
Rosi dan Riris yang baru saja masuk ke ruang kelas melihat Azki sudah duduk di salah 1 kursi sambil memainkan ponselnya.
"Hai Beb," sapa Rosi lalu duduk di sebelah kanan Azki.
Melihat Azki hanya diam dan tak mengalihkan tatapannya dari ponselnya membuat Rosi dan Riris saling pandang seolah saling bertanya, ada apa dengan sahabat mereka itu, apakah dia marah kepada mereka berdua.
"Beb, kok kita dicuekin sih?" tanya Rosi lagi sambil mengguncang pelan lengan Azki.
"Emang kenapa kalo aku cuekin? Ada masalah?" tanya Azki dengan raut wajah datar.
"Beb, kamu marah ya ke kita berdua?" tanya Rosi dengan nada sedih.
Riris yang menerka Azki marah karena kemarin sewaktu di Jogja dia dan Rosi seolah mengacuhkan Azki dengan pergi jalan-jalan berdua saja tanpa mengajak dirinya, bahkan pulang ke Jakarta juga berdua, merasa bersalah pada sahabatnya itu.
"Maaf ya sayang, bukan maksud kita nyuekin kamu, tapi kita bisa jalan berdua juga gak direncana, ya kan Ros?" kata Riris meminta Rosi membenarkan ucapannya.
"Iya Beb, soal aku yang ninggalin kamu aku minta maaf, aku salah, masalahnya aku pikir itu kesempatan yang bagus buat aku...emm...emm," Rosi tampak mempertimbangkan kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang dia maksud sambil menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Huh...kenapa di sini jadi kayak aku sih yang jahat, gak pengertian ma kalian berdua," kesal Azki.
"Makanya udahan dunk marahnya sayang, kita kangen ma Azki yang ramah kayak biasanya," kata Riris sambil memeluk Azki lalu memperlihatkan muka memelas.
__ADS_1
"Iya Beb, aku takut liat muka kamu yang kayak gitu, kayak muka garang ibu penjual yang marah karna jualannya cuma diacak-acak tapi gak dibeli," sahut Rosi.
Mendengar ucapan Rosi dan mimik mukanya yang polos seolah dirinya mengatakan hal itu karena memang bener-benar pernah melihatnya, Riris dan Azki sontak tertawa.
"Nyebelin, masak muka aku kamu samain ma ibu penjual," kata Azki masih tertawa.
Rosi tersenyum senang karena Azki terlihat sudah tidak marah lagi. "Lha emang bener kok tadi muka kamu kayak gitu, makanya besok-besok jangan marah lagi kayak tadi," kata Rosi.
"Abisnya kalian nyebelin, katanya mau liburan bertiga, ujung-ujungnya aku ditinggal sendirian, kalian berdua malah asyik jalan-jalan berdua, jahat," kesal Azki.
"Beb, kita bisa jalan berdua itu gak sengaja," kata Rosi. Lalu dia menceritakan kejadian sewaktu di Jogja mulai dari bagaimana dia bisa jalan berdua bersama Riris, juga tentang dia dan Riris yang menghajar kawanan preman yang berniat merampas ponselnya.
Azki yang mendengarkan cerita Rosi menutup mulutnya yang refleks menganga karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku cuma pernah liat foto Riris yang pake baju taekwondo sewaktu dia kecil pas kita main ke rumahnya, makanya aku pikir dia bisalah ngadepin preman itu sementara sambil ngulur waktu sampe aku beresin dua preman yang lainnya, ternyata gak kusangka gadis rapuh ini jago banget. Siapapun yang ngliat dia kan kayak sekali sentil jatuh gitu, tapi kalo kamu liat dia pas bikin tangan dan kaki preman itu patah pasti kamu jadi takut ma dia Ki, aku aja ngeri," Rosi bergidik ngeri sambil memegang kedua lengannya teringat raut kesakitan dan jeritan para preman saat Riris mematahkan tangan dan kaki mereka.
Riris memukul bahu Rosi cukup keras, "Kamu itu yang mengerikan, bikin muka preman itu pe bonyok gak berbentuk," kata Riris gak terima dibilang mengerikan oleh sahabatnya. "Lagian aku meski gimana coba secara aku pake rok, gak mungkin kan aku berkelahi ma mereka, yadah jalan pintasnya bikin tangan dan kaki mereka patah deh," lanjutnya santai.
Mendengar alasan Riris memilih mematahkan tangan dan kaki para preman hanya karena malas berkelahi membuat wajah Rosi dan Azki sama-sama pias. Mereka tak menyangka sahabat yang mereka pikir bahkan tak berani menyakiti seekor semut bisa sangat mengerikan seperti itu.
"Kenapa muka kalian seperti itu? Jangan bilang kalian jadi takut ma aku?" tanya Riris memperhatikan wajah kedua sahabatnya. Melihat mereka berdua terlihat susah menelan salivanya, Riris sadar bahwa kedua sahabatnya itu menganggap dirinya benar-benar mengerikan. "Hei ayolah, aku baru pertama kali kayak gitu, itu juga karna terpaksa, kalian jangan bikin aku seolah orang yang mengerikan dong, sedih deh," katanya dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Hehe...gak kok Beb, gak gitu, kita berdua cuma terkejut aja, kamu gak mengerikan kok," kata Rosi. "Tapi benar-benar mengerikan," lanjutnya dalam hati.
"Iya kita gak takut kok ma kamu," sahut Azki. "Tapi aku ngeri," lanjutnya dalam hati. "Udah ah ganti topik, oh ya gimana Ros usaha kamu buat deketin Mr. Seksi, ada hasil?" tanya Azki berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Mr. Seksi?" tanya Riris yang tidak paham siapa yang dimaksud Azki.
"Loh, emang dia gak cerita Ris gimana dia bisa berdua sama Pak Rendra?" tanya Azki.
Riris menutup mulutnya yang menganga karena terkejut, "Ya Tuhan, jadi alasan kamu bisa bareng Kak Rendra karna kamu gi deketin dia Ros? Aku pikir karna memang Kak Rendra berbaik hati nganterin kamu ke suatu tempat. Kamu suka sama Kak Rendra? Sejak kapan?" tanya Riris.
"Kenapa kamu jadi kayak wartawan sih Beb nanyanya kayak kereta api lewat, panjaaang gitu," kesal Rosi.
"Lha abisnya kamu gak cerita soal itu, aku kan jadi penasaran sayang," jawab Riris.
"Aku sebenarnya liat Mas Rendra pertama kali bukan di perusahaan, tapi udah beberapa tahun yang lalu di sasana yang biasanya dipakai Papa buat latihan. Pertama kali liat dia latihan aku udah tertarik, makanya akhirnya aku setuju ma permintaan Papa buat latihan tinju biar aku bisa ketemu ma Mas Rendra. Tapi sayangnya dia udah gak pernah keliatan. Makanya waktu ketemu dia lagi pas tanda tangan kontrak aku seneng banget," kata Rosi dengan muka berseri-seri.
"Trus sekarang ada kemajuan gak?" tanya Riris.
Rosi menghela nafasnya, "Huh tu cowok kayak belut, susah buat dipegang. Biasanya tanpa aku nglakuin apapun kan cowok-cowok pada tertarik gitu ma aku, nah aku dah nglakuin banyak hal buat narik perhatiannya tapi dia tu cuek banget Beb, makanya aku jadi males, tapi makin penasaran juga ma dia," kata Rosi terlihat putus asa.
Suasana menjadi hening beberapa saat karena Riris maupun Azki bingung apa yang harus mereka katakan untuk menghibur sahabatnya yang terlihat sedih itu. Riris hanya memeluk Rosi untuk menguatkan dan memberikan semangat bagi sahabatnya itu. Sedangkan Azki tampak menepuk-nepuk pelan bahu Rosi seolah menenangkannya. "Oh iya, kamu belum cerita, gimana kemarin pas sama Mas Ervan? Ada hal istimewa yang terjadi?" kata Rosi sambil menatap ke arah Azki mencoba mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Mas Ervan? Kenapa di sini seolah aku yang dikucilkan karna banyak hal yang aku tidak tau?" keluh Riris.
Rosi terlihat hanya terkekeh melihat raut kesal Riris, sedangkan Azki terlihat gugup seolah sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.