
Hari ini aku memutuskan untuk keluar rumah sakit, Edward setiap waktu datang ke rumah sakit, dia pergi paling lama tiga jam sudah kembali.
Dan terus mengatakan dia mau menikahiku.
Aku merasa ini nggak adil untuk nya. Karena aku sudah mengandung anak laki-laki lain, nggak adil bagi dia untuk tanggung jawab. Tapi aku juga nggak mau anakku lahir tanpa ayah.
"Sa sudah selesai?" Tanya Edward yang tengah berdiri di pintu.
"Sa? Siapa Sa?" Tanya ku bingung.
"Kamu dong, aku mau panggil kamu Elisa, karena aku merasa Ibeth kurang pas ah buat kamu, kamu kan Elisabeth, kenapa nggak di panggil Elisa atau Anna aja, lebih cocok." Jawab nya yang sambil berjalan duduk di tempat tidur, persis di sebelah aku membereskan bajuku.
"Anna nama teman ku, lagi pula dari dulu aku di panggil Ibeth." Jawab ku kesal.
"Nggak masalah kan kalau cuman mengganti nama panggilan aja, Elisa lebih bagus, buang nama panggilan Ibeth dan semua kenangan masa lalu, jadi lah Elisa dan buka lembaran baru dengan anak mu dan dengan ku." Jawabnya yang sontak membuat aku berpikir.
__ADS_1
"Benar juga lebih baik menjadi Elisa dan membuka lembaran baru daripada menjadi Ibeth yang penuh dengan penderitaan." Jawabku setuju.
"Berarti setuju dong nikah sama aku, dan buka lembaran baru bertiga?" Tanyanya.
"Nggak !" Jawab ku sambil menggendong tas dan beranjak pergi.
Edward mengejarku dan meraih tas yang ku pegang.
"Jangan bawa yang berat-berat nggak bagus buat sih baby." Ujarnya sambil berjalan di sebelah ku, dan setelah keluar pintu kamar, seperti biasa para pengawal nya mengikutinya.
Pengawal Edward hampir semua nya orang luar, hanya satu orang yang dari Indonesia, Doni.
Edward pun mengantar ku pulang ke rumah. Saat di dalam mobil aku hanya menatap keluar jendela.
Entah bagaimana air mata ku tiba-tiba menetes.
__ADS_1
"Menikahlah dengan ku, aku nggak mau anakmu lahir tanpa ayah, ini semua demi anakmu." Ujar Edward sambil menggenggam tanganku erat-erat.
"Apa kamu menyimpan banyak selir di rumah?" Tanya ku tetap menghadapkan muka ke arah jendela.
"Iya selir, setiap wanita hamil yang pria nya nggak mau tanggung jawab kamu langsung mau menikahi perempuan itu. Banyak dong istri mu dirumah hanya karena kamu kaya." Jawabku yang tetap nggak mau memandangi wajah nya.
Aku merasa dia kesal, dan memegang wajah ku agar melihat nya.
"Aku belum pernah menikah sebelum nya." Jawabnya sambil menatapku dalam-dalam.
Nggak lama dia pun melepas tangannya dari wajahku.
"Pikirkan lah, semua demi anakmu, jangan menjadi egois." Katanya lembut.
"Gimana bisa aku menikah sama kamu? Kamu bukan ayah nya. Dan bagaimana bisa aku tega sama kamu, nggak adil kan buat kamu kalau dengan keadaan yang seperti ini?" Tanya ku yang terus meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kita bisa bilang itu anakku, dan kita sama-sama bertemu di Solo, lalu jatuh cinta dan tanpa sengaja melakukannya, waktu di Solo juga aku sebulan disana, kita bisa pakai alasan itu, untuk kedua orang tua mu, bilang lah kecelakaan karena aku mabuk dan salah masuk kamar. Untuk orang tua ku dengan alasan pertama itu, aku sudah bicara, dan mereka meminta ku bertanggung jawab dengan perbuatan ku, masalah adil dan tidak adil itu urusanku dan bukan urusanmu." Jawabnya yang membuat aku cukup tertegun.
Bersambung..