Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Rencana Yola


__ADS_3

"Sayang kamu dimana?" tanya Yola setelah Vano mengangkat panggilan teleponnya.


"Vano di rumah ma,"


"Setengah jam lagi mama tunggu di Canting Restaurant ya," kata Yola lalu memutus panggilannya. "Kamu harus liat maha karya mama Vano, lihatlah calon menantu mama cantik banget, padahal cuma dipoles sedikit," gumamnya mengagumi penampilan Riris yang memakai pakaian, sepatu, tas, perhiasan, model riasan, dan model rambut pilihannya.


"Udah siap sayang?" tanya Yola melihat Riris mendekatinya malu-malu.


"Tante, kenapa Riris harus berdandan kayak gini sih?" tanya Riris yang merasa tidak nyaman dengan penampilannya yang sudah seperti akan pergi ke pesta.


"Kan tante mau lihat, bagus gak barang-barang yang tante pilihin tadi pas kamu pakai, ternyata sesuai dengan yang tante bayangkan, kamu cantik banget," serunya girang. "Yuk sekarang kita pergi makan malam," ajak Yola yang menggandeng tangan Riris keluar dari salon.


Sesampainya di restoran, Yola mengajak Riris menuju sebuah meja yang sebelumnya sudah dia reservasi. Tampak meja itu tak lagi kosong karena ada sosok pria tampan sedang duduk sambil menatap layar ponselnya.


"Udah nunggu lama sayang?" tanya Yola ke pria itu lalu duduk di depannya.


Mendengar suara mamanya Vano mengalihkan pandangannya ke depan. Baru mau menjawab pertanyaan mamanya Vano terdiam karena terkejut dengan keberadaan gadis yang kemarin terlihat menggemaskan sekarang tampak mengagumkan.


Yola tersenyum melihat ekspresi putra satu-satunya itu begitu melihat Riris, karena tujuannya tercapai, yaitu membuat Vano terpesona kepada Riris.


"Gimana hasil karya mama? Cantik banget kan?" ucap Yola penuh kebanggaan. "Kamu duduk dong sayang jangan berdiri aja," perintah Yola yang melihat Riris tak kunjung duduk. "Eits kamu duduknya di sebelah Vano sayang, kamu gak liat kursi ini penuh dengan barang-barang tante?" tegur Yola saat Riris mau berjalan menuju kursi di sebelah Yola.


Yola tersenyum licik ketika Riris dan Vano sudah duduk berdampingan. "Jangan tegang gitu dong, kalian tu kayak pasangan pengantin yang dipajang di altar aja," goda Yola.


Vano menghela nafas melihat kelakuan mamanya. Sekarang dia tau apa tujuan mamanya menyuruhnya tiba-tiba datang ke restoran sampai mengirim pesan ancaman kalau sampai dia tidak datang.


"Pasti sebentar lagi mama akan menunjukkan aktingnya yang buruk itu," kata Vano dalam hati.

__ADS_1


Yola terlihat sibuk berbalas pesan dengan seseorang, tak berapa lama ponselnya berdering.


"Hallo pa, ada apa?" tanya Yola.


"Apa? Papa kesleo? Kepleset di kamar mandi?" Yola terlihat memasang raut wajah khawatir dan menutup mulutnya. "Oke-oke mama pulang sekarang ya pa,"


"Om Juna kenapa tante?" tanya Riris dengan wajah khawatir setelah mendengar percakapan Yola.


"Papanya Vano kepleset di kamar mandi jadi kesleo, tante pulang duluan ya sayang, kamu lanjutin aja makan malamnya sama Vano, nanti biar pulangnya dianter Vano," ucap Yola sambil meraih tasnya lalu beranjak dari duduknya.


"Riris ikut tante aja, Riris juga khawatir sama om," kata Riris yang hendak beranjak dari tempat duduknya.


"No..no..sayang, om gak kenapa-kenapa kok, biar tante aja yang urus, kalian berdua lanjutin aja makannya, sayang kan kalo gak dimakan udah terlanjur pesan banyak makanannya, oke? bye sayang," pamit Yola lalu buru-buru meninggalkan mereka berdua.


"Kak, kok kakak diam aja sih, kakak gak khawatir sama keadaan om?" tanya Riris yang heran Vano justru tetap melanjutkan makannya dengan santai.


Riris yang bisa menatap muka Vano dari jarak yang begitu dekat begitu terpesona, jantungnya berdebar, saking gugupnya dia termangu.


"Kok malah bengong? Ayo buruan dihabisin, kamu mau kita bermalam di sini?" kesal Vano.


"Iya kak, ini juga mau makan," kata Riris lalu mulai melahap makanannya.


Keduanya menikmati makanan mereka dalam diam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Setelah makanan mereka habis, Vano mengantar Riris pulang ke rumahnya.


"Kamu keliatannya deket sama kakek," ucap Vano tanpa mengalihkan pandangannya ke Riris.


Riris yang ragu ucapan Vano itu ditujukan ke dirinya atau bukan diam sambil memperhatikan apakah Vano sedang melakukan panggilan telepon atau tidak.

__ADS_1


"Hei, aku gi ngomong sama kamu," lanjut Vano sambil menatap Riris sekilas, sepertinya Vano paham apa yang ada di pikiran Riris.


"Soalnya dulu waktu aku masih kecil kakek yang sering ngajak aku main kak, sering beliin hadiah juga, jadi aku dah anggep kakek Cipto kayak kakek aku sendiri," jelas Riris.


"Oh," cuma itu tanggapan yang keluar dari mulut Vano, setelah itu suasana kembali hening tanpa ada percakapan di antara mereka.


"Biasanya kalo ada cewek di deket gue pada berisik gimana caranya buat narik perhatian gue, tapi ni cewek kenapa kalem gini, masak iya gue gak menarik di mata dia, hah apa urusannya dia tertarik ma gue apa gak, malah bagus kalo dia gak tertarik, jadi gue gak perlu nyari cara buat batalin perjodohan itu," kata Vano dalam hati.


"Kenapa liat kak Vano berasa nonton drakor sih, tampan tapi sikapnya dingin, gak kayak mas Raffi yang manisnya kebangetan, oh iya dari tadi aku malah sama sekali gak ngecek pesan, jangan-jangan mas Raffi kirim pesan," batin Riris lalu buru-buru mengecek ponselnya. "Ternyata gak ada, mungkin mas Raffi juga lagi sibuk".


**********


"Fi, bangun yuk, aku udah siapin makan buat kamu, dari tadi siang kamu kan belum makan, nanti kamu sakit," bujuk Sasi sambil menepuk bahu Raffi yang sedang berbaring memunggungi Sasi.


Raffi sengaja mengurung diri di kamar agar Sasi segera pergi dari apartemennya, tapi nyatanya sampe malam pun Sasi masih enggan beranjak dari apartemennya. Raffi lelah berdebat dengan Sasi, bagaimanapun Raffi memberikan penjelasan tetap saja Sasi menganggap kalau semua yang terjadi atas dirinya adalah kesalahan Raffi. Memang selama ini Sasi sudah terbiasa keluar masuk apartemen Raffi karena Sasi tau password untuk masuk ke apartemennya, bahkan terkadang merengek untuk diperbolehkan menginap, karena ada kamar kosong di apartemennya maka Raffi dengan terpaksa mengijinkannya. Tapi tidak untuk sekarang, karena ada hati yang harus dia jaga agar tidak tersakiti karena perbuatannya.


"Sas, ini sudah malam, lebih baik kamu pulang," kata Raffi yang melihat Sasi masih duduk di ranjangnya sambil memainkan ponselnya.


"Aku mau menginap di sini," kata Sasi dengan tersenyum.


"Kamu lupa permintaan aku? Tolong jaga sikap kamu Sas, aku sekarang punya kekasih, aku gak mau dia sampai tersakiti karna sikap kamu," kata Raffi, tampak kekesalan dari nada bicaranya.


"Baguslah...biar dia ninggalin kamu jadi aku gak perlu susah-susah bikin dia pergi ninggalin kamu," ucap Sasi dengan santainya.


Tangan Raffi terkepal, raut wajahnya terlihat menahan emosi, "Oke, kalau gitu biar aku yang pergi," kata Raffi sambil meraih dompet, ponsel, kunci mobil, dan jaketnya lalu berjalan keluar dari apartemennya. Dia tidak memperdulikan Sasi yang berusaha menghalanginya keluar dari apartemen.


"Raffi...kamu gak boleh pergi, aku bilang berhenti...Raffiiiiiii...," teriak Sasi saat pintu lift yang ditumpangi Raffi tertutup.

__ADS_1


__ADS_2