
Raffi yang mencoba menahan gairahnya yang mulai membara hanya diam tanpa mengatakan atau melakukan apapun, dia tidak membalas sentuhan Sasi maupun menolak sentuhan wanita di hadapannya yang mulai meraba dada bidangnya dengan nakal. Benar yang dikatakan Sasi, bahkan belum lama ketika Raffi bahkan sudah mengenal Riris, mereka berdua masih saling memuaskan hasrat mereka di ranjang meski tanpa ada ikatan di antara mereka berdua. Memang Raffi tidak pernah memulainya, tapi dia juga tidak pernah menolak setiap kali Sasi menyerahkan tubuhnya.
Sasi yang melihat Raffi hanya diam dan tidak ada penolakan sama seperti biasanya, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh bibir Raffi. Namun tepat sebelum Sasi mengecup bibir Raffi, pria itu memegang tangan Sasi yang hampir menyentuh miliknya yang semakin terlihat menonjol, dihempaskannya pelan tangan itu kemudian dia memundurkan tubuhnya menjauh dari Sasi.
"Aku mohon, jangan rendahkan dirimu lagi dengan melakukan hal seperti ini kedepannya, kalau kamu terus seperti ini, aku mungkin akan benar-benar menjauh darimu, atau bahkan memutuskan hubungan denganmu," kata Raffi sambil menunduk. Ada perasaan bersalah di hatinya ketika mengatakan hal itu. Dia merasa seperti memanfaatkan wanita di hadapannya itu ketika dia butuh, lalu mencampakannya begitu dia memiliki wanita lain.
Sasi yang kaget dengan penolakan Raffi yang tiba-tiba, menggelengkan kepalanya lalu tersenyum miris, "Taukah kamu Fi? Aku merasa seperti seorang pe***** yang kamu perlakukan dengan baik hanya saat kamu butuhkan, lalu kamu lupakan ketika kamu sudah menemukan pe***** lainnya," katanya dengan nada menahan amarah di hatinya.
Raffi yang mendengar Sasi seolah mengibaratkan Riris adalah pe***** lainnya merasa tidak terima, "Jaga ucapan kamu Sas, dia gadis baik-baik, sama sekali tidak seperti yang mungkin kamu pikirkan saat ini," katanya dengan suara lantang.
Sasi mendecih, "Gadis baik-baik? Apakah aku dulu bukan gadis baik-baik Fi? Bukankah aku juga menjaga kehormatanku sampai kau merenggutnya dengan paksa? Lalu dimana bedanya aku dan dia? Oh iya, bedanya hanya aku sudah korban dan dia calon korban," katanya dengan suara bergetar seolah menahan sakit yang dia tahan di hatinya.
Raffi terdiam kehilangan kata, apa yang dikatakan Sasi ada benarnya, dialah yang merenggut kehormatannya secara paksa. "Tapi aku sudah mengakhirinya Sas, kamu sendiri yang datang lagi padaku, apakah itu juga salahku?" katanya dengan nada selembut mungkin takut wanita di hadapannya itu tersakiti akan ucapannya.
Giliran Sasi yang terdiam, dalam hal itu memang dirinya yang bersalah, "Tapi kamu juga menikmatinya, dan tidak menolaknya," katanya lirih berusaha membela diri.
"Bisakah kita hentikan di sini Sas? Bisakah aku mulai menjalani hidupku tanpa bayang-bayang kesalahanku di masa lalu?" tanya Raffi.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Sasi merasa tidak terima dengan pertanyaan Raffi.
__ADS_1
"Apakah aku harus terus bertanggungjawab terhadap hidupmu Sas? Tidakkah kamu merasa selama ini kamu sudah keterlaluan terhadapku? Aku diam karna aku masih menghargaimu sebagai wanita yang dulu begitu berarti bagiku. Ketika kamu sering berselingkuh dariku dan bahkan ber***** dengan mereka aku masih diam dan menerimamu. Ketika kamu memutuskan menggugurkan kandunganmu tanpa berdiskusi denganku dan berakhir pada kondisimu yang seperti saat ini, hingga semua orang menyalahkanku padahal belum tentu anak yang ada di dalam kandunganmu waktu itu benar adalah anakku atau bukan, aku juga hanya diam tanpa membela diriku hanya karna memikirkan perasaanmu. Tapi kali ini aku tidak akan memikirkan orang lain lagi Sas, aku juga ingin bahagia dengan orang yang aku cintai. Jadi bila kamu akan terus bersikap seperti ini, mulai saat ini lebih baik lupakan aku dan jangan pernah temui aku," kata Raffi meninggalkan Sasi dengan wajah penuh amarah.
Sasi menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk di lantai, kakinya terasa lemas karena merasa begitu terguncang dengan apa yang baru saja dia dengar. Selama ini dia pikir Raffi hanya tau bahwa dia berselingkuh sekali dengan pria lain, dia tak menyangka Raffi tahu dia telah menyelingkuhinya berkali-kali bahkan sampai ber***** dengan pria-pria itu, hebatnya Raffi tetap bersikap baik terhadapnya dan berpura-pura seolah tidak mengetahuinya. Dan hal yang selama ini dia takutkan terjadi, Raffi meragukan janin yang ada dikandungannya dulu benar anaknya atau bukan. Bahkan Sasi juga tidak tau siapa ayah bayi itu, karna itulah dia memilih menggugurkannya agar nantinya tidak akan menjadi masalah yang akan membuat Raffi meninggalkannya. Dadanya terasa begitu sesak, perlahan air matanya lolos membasahi pipinya. Nafasnya semakin tercekat ketika mengingat nada bicara Raffi yang begitu kasar, itu adalah pertama kalinya Raffi menunjukkan amarah sebesar itu, Raffi yang dia kenal adalah pria yang begitu manis dan lembut kepadanya. "Apakah aku memang keterlaluan sampai kamu semarah ini Fi? Aku hanya ingin kita saling memiliki seperti dulu, aku tidak punya kepercayaan diri lagi untuk bisa dicintai pria lain terlebih dengan keadaanku yang seperti ini," kata Sasi sambil mengusap air matanya yang tak mau berhenti membasahi pipinya.
"Aku tidak boleh menyerah, kalau kamu tidak mau meninggalkannya, akan aku buat gadis itu yang meninggalkanmu Fi," gumam Sasi lirih lalu beranjak dari duduknya dan bergegas keluar dari apartemen Raffi.
**********
"Hei, bengong aja, muka kamu semrawutnya udah ngalah-ngalahin ibu negara tau," ledek Putra saat melihat Riris terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil merebahkan kepalanya menghadap ke kiri pada lengan kanannya yang dia rentangkan di atas meja.
"Iyalah, coba ibu negara juga ketemu sama Om, mungkin mukanya lebih semrawut dari aku," balas Riris sambil menjulurkan lidahnya.
"Iya, Om mangsanya, cuma bedanya kalo uler matok kalo aku gini," kata Riris sambil melayangkan tangannya di udara seolah bersiap memukul kepala Putra.
"No..no..no..kamu pegang tangan orang aja bisa patah gimana mukul kepala, bisa ilang dari peradaban aku," kata Putra dengan raut wajah seolah benar-benar ketakutan.
Melihat ekspresi Putra Riris tertawa terpingkal-pingkal, entah darimana Putra tahu soal itu. "Jangan bilang Om takut sama aku?" tanya Riris dengan raut menahan tawa.
"Iya, takut jatuh cinta," goda Putra. "Aw" jeritnya saat Riris memukul bahu Putra.
__ADS_1
"Idih...gitu aja kesakitan, payah sih Om," ejek Riris. "Om kok bisa tau aku di sini?" tanyanya.
"Gak sengaja liat tadi, trus nyamperin, sayang kan ada cewek manis dianggurin gak digodain," kata Putra sambil menaik turunkan alisnya. Riris hanya mendecih dan meraih sedotan dalam gelas di depannya kemudian menghisapnya. "Kenapa sendirian di sini?" tanya Putra.
"Aku gi pusing Om," jawab Riris lirih.
"Kenapa emang?" tanya Putra lagi.
"Entahlah," kata Riris lalu menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya bertumpu di atas meja sambil memegang kepalanya.
Putra yang melihat Riris terlihat begitu frustasi hanya menepuk-nepuk pelan bahu Riris.
#
#
#
Hai readers...author ucapin terimakasih ya buat yang udah bersedia luangin waktu buat baca novel author. Tolong tetap dukung author ya dengan like dan komen kalian, terimakasih.
__ADS_1