir.


"Hah? Nggak bisa dong, kamu kan istri ku, kamu harus ikut dong, dan setau ku ke Eropa adalah impian mu kan dari dulu." Ujarnya yang terdengar terkejut.


"Kalau gitu kita cerai saja." Ujarku.


"Apa???!!" Jawab Edward yang terdengar benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Iya, aku juga sudah keguguran, kamu nggak perlu bertanggung jawab lagi atas semua ini, aku sudah baik-baik saja" ujarku perlahan.


"Ini semua pasti ada hubungannya dengan Frans kan?" Ujarnya dengan emosi.


"Nggak ada hubungan nya dengan dia, jangan sembarangan menuduh !" Ujarku yang semakin bicada semakin gelisah.


"Heh.. Bahkan masih berani membelanya" Ujar Edward dan langsung menutup teleponnya.


Edward..


"Periksa dengan teliti hubungan Frans dengan nyonya akhir-akhir ini (dalam bahasa Jerman)" Ujarku kesal.


"Tuan, sudah saya temukan (dalam bahada Jerman" Ujar salah seorang asisen nya, Scott.


"Vielen dank (terima kasih)" ujarku.


Aku pun membaca semua isi pesan Frans dan Elisha yang mulai mempercayainya lagi. Nggak ! Nggak boleh membiarkan mereka bersama lagi, Elisha miik ku dan akan selalu menjadi milikku.


"DONI ! Bawa nyonya pulang ke Jerman hidup-hidup ! Kalau nggak mau, kamu bisa memaksanya tapi jangan melukainya ! Mengerti? (dalam bahasa Jerman)" perintahku.


"Mengerti tuan (dalam bahasa Jerman)" Ujar Doni


"Bawalah beberapa orang dan pergi lah sore ini (dalam bahasa Jerman)" Ujarku.

__ADS_1


"Baik tuan (dalam bahasa Jerman" Ujar Doni.


Bersambung..


__ADS_2