
Frans selesai mandi, dia menatap ku dan menghampiri ku.
"Kamu kenapa?" tanya nya.
"Kamu masih ada hubungan sama Sukma Sukma itu? Kamu kenapa sih nggak bisa ngehargain aku sedikitpun? Kamu tau kan aku nggak suka dia?" Jawab ku dengan emosi.
"Aku sama dia cuman temen, nggak lebih, masa iya aku harus musuhan sama temenku?" jawab Frans dengan nada yang lebih ringan yang semakin membuat ku kesal.
"Frans, kamu pilih aku atau dia?" tanya ku dengan tegas.
"Kalau disuruh pilih ya aku pilih kamu lah, aku nggak mungkin sama dia, tapi kalau suruh benci dia ya nggak bisa, orang dia temen ku." Jawab Frans sambil menatap aku dengan tajam.
"Kalau kamu mau memperbaiki suatu hubungan, kamu harus cabut duri di dalam hubungan mu dulu, kalau kamu bahkan nggak cabut duri nya, itu nggak akan berarti apa-apa." Jawab ku kesal dan langsung keluar dari kamar.
Disaat yang sama
Edward..
Kring.. Kring.. Kring...
"Halo" jawabku dengan santai.
"Tuan, saya mengikuti nona tadi, dia sudah cukup lama di dalam dengan kekasihnya, dan sekarang saya melihat dia keluar sambil menangis." Jawab seseorang di telepon, yang diam-diam ku tugaskan untuk mengawasi wanita bodoh ini.
__ADS_1
Entah kenapa aku merasakan khawatir dengan wanita ini, aku tau dia sudah nggak semurni itu, bahkan bisa ku tebak dia di kamar selama itu ngapain, tapi aku tetap memiliki simpati dengan nya. Mungkin ini simpati karena sifat bodohnya.
Aku pun keluar menuju lorong dekat kamar wanita itu.
Ibeth..
Aku keluar berjalan sepanjang lorong entah mau kemana langkah ku membawa ku. Yang aku tau hanya, betapa egois nya pria ku.
Berjalan dan terus berjalan tiba-tiba aku melihat seseorang jalan ke arah ku, dan kemudian berhenti di depanku. Dan memberiku tisyu.
"Terimakasih" Ucapku saat di berikan tisyu.
"Kamu mau makan steak? Di restoran ini steak nya enak banget loh." Jawab lelaki yang memberikan ku tisyu.
"Aku yang traktir, bagaimana?" Tawar nya lagi.
"Bolehkah??" Jawabku dengan cepat.
"Boleh, ayo.." Jawab pria itu, tanpa pikir panjang aku mengikutinya, yang aku tau aku hanya akan makan steak dan itu tidak masalah, disini adalah hotel yang cukup berkelas, nggak mungkin ada orang yang bisa macam-macam.
Di lift hanya berdua, dan penuh dengan keheningan, orang yang baru ku jumpai malah melihatku dalam kondisi menangis, dan mentraktirku makan steak, makanan kesukaanku.
Lift pun terbuka dan kami pun menuju restoran yang di maksud.
__ADS_1
"Selamat malam, untuk berapa orang?" Sapa pelayan restoran tersebut.
"Dua orang" Jawab pria itu.
Kami pun melangkah masuk dan duduk dimeja yang sudah di persilahkan oleh pelayan nya. Tanpa tunggu lama pelayan memberikan buku menu.
"Tenderloin steak sama orange juice nya satu ya" Pesan ku ke pelayan tersebut.
"Dua ya" Sahut pria itu dengan cepat.
Pelayan itu pun bergeas pergi untuk menyiapkan pesanan kita.
"Ternyata selera kita sama ya tuan" Ucapku untuk memecahkan keheningan yang cukup canggung ini.
Dia tersenyum "kalau boleh tau, siapa namamu?"
"Aku Ibeth" jawab ku dengan senyuman.
"Aku Edward, senang berkenalan dengan mu, seseorang yang bisa menyembunyikan sakit nya di depan orang lain, padahal baru saja liat kamu nangis tadi." jawab nya dengan santai.
Mendengar jawabannya cukup membuat ku tertegun tidak bisa berkata apapun.
Bersambung..
__ADS_1