Kehidupan Menantu Yang Direndahkan Ternyata Seorang Tuan Muda Kaya

Kehidupan Menantu Yang Direndahkan Ternyata Seorang Tuan Muda Kaya
Bab 51. Wati Ding yang membela ibunya


__ADS_3

Rin Liu yang terus menjerit dan berteriak dengan lantang bahwa aku melakukan semua ini demi kebaikan keluarga kita. apakah selama masuk di keluarga kita ini pernah memperlakukan kita dengan baik di depan orang lain, apakah ada barang berharga yang dia bawa sebagai hadiah pernikahan kalian ketika dia masuk di keluarga kita, menurutku dia tetap sampah sampai kapan pun.


"Ibu, kan tau juga kalau Jek Li hanya bekerja sementara waktu sebagai perawat di rumah sakit, dan tidak bisa untuk melakukan selama-lamanya seperti perawat lain, dia kebetulan hanya di percaya oleh kepala keluarga Chen untuk terus merawatnya di rumah sakit, dan jika tuan Chen keluar dan tidak ada yang membutuhkan tenaga dia lagi, maka dia juga akan tidak punya pekerjaan lagi, jika ibu terus meminta uang sebesar 100 juta rupiah setiap bulan, apa yang dia akan kerjakan untuk mendapatkan uang sebesar itu Bu, apakah dia harus jadi perampok, apakah dia harus jadi pengemis, ibu sangat tega sekali dan tidak punya perasaan, Desi Ding berkata dengan sangar marah.



"Ini bukan urusan aku, pokoknya mulai hari ini dan seterusnya, mau ada atau pun tidak ada itu urusan dia, yang aku tau tiap bulan dia harus bisa memberikan aku uang, tidak boleh tidak manusia bodoh, setelah mengatakan ini dia menghentikan kaki di lantai dan segera jalan menuju kamarnya.


__ADS_1


"Bu, apakah ibu tidak punya hati dan simpati kepada orang lain, ibu sudah berlebihan membully dia, Desi Ding Kali ini benar-benar sangat kesal dan marah dengan sifat ibunya yang sudah kelewatan ini.


Wati Ding, yang terus memperhatikan perdebatan panjang antara kakak dan ibunya ibu itu, tampaknya sangat setuju dengan perkataan ibunya barusan. di acara ulang tahun nenek Ding itu dia juga sangat kesal dengan sifat dan ke angkuhan Jek Li, apa lagi dia juga sangat mendukung sekali kalau kakak perempuannya itu bisa menikah dengan Tuan muda Su, dengan begitu kehidupan mereka akan bisa lebih baik.


Tapi dia tidak mengerti dan paham dengan sifat kakaknya, setiap dia bertanya pada kakaknya hanya dapat jawaban "biar Kakak yang mengurusnya untuk cerai kamu fokus dengan kuliahmu",tapi sampai detik ini pun perceraian itu tidak pernah terlaksana, dan yang membuatnya mulai sedikit khawatir adalah kakak perempuanya itu mulai membela Jek Li, baik di depan orang lain yang mengejeknya atau pun di depan para kerabat-kerabat lainya.


Sebenarnya pada awal Jek Li datang ke keluarga mereka, dia juga sempat mendukung pernikahan mereka, apa lagi dia sering mendengar kata-kata pujian dari Kakek Beri Ding sebelum meninggal dunia, tapi lama kelamaan dia juga mulai bosan dan kesal. menurut Wati Ding laki-laki yang begitu sehat tidak memiliki penyakit apapun kerjanya hanya makan dan memasak itu adalah sampah dan bodoh. Jadi dari sejak menyadari apa yang di katakan kakeknya sangar bertolak belakang dengan apa yg di tampilkan oleh Jek Li membuatnya sangat marah dan membencinya.


" Kak, sebelumnya aku ga pernah mau ikut-ikutan berdebat panjang dengan kamu tentang suami sampah kamu ini, akan tetapi menurut pendapatku kalau yang di katakan ibu sangat benar dan masuk di akal sehat, barang antik yang berharga sampai triliunan itu dia berikan begitu saja kepada nenek, memang aku tau dan paham maksu dia itu sangat baik agar di masa depan keluarga kita tidak di rendahkan dan diremehkan sama nenek dan pera kerabat lain.

__ADS_1


Tetapi, Kaka juga sangat paham tentang sifat nenek dan para kerabat lainya, hanya di hari itu saja mereka akan tidak memperlakukan kita dengan buruk tapi di lain hari berikutnya tetap akan kembali sama untuk mengejek keluarga kita ini. Jujur kakak mungkin selama ini Kaka berpikir bahwa aku tidak pernah diejek atau di permalukan oleh para kerabat, tapi sebenarnya aku sangat menderita sekali dengan setiap hari harus di bully atau pun di permalukan oleh para kerabat mau teman-teman aku di kampus setelah mereka mengetahui kalau kakak menikah dengan sampah yang tidak berguna.


Hari-hari yang kulalui tidak pernah damai, dan yang bisa aku lakukan adalah hanya dengan menangis dan mengeluh kepada langit kenapa begitu bisa tidak adil dengan keluarga kita, pada hal selama ini kita tidak pernah membuat orang lain susah tapi sekarang yang kita rasakan semua ketika berada di keramaian adalah penghinaan.


Dan Kakak ipar ini memang sangat tidak berguna, selama limat tahun masuk di keluarga kita, dia tidak pernah memberikan sesuatu yang bisa membuat keluarga kita untuk dalam sekejap bisa merasakan ke harmonisan tentang sebuah keluarga, tapi hanya kesedihan yang terus kita rasakan. Dia tinggal di rumah kita, makan di rumah kita, tapi tidak pernah mengeluarkan uang satu sen pun untuk berbelanja.


Aku juga tau selama ini Kakak selalu diam-diam memberikan uang belanja kepada bedebah ini, coba kakak bayangkan jika mutiara malam itu keluarga kita yang jual, biar tidak menjadi keluarga kaya seperti para miliarder lain di kota ini, tapi paling tidak kita bisa hidup menjadi lebih baik, ibu dan ayah juga tidak perlu lagi bersusah payah bekerja lagi di keluarga Ding itu. Aku juga pengen menjalani kehidupan yang lebih baik kak, pergi ke sekolah dengan menggunakan mobil sendiri selain itu juga kita bisa membeli rumah yang lebih bagus dari pada rumah kita saat ini.


Sekarang dia sudah mulai menghasilkan uang, bukankah sangar wajar Dia mengeluarkan uang sebesar 100 juta untuk mencukupi keluarga kita, Wati Ding mulai sangat jijik dengan kakak iparnya ini, di bandingkan dengan dia yang hanya makan dan minum di rumah, tetapi tuan muda Su sangat tampan dan memiliki kerajaan bisnis sendiri selain itu juga dia merupakan calon kepala keluarga Su untuk selanjutnya.

__ADS_1


"Wati, kenapa kamu bicara seperti itu sama kakak kamu, bahkan kamu sudah berani memakai suami kakak kamu sendiri, aku tau kalau kami hanya pasangan diatas kertas tapi adik juga harus perlu ketahui kalau kami belum bercerai, sekarang dari pada kamu terus ikut campur dalam rumah tangga kakak lebih baik sekarang kamu pergi ke kamar kamu dan belajar dengan giat untuk melukis, lagi pula adik tidak baik untuk terus membahas masalah seperti ini, siapa yang ajarin kamu sehingga mulai berani melawan kakak kamu sendiri. Desi Ding yang dari tadi terus menahan emosinya mulai lagi menceramahi juga adiknya dengan mengangkat tangan kanannya yang seputih salju dan menunjuk ke arah kamar Wati Ding.


__ADS_2