
Setelah bertukar nomor telepon dengan Nona Angel Han, dia tidak ingin berlama-lama lagi untuk berada di tempat itu, bagaimana pun juga tujuan untuk membeli ke lima batu itu sudah tercapai, dia segera berjalan keluar dari tempat penjualan untuk mencari tempat pemotongan yang bagus.
Teringat akan pemotongan yang di lakukan untuk memotong Zamrud kaca, dia segera berjalan ke tempat tersebut akan tetapi belum juga sampai di tempat tersebut, dia melihat banyak orang-orang yang mengantre panjang, dia segera mengundurkan niatnya itu, kemudian dia berjalan ke arah lain dan setelah berjalan beberapa menit dia melihat ada tempat pemotongan yang sedikit pengunjung.
Dia segera maju kedepan dan segera mengamati dengan teliti cara pemotongan yang di lakukan oleh pemilik kios tersebut, jika di lihat dari umur sepertinya pemilik tempat ini baru berusia sekitar 35 tahun, memiliki kumis yang tipis, kulit yang sawo matang, rambut di kuncir kuda, dan memakai setelah jas. nama pemuda tersebut adalah Udin Ting.
Udin Ting sebenarnya belum lama mengikuti bisnis ini, hanya karena dorongan dari kakeknya untuk mempelajari bisnis ini, dia sebenarnya baru selesai melanjutkan pendidikan di luar negri dan balik kampung halaman untuk memulai bisnis seperti jurusan yang di ambil masih kuliah tapi siapa sangka baru juga ingin memulai bisnisnya tiba-tiba datang kakeknya memberikan saran dan masukan, bagaimana pun juga dia adalah penerus keluarga Ting, jadi suda sepantasnya dia mempelajari tentang batu giok dan pemotongan batu yang di lakukan oleh keluarga secara turun-temurun.
Tapi setelah beberapa bulan mengikuti dan mempelajari bisnis ini dia mulai tertarik dan ingin mengembangkan bakat bisnis yang di milikinya selama ini, di bidang bisnis ini dia juga bisa menghasilkan uang perbulan sampai dengan 700 juta, itu yang membuatnya sangat semangat, bagaimana pun juga buat dia itu adalah uang yang lumayan banyak, apa lagi selama ini dia belum menghasilkan uang sendiri selain dari orang tuanya yang memberikan.
Jek Li yang baru saja ingin menyapa pemilik kios itu dia tiba-tiba merasa ada yang terus mengikutinya dan dia segera berkata:
"Nona apakah ada hal lain sehingga terus mengikuti aku seperti itu, atau jangan-jangan kamu juga tertarik dengan ketampanan yang aku miliki ini, Jek Li sengaja berkata hanya ingin menggoda dan bercanda dengannya, bagaimana pun juga mereka baru saja mencapai kesepakatan dalam bisnis, dia juga tahu kalau wanita yang tidak tahu malu ini terus mengikuti dirinya karena ingin mengetahui dengan jelas giok yang di hasilkan ke lima batu giok itu yang di beli di warungnya.
__ADS_1
Mendengar suara tersebut Angel Han hanya terdiam di tempat dengan muka yang merah padam karena merasa malu dengan ucapan pemuda itu yang baru saja di kenalnya, dia mulai kesal dengan memaki pemuda tersebut di dalam hatinya.
"Hehehehehe, jangan salah paham tuan muda, aku datang kesini hanya ingin melihat-lihat keadaan, sebenarnya dia juga hanya merasa malu kalau ingin mengatakan tujuan mengikuti pemuda itu, bagaimana pun juga dia masih penasaran dengan banyaknya batu yang di beli di tokoh miliknya.
Mungkin pemuda ini dapat melihat kualitas bagus dalam ke lima batu giok itu sehingga rela mengeluarkan begitu banyak uang untuk membeli, selama ini belum ada yang melakukan hal semacam itu, walaupun dalam kota ini terdapat banyak keluarga kaya dan berpengaruh tapi belum ada yang segila pemuda ini.
Setelah berkata dengan Angel Han, dia segera maju dan menyapa pemilik tempat pemotongan itu:
"Bos, bisakah anda membantu aku untuk memotong ke lima batu yang ada di dalam kantong ini?siapa tau ada benda yang berharga terdapat di dalamnya. Jek Li kemudian mengangkat kantung plastik itu dan menaruh pas di depan pemilik kios.
"Kamu orang gila dari mana, sehingga berani membawa masuk batu sampah seperti ini, apakah kamu ingin bermain-main dengan aku ?, aku kasi tau, hanya baru kamu yang berani beromong kosong di toko aku ini, alangkah baiknya kamu segera keluar dari toko aku.
Mendengar hal itu Jek Li hanya mengerutkan kening saja sambil menggelengkan kepala, kemana pun dia pergi selalu orang memandang dirinya begitu hina. untuk menghindari adanya percekcokan makin panjang dan melebar kemana-mana, Jek Li segera mengeluarkan uang sebanyak 30 juta dan kemudian meletakan diatas meja.
__ADS_1
Melihat adanya uang di atas meja itu Udin Ting langsung terdiam, apakah betul pemuda ini memiliki uang dan ingin memotong batu. tapi di lihat dari atas sampai bawah tidak ada yang istimewa seperti para pengunjung pada umumnya.
" Anak muda maaf jika sebelumnya ada bahasa saya yang tidak bagus karena kebutaan aku dalam melihat pengunjung, tapi tuan muda, di sini untuk nilai setiap batu yang akan di potong memiliki harga berbeda-beda, untuk dua biji yang berukuran kecil seperti ini betul harganya 10 juta rupiah tapi kalau ukuran yang besar seperti ini itu harganya 20 juta rupiah per bijinya, jadi total untuk semua batu yang tuan bawah ini bernilai 80 juta rupiah, jika tuan setuju silahkan lanjutkan pembayaran sisanya jika tuan tidak setuju silahkan cari tempat yang lain.
Mendengar perkataan itu Jek Li hanya tersenyum dan segera mengeluarkan tambahan uang sebanyak 50 juta rupiah, jadi total semuanya yang di bayar untuk memotong ke 5 batu itu 80 juta rupiah, melihat hal tersebut pemilik kios semakin yakin jika pemuda yang membawa ke 5 batu ini bukan pemuda biasa hanya sedang ber pakaian sederhana saja. Buat Jek Li uang 80 juta tidak seberapa bila di bandingkan dengan harga giok yang terkandung di dalam ke lima batu itu.
__ADS_1
Setelah menerima biaya untuk pemotongan tersebut, Udin Ting segera menyiapkan segala sesuatu untuk memulai pemotongan, kemudian dia segera membuka pelan plastik itu, dia kemudian terdiam di tempat setelah melihat ke 5 batu di dalam kantong plastik.
"Tuan muda berapa banyak uang yang anda keluarkan untuk membeli ke 5 batu ini, beberapa menit yang lalu ada orang tua juga yang membawa batu hampir sama dengan batu yang kamu bawa ini, akan tetapi setelah aku memotong beberapa bagian giok yang di hasilkan itu sangat kecil dan harga batu giok itu tidak menutupi harga pembelian bahan awal. sepertinya batu kamu ini berasal dari tempat yang sama dengan orang tua itu.