
Akhirnya tim seafood kesukaan Edward jadi, aku meminta Doni untuk mengantarku ke perusahaan.
Sesampainya di perusahaan tidak perlu waktu lama, meskipun mereka tidak mengenaliku tapi setidaknya mereka mengenali Doni. Dan ternyata setelah masuk ke lantai direktur, sekretaris nya pun laki-laki. Apa dia nggak bosan melihatnya.
Saat sampai di depan pintu dan hendak membuka pintu terdengar suara wanita yang berteriak.
Saat aku membuka pintu, aku melihat Edward sedang memapah wanita, ya wanita yang sepertinya pernah ku lihat, Edward melihatku terkejut, tapi tidak melepaskan tangannya sama sekali.
Aku melihat nya benar-benar rasanya darahku mendidih.
"Maaf Ward terima kasih" Ujar perempuan itu lembut, bahkan memanggil nya dengan akrab dan langsung berdiri dan menggandeng tangan Edward.
Aku masuk ke dalam kantor nya aku melangkah melewati mereka dan menaruh makanannya di atas meja. Edward masih terus memandangiku.
"Ini makan siang untukmu, ku taruh disini, kalian lanjutkan saja." Ujarku sambil menaruh makanannya dan berbalik pergi.
Saat hendak melangkah keluar Edward memegang tanganku.
Aku melihatnya, dan wanita di sebelahnya tampak terkejut, Edward menarikku dan merangkulku.
"Dyana, bukankah kamu sudah tau aku sudah menikah? Dan bukankah kamu juga sudah kuundang ke pernikahanku? Apa kamu mau jadi perebut suami orang? Apa keluargamu nggak malu punya anak perebut suami orang? (dalam Bahasa Jerman)" Ujar Edward.
"Kamu.. kamu.. keterlaluan ! Aku yang mendekatimu dari dulu (dalam Bahasa Jerman)" Ujar wanita itu.
"Apakah aku dan keluargaku pernah menerimamu? Nggak kan? Kita semua nggak ada yang menerima mu dan bahkan menolakmu secara terang-terangan tapi kamu malah sengaja datang kesini untuk menggoda, apa kamu nggak malu? (dalam Bahasa Jerman)" Ujar Edward.
__ADS_1
Wanita itu menangis dan pergi.
Aku tidak terlalu mengerti yang mereka bicarakan hanya tau kalau Edward benar-benar memaki nya, yah aku tau orang Jerman itu selalu terus terang dan kasar, tapi nggak pernah tau dalam hal seperti ini pun mereka juga seperti itu.
"Aku nggak ada hubungan sama dia, dan aku juga nggak tau maksud dia disini, tapi aku sudah menegaskan padanya" Ujar Edward.
"Tapi tadi?" Tanyaku.
"Entah dia ngapain, yang pasti aku cuman menolong nya karena dia hampir jatuh." Ujar Edward.
"Hampir jatuh? Kayak strategi pelakor ya" ujarku sinis.
"Pelakor?" Ucap Edward yang seakan bertanya-tanya apa maksud dari pelakor.
"Aku nggak akan di curi" Ujarnya serius.
.......
"Apa yang kamu bawa?" Tanya Edward.
"Makan siangmu, aku yang buat loh." Ujarku bangga.
"Memang kamu bisa masak? Bukannya kamu cuman bisa makan doang?" Ujar Edward meledekku.
"Yaudah jangan di makan" Ujarku merebutnya.
__ADS_1
"Kamu kan sudah bikin, ayo makan sama-sama." Ujar Edward yang langsung menahan tempat makan nya.
"Duduk" Ujarnya.
Dan aku pun langsung menurut dan duduk diam.
Aku melihat Edward mulai memakannya.
"Bagaimana?" Tanyaku.
"Lumayan, cuman besok-besok jangan buat lagi ya. Kamu nggak bisa masakpun aku nggak akan di curi siapa-siapa kok." Ujar Edward.
"Hah? Apa setidak enak itu kah?" Tanyaku.
"Hmm.. masih bisa dimakan." Ujarnya.
"Sini aku coba" Ujarku sambil memegang tangannya.
"Nggak usah" Ujarnya.
"Ayolah." ujarku sambil memaksa dan berhasil memakannya.
Oh tidak kenapa rasanya hancur banget.
Bersambung..
__ADS_1