
Kita tiba di bar steak, memesan makanan dengan menu yang berbeda. Setelah memesan makanan pelayan membacakan ulang pesanan kami, lalu pergi menyiapkan pesanan kami.
"Terima kasih ya ." Ujar ku.
"Terima kasih untuk apa?" Tanya nya yang menatapku lembut.
"Terima kasih karena sudah mau menjaga aku dan menerima aku yang sudah begini." Jawab ku yang merasa nggak enak.
"Begini gimana?" Tanya nya lagi.
"Iya, aku yang dalam kondisi hamil dengan orang lain, dan aku anak broken home." Jawabku lirih.
"Jangan merendah, dia sekarang juga anakku, aku akan jaga kalian berdua dengan baik." Jawabnya cepat.
"Iya terima kasih meskipun kita belum lama kenal, kamu sudah begitu tulus sama aku sampai ke tahap yang seperti ini." Ujarku sambil menatap matanya yang semakin menatap ku tajam.
__ADS_1
"Kita.. Bukan baru ketemu. Aku pernah melihatmu waktu dulu, kamu masih kecil, mungkin kamu nggak inget, tapi sosokmu nggak pernah aku lupakan, bahkan meskipun kamu operasi plastik pun aku akan tetap kenal kamu karena feeling ku nggak akan pernah salah." Ujarnya.
"Ohya? Kita pernah bertemu?" Tanya ku.
"Bukan ketemu, tapi melihat, waktu itu mungkin kamu masih umur 5tahun, dan aku 13tahun, di umur mu yang segitu, aku merasa kamu baik banget sama teman-teman mu. Disitu aku merasa jatuh cinta, dan nggak menyangka saat ke Indonesia lagi aku benar-benar bertemu lagi denganmu, dalam keadaan seperti ini dan kita akan menikah, dan aku nggak pernah menyesal." Jawab nya dengan begitu tegas.
"Ah, begitu. Tapu sekarang kondisi nya aku seperti ini." Jawabku dengan sungkan.
"Apapun kondisimu, aku nggak keberatan, karena semenjak itu aku bahkan nggak pernah menaruh hati ku untuk orang lain lagi selain kamu di saat itu, Elisha." Jawabnya lembut yang membuat aku merasa merinding dengan ucapannya.
"Nggak perlu berterima kasih, mencintaimu adalah resiko yang harus ku tanggung, begitu juga kamu, saat menerimaku kamu juga harus menanggung resiko untuk resign dan meninggalkan orang tua dan teman-teman mu setelah menikah nanti. Semua hubungan ada resikonya." Jawabnya.
"Iya termasuk hubunganku dengan Frans dulu, aku mencintainya begitu dalam, hingga aku menerima resiko sebesar ini karena dia, aku menyesal." Jawabku.
"Kamu nggak boleh menyesal, seburuk apapun dia, kamu tetap pernah merasakan bahagia sama dia, dia pernah berusaha membuat kamu bahagia, itu sudah cukup, meskipun nggak banyak." Jawabnya yang terlihat benar-benar tenang mengatakannya.
__ADS_1
"Tapi aku juga nggak akan pernah mengijinkan kamu untuk bertemu dengannya lagi, termasuk anakmu, itu satu lagi resiko yang harus kamu terima ketika bersama aku." Ucapnya lagi.
"Iya aku juga nggak berencana buat dekat sama dia lagi, mungkin." Ucapku pelan.
"Mungkin? Nggak ada kata mungkin." Jawab nya tegas.
Aku terdiam dan nggak berkata apapun, dan dia terus menatapku dengan tajam. Hanya saja, bohong kalau aku nggak mencintainya lagi, hubungan kami yang sudah begitu lama dan kandas begitu saja, benar-benar terasa sakit, cuman sekarang rasa cinta ku ke dia, masih lebih besar rasa benci ku sekarang, meskipun masih ada setitik perasaan.
Namun aku selalu memfokuskan diriku, agar nggak boleh jatuh lagi ke dalam pelukannya, terlebih lagi karena aku mau menikah.
Dan aku yang berpikir cukup panjang, aku menengok ke arah nya yang masih menatapku seakan sedang menunggu jawabanku.
"Permisi, silahkan hidangannya." Ujar pelayan dengan menyodorkan makanan ke meja. Dan mengalihkan perhatian Edward yang sedari tadi terus memperhatikan aku.
Bersambung..
__ADS_1