
Riris berjalan menuju Fakultas Sains sambil melamun, dia masih bertanya-tanya apa maksud ucapan Vano kemarin.
"Aku sudah mendapatkan pertunangan yang aku inginkan....karena pasanganku nanti adalah kamu"
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Apakah itu artinya Kak Vano memang menginginkan aku menjadi tunangannya? Kak Vano suka sama aku? Apa itu mungkin?" tanya Riris dalam hati.
Riris tersentak ketika tiba-tiba ada yang memegang pergelangan tangannya.
"Mas Raf..fi," ucap Riris terbata.
"Bisakah kita bicara? Mas mohon," kata Raffi.
Riris melepas pegangan tangan Raffi dengan tangan satunya.
"Maaf Mas, aku buru-buru, ada kelas," tolak Riris.
"Mas akan nunggu kamu di sana," kata Raffi sambil menunjuk kursi di dekat parkiran.
Riris diam sesaat. Dia merasa sudah jelas-jelas mengakhiri hubungan mereka beberapa hari yang lalu, jadi tidak ada yang perlu mereka bicarakan lagi. Tapi melihat wajah Raffi, Riris benar-benar tidak tega, Riris tahu bahwa mantan kekasihnya itu dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.
"Ya, aku ke kelas dulu," kata Riris sambil berlalu meninggalkan Raffi.
**********
"Apakah kamu benar-benar menyerah dengan hubungan kita?" tanya Raffi sambil menatap Riris dengan raut sedih yang terlihat begitu jelas.
Riris masih terdiam. Dia sedang menguatkan hatinya agar tidak menangis. Bagaimanapun dia masih sangat mencintai pria di hadapannya itu. Dia sangat merindukan kebersamaan dengan Raffi, merindukan pria itu, bahkan ingin memeluk pria itu dan menangis di pelukannya.
"Maaf, saat ini menurutku hanya itu pilihan yang terbaik," kata Riris sambil mengepalkan kedua tangannya erat, berharap dengan begitu dia tidak akan goyah dengan keputusannya.
"Yang jelas bukan terbaik untuk kita. Kita saling mencintai, kenapa harus berkorban untuk orang lain?" kata Raffi menatap Riris dengan sorot kecewa.
"Orang lain itu butuh pertanggungjawaban Mas, keadaan Sasi bisa seperti sekarang itu karena perbuatan Mas," jawab Riris sendu.
"Mas udah gak cinta sama dia," kata Raffi lirih.
__ADS_1
"Tapi dia masih sangat mencintai Mas..."
"Mas juga tau kamu masih sangat mencintai Mas," potong Raffi.
"Tapi keadaanku tidak membutuhkan pertanggungjawaban Mas, tidak seperti dia, dia sudah kehilangan hal yang paling berharga bagi seorang wanita, dan itu karena Mas, sudah seharusnya sejak awal Mas bertanggungjawab terhadapnya," jelas Riris. "Aku akui, aku masih sangat mencintai Mas, tapi sampai kapanpun aku tidak akan bersikap egois dengan berbahagia bersama Mas di atas penderitaannya. Terlepas nantinya Mas akan bersama Sasi atau tidak, setidaknya bukan aku wanita yang merebut pria yang seharusnya bertanggungjawab kepadanya. Jadi aku mohon, bantu aku melupakan perasaanku dengan tidak mengungkit hubungan kita lagi Mas," lanjutnya.
Raffi tersenyum getir. "Tadinya Mas berharap kemarin kamu cuma marah sesaat dan tidak benar-benar serius dengan keputusanmu, tapi mendengar kamu memang berencana melupakan perasaanmu ke Mas, Mas rasa kamu memang serius," kata Raffi sambil menunduk.
"Maaf," ucap Riris lirih. Dia benar-benar sedih melihat pria yang begitu dia cintai itu terlihat putus asa.
"Andai Mas benar-benar menjauhimu, apakah kamu akan baik-baik saja?" tanya Raffi.
"Awalnya mungkin tidak, tapi aku yakin kedepannya aku akan baik-baik saja. Terlebih jika aku hanya mendengar kabar baik tentang Mas, bukan sebaliknya, maka aku akan selalu baik-baik saja dan tidak menyesali keputusanku saat ini," jawab Riris.
"Mas mengerti, tapi satu hal yang harus kamu ingat, ketika kamu tahu Mas masih sendiri, dan kamu ingin kembali, datanglah, meski saat itu Mas sudah berhasil melupakan cinta Mas ke kamu, Mas yakin kehadiranmu akan membuat Mas mudah untuk mengingat cinta itu kembali," kata Raffi dengan mata berkaca-kaca. "Semoga kamu selalu dikelilingi kebahagiaan dimanapun kamu berada," lanjutnya lalu berdiri dan meninggalkan Riris yang terdiam dengan bahu bergetar berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.
Setelah sosok Raffi menghilang dari pandangannya, Riris buru-buru berjalan menuju mobilnya dan menangis meluapkan rasa yang bergemuruh di dadanya.
**********
"Sayang, Bunda kira kamu tidur, Bunda ketok pintu dari tadi kamunya gak nyaut, ternyata di sini," kata Hera menyadarkan Riris yang melamun sambil memegang pagar balkon. "Lagi liatin apa sih sayang?" tanyanya lagi.
"Ada Vano tu di bawah nyariin kamu," kata Hera.
"Hah? Ini jam berapa Bunda kok Kak Vano nyari Riris, ada perlu apa?" tanya Riris kaget bercampur heran.
"Memang harus ada keperluan khusus ya buat seseorang nemuin calon tunangannya?" goda Hera.
"Uhuk..uhuk.." Riris tersedak karena kaget mendengar kata calon tunangan keluar dari mulut Bundanya.
"Udah yuk turun, kasihan Vano kelamaan nunggunya, lagian Bunda heran, bisa-bisanya kamu gak sadar pas mobil Vano masuk ke pekarangan," kata Hera sambil menuntun Riris menuju ruang tamu.
Melihat kedatangan Riris Vano tersenyum tipis, meski aura dingin masih tampak di wajahnya, senyum itu mampu membuat Riris terpesona.
"Belum juga tidur udah mimpi aja bisa liat Kak Vano senyum semanis itu," kata Riris dalam hati.
"Tante, Vano boleh ajak Riris keluar jalan-jalan?" tanya Vano sambil mengarahkan pandangannya ke Hera.
__ADS_1
"Tentu saja, asalkan kamu yang bawa Tante percaya," kata Hera sambil tersenyum. "Kok malah bengong sih sayang, buruan ganti baju, masak Vano udah sekeren ini kamunya mau kucel gini, malah dianggap pembantunya nanti," protes Hera melihat putrinya hanya diam.
**********
"Kak Vano mau ajak aku kemana?" tanya Riris ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Nonton, jalan-jalan, shopping, makan, terserah kamu lebih suka yang mana," jawab Vano.
"Boleh semuanya?" tanya Riris berniat menggoda Vano.
Vano menoleh sekilas ke arah Riris lalu mengangguk ragu-ragu. "Terserah kalau kamu bersedia pulang lewat tengah malam," jawab Vano santai.
"Kenapa Kakak berubah jadi baik gini?" kata Riris membuat Vano mengerutkan dahinya. "Maksud aku bukan karena Kakak biasanya gak baik, cuma kenapa Kakak yang biasanya cuek bisa berinisiatif ngajak aku jalan-jalan?" lanjut Riris.
"Rendra ngajakin jalan, tapi dia ngajak Rosi, gak mungkin kan aku bertiga aja ma mereka," jelas Vano.
"Ooh..." kata Riris dengan nada kecewa. Jelas bukan itu jawaban yang dia harapkan. "Sepertinya imajinasiku terlalu tinggi," kata Riris dalam hati.
"Itu mereka berdua," kata Vano sambil memarkir mobilnya di samping mobil Rendra.
"Rosiiii," teriak Riris girang sambil berlari dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Yaelah Beb, kayak gak ketemu berapa tahun aja, girang bener, baru juga beberapa jam gak ketemu," ledek Rosi.
"Seneng aja bisa jalan bareng ma kamu," kata Riris sambil tersenyum.
"Aku juga seneng banget, makasih ya Beb, berkat kamu aku bisa jalan bareng Mas Rendra," bisik Rosi.
Riris hanya mengerutkan dahinya tak mengerti, "Kok berkat aku, bukannya Mas Rendra yang ngajakin jalan bareng?".
"Hai Ris," sapa Rendra.
"Hai Mas," balas Riris.
"Van, jadinya kita kemana dulu?" tanya Rendra saat Vano berjalan ke arah mereka.
"Tanya aja ke mereka berdua," jawab Vano sambil mengangkat dagunya ke arah Riris dan Rosi.
__ADS_1
"Hai Pak Vano, makasih ya udah ngajakin kita jalan," sapa Rosi membuat Vano panik.
"Ehm..ehm..mending kita langsung masuk," kata Vano berusaha mengalihkan perhatian mereka. Tapi melihat Riris yang menatapnya penuh tanya, Vano yakin Riris telah sadar bahwa dia telah membohonginya soal alasannya mengajak Riris jalan-jalan.