Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Bintang jatuh


__ADS_3

Langit yang gelap sangat kontras dengan cahaya bintang yang bertaburan, membuatnya terlihat begitu indah bagi siapa saja yang memandangnya. Udara dingin dan suasana sunyi saat jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tak membuat sepasang mata dengan pupil abu-abu itu menghentikan pandangannya ke atas. Bibir mungil berwarna nude itu menampakkan senyum sekilas lalu mengucapkan sesuatu yang hanya dia dan Tuhan yang tahu saat ada kilatan cahaya yang muncul di antara kerlip bintang.


"Ya Tuhan, kapan aku bisa menikmati pemandangan indah ini dengan kekasihku?"


Sesaat dia menghela napas. "Konyol kamu Ris, ngarep banget punya kekasih ampe tiap liat bintang jatuh permohonannya itu-itu mulu, kebanyakan nonton drakor gini nih." Gumam gadis dengan postur tubuh mungil berkulit putih dengan rambut ikal sebatas dada itu pada dirinya sendiri.


Gadis yang masih betah berdiri dengan tangan memegang pagar balkon rumah sederhana berlantai dua dengan perpaduan cat warna coklat susu dan coklat tua itu menghela nafas lalu menundukkan kepalanya sendu. Terbersit rasa iri di hatinya ketika tiba-tiba mengingat teman-temannya kebanyakan sudah memiliki kekasih dan tampak begitu bahagia menikmati kebersamaan, saling bertukar pesan, dan saling memberi perhatian dengan kekasih mereka. Tak jarang dia harus bersusah payah terlihat tertarik dan terpukau ketika teman-temannya menceritakan momen romantis seperti kejutan ulang tahun dari kekasihnya atau diberikan hadiah, tapi bukan berarti dia tidak bahagia melihat temannya bahagia, hanya saja hatinya merasa sedih karena tidak bisa menceritakan hal serupa.


Gadis bernama lengkap Fairis Putri Ganendra yang biasanya dipanggil Riris adalah putri tunggal dari pasangan Arif Ganendra dan Hera Saputri. Dia tumbuh di lingkungan keluarga yang sederhana tapi bisa dibilang berkecukupan karena ayahnya merupakan kepala dinas Kementerian Sosial di provinsi tersebut dan bundanya seorang dokter spesialis anak yang membuka praktek di rumah demi tetap bisa mengurus suami dan anaknya. Gadis yang terkesan cuek tapi berubah menjadi periang dan cerewet didepan orang terdekatnya itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswi Jurusan Matematika di Universitas Tantra Mahesa, sebuah universitas negeri terbaik di kota tempat tinggalnya itu.


**********


Pagi ini tepatnya pukul delapan kurang lima belas menit, Riris telah berdiri di depan kawasan Fakultas Sains yang kurang lebih empat tahun kedepan akan menjadi tempatnya menimba ilmu demi memperoleh gelar sarjananya. Bersama dengan mahasiswa baru lainnya yang sama-sama memakai atribut ospek sesuai dengan arahan dari panitia dua hari sebelumnya, Riris memasuki gedung empat lantai dengan cat warna salem dan kuning gading itu.


"Hai, namaku Rosi, kamu siapa?" Tanya gadis di sebelah kiri Riris sesaat setelah dia duduk di tempat yang sudah disediakan untuk jurusannya.


"Aku Riris Mbak." Jawab Riris sambil menjabat uluran tangan Rosi.


"Panggil aja Rosi biar lebih akrab, oh ya kenalin ini Azki, moga kita bisa jadi temen deket ya." Ujarnya sambil mengarahkan pandangannya ke gadis di sebelah kirinya.

__ADS_1


"Riris." Dia mengulurkan tangannya ke Azki sambil tersenyum.


"Azki." Ucapnya lembut sambil menjabat tangan Riris.


Beberapa saat Riris memperhatikan dua teman barunya. Rosi memiliki postur tubuh tinggi dan berisi terlebih pada bagian dada dan pantat, gaya make up yang berani tapi tidak berlebihan dan cara berpakaiannya yang seksi memperlihatkan lekuk tubuhnya membuatnya terlihat sensual, kulitnya yang eksotis mempermanis penampilannya sehingga membuat siapapun yang melihatnya terpana, bahkan Riris yang perempuan saja iri melihatnya. Sedangkan Azki memiliki postur tubuh yang mirip dengan Riris, wajahnya tetap cantik meski dengan riasan natural seperti anak SMA, kulitnya putih pucat dan dilihat dari sikapnya terkesan kalau dia tipe gadis pendiam dan tidak banyak tingkah.


Setelah beberapa saat berbincang mereka bertiga terlihat begitu akrab. Riris merasa senang karena di hari pertamanya sebagai mahasiswa dia sudah mendapatkan teman yang cocok, padahal dia sempat khawatir akan susah mendapatkan teman yang cocok dengan kepribadiannya yang cenderung introvert itu.


Obrolan mereka bertiga terhenti ketika acara ospek dimulai. Di aula yang ditempati oleh mahasiswa baru dari sembilan jurusan itu, satu persatu panitia ospek yang merupakan mahasiswa senior fakultas tersebut memperkenalkan dirinya. Riris berusaha menghafal nama dan wajah kakak tingkatnya itu karena memang ingatannya bisa dibilang payah. Karena alasan itulah dia memilih jurusan matematika, menurutnya dalam matematika lebih banyak menggunakan logika, jadi asal logikanya jalan kemungkinan besar bisa memahami soal matematika, berbeda dengan biologi ataupun sejarah yang dituntut untuk menghafal materi.


Ketika tiba giliran salah satu senior untuk memperkenalkan dirinya, mata Riris melebar, nafasnya tertahan. Pria tinggi dengan postur ideal itu bukanlah pria yang paling tampan di antara panitia ospek yang lain, tapi entah kenapa di matanya pria itu terlihat begitu manis. Saking terpesonanya tanpa sadar Riris menyebut namanya lirih. "Mas Raffi."


Ya, pria dengan rambut cepak itu bernama Araffi Hardian, biasanya dipanggil Raffi, seorang mahasiswa semester tiga Jurusan Matematika, yang berarti kakak angkatan Riris.


Di dalam tim, masing-masing diminta untuk memperkenalkan diri oleh panitia pendamping yang sebelumnya telah memperkenalkan dirinya bernama Adi, yang ternyata adalah teman seangkatan dan satu jurusan dengan Raffi. Setelah acara perkenalan itu, kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan dari Adi mengenai kegiatan mereka selanjutnya.


**********


"Bro, ayo kita makan di kantin." Ajak Raffi yang tiba-tiba muncul sambil merangkul pundak Adi.

__ADS_1


Sontak Riris menatap ke arah mereka berdua dan tersenyum senang, pandangannya fokus menatap pria yang dari pertama kali dilihatnya sudah membuat jantungnya berdebar itu.


"Ris, kita cari Azki yuk." Suara Rosi mengalihkan tatapan Riris begitupun dengan kedua pria tadi.


Belum sempat Riris menjawab suara Adi menginterupsi. "Ris, Rosi, mau ikut kita makan di kantin gak?" Riris hanya bisa diam gara-gara saking gugupnya melihat Raffi ikut mendekatinya dan menatapnya.


"Emang Mas Adi mau makan dimana?" Tanya Rosi sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum ketika menatap ke arah Raffi.


"Kita mau makan di kantin, itu lho yang deket parkiran fakultas tadi."


"Oh, emang disana ada menu apa aja Mas?" Tanya Rosi lagi.


"Macem-macem sih ada siomay, soto, bakso, gado-gado, banyaklah, ikut kita aja yuk." Jelas Adi. "Oh ya kenalin ini Raffi, panitia dan juga kakak angkatan kalian, dia sekelas ma aku." Sambungnya sambil menoleh ke Raffi.


"Raffi." Ucap Raffi sambil mengulurkan tangannya ke Rosi.


"Rosi."


"Riris." Ucap Riris menyambut uluran tangan Raffi sambil menunduk.

__ADS_1


"Kita nyusul aja deh mas nanti, soalnya kita mau nyari temen kita dulu, eh itu Azki, Azkiii." Teriak Rosi sambil berlari mengejar Azki yang sedang berjalan keluar gedung fakultas meninggalkan Riris sendiri.


"Mas aku duluan ya." Pamit Riris buru-buru meninggalkan Adi dan Raffi mengejar Rosi.


__ADS_2