
Pagi ini aku bangun agak siang, hari ini jadwal ku adalah fitting baju pertama-tama, karena bangun ku terlalubsiang, Edward ternyata sudah menyelesaikan dengan semua vendor, jadi fitting baju ini lah yang di mundurkan jam nya, karena cukup lelah aku jadi kesiangan.
Seusai bersiap-siap terdengar bel pintu berbunyi, aku bergegas menghampiri, dan membuka pintu, terlihat Edward sedang menunggu di depan pintu.
"Benar-Benar nyonya Edward yang seperti ****, apa bangun mu nggak bisa lebih siang lagi kah?" Ejek nya.
"Ah, kamu itu benar-benar bisa bikin kesal ya." Ujar ku.
"Yuk" Ajak Edward, aku pun menganggukkan kepala dan kita berjalan keluar.
"Tunggu.. tunggu.." Teriak mama ku dari dalam rumah yang terlihat agak terburu-buru.
"Kenapa ma?" Tanya ku.
"Ini kartu dokter, hari ini juga jadwal kontrol sih baby, jangan sampe kelupaan, setelah fitting periksa ya." Ucap mama ku.
"Oke" Jawabku.
"Ma kita berangkat dulu." Ucap Edward dengan sopan.
__ADS_1
"Hati-hati." Jawab mamaku.
Kita pun berjalan menuju mobil, saat berjalan Edward menggandengku, jantung ini rasa nya seperti mau melompat keluar saat di gandeng nya.
Beberapa saat kemudian.
Aku memilih design baju untuk acara pernikahanku, aku memilih gaun yang sudah ada, karena waktu nya yang singkat.
Aku memilih gaun putih yang sangat indah, yang dulu sempat aku bermimpi mengenakannya saat bersama Frans, tapi siapa sangka ternyata aku akan mengenakan gaun putih yang indah untuk bersanding dengan Edward, pria yang belum lama ku kenal.
Saat sudah menentukan gaun pilihan aku pun mencoba nya di kamar pas.
Setelah selesai fitting, kita pun menuju ke rumah sakit. Perjalanan yang cukup panjang dan hanya terasa keheningan saat di mobil.
"Ko, kenapa kamu memilih ku? Aku nggak sempurna dan punya banyak banget kekurangan, sedangkan kamu, menurut ku kamu adalah definisi dari laki-laki sempurna di dunia." Ujar ku.
"Bukankah kebahagiaan yang abadi itu, menerima semua kekurangan seseorang, dan membuat nya menjadi sempurna?" Ujar nya dengan datar.
Entah kenapa tapi aku merasa kata-kata nya sangat amat berarti.
__ADS_1
Perjalanan yang panjang ini akhir nya kita sampai di rumah sakit, kita registrasi dan mengambil nomor antrian, Edward menemani ku layak nya seorang suami. Aku datang kesini benar-benar seperti pasangan yang tengah mengurus kehamilan anak pertama kami. Untuk saat ini pun, aku merasa benar-benar sangat amat berterima kasih, andai aku nggak pernah bertemu dengan Edward, entah apa yang akan aku lakukan disini.
Mungkin aku sedang mendaftarkan aborsi disini.
Sudah beberapa saat kita berada disini, dan akhir nya nama ku pun di panggil. Kita berdua masuk, dan dokter mulai mengecek kandungan ku.
Normal nya mengecek kandungan, perut ku di USG dan di saksikan Edward dengan telanjang perut. Benar-benar memalukan. Tapi Edward melihat nya dengan tampang yang biasa aja, dan melihat monitor yang terlihat janin nya, wajah Edward terlihat senang, seperti melihat anak kandung nya sendiri.
Usai kita periksa Edward pun mengantar ku pulang.
"Sih baby sehat-sehat, benar-benar lucu, benar-benar patut di sebut tuan muda Edward." Katanya dengan bangga.
Aku cukup terkejut dengan pernyataannya.
"Tapi dia kan bukan anakmu." Kataku dengan polos nya.
"Jangan bilang begitu lagi, bagi ku anakmu adalah anakku sekarang, dan aku yang akan jadi papa sah untuk dia. Jangan pernah mengungkit kalau dia bukan anakku. Paham?" Ujarnya dengan tampang yang benar-benar marah. Baru sekali ini aku melihat dia marah.
Bersambung..
__ADS_1