
Sore ini Riris dijemput oleh Rosi, Azki, dan Lia untuk pergi ke mall merayakan keberhasilan presentasi mereka hari ini. Sesampainya di lobby mereka melihat sosok Putra dan Anton yang sedang duduk di sofa sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
"Hei..semangat banget yang pada mau jalan ma cewek-cewek cantik, udah nunggu berapa jam?" canda Rosi.
"Nunggunya sih baru 10 menit, tapi persiapannya udah dari 5 jam yang lalu, secara mau jalan ma bintang iklan gitu jadi harus ke salon, butik, mani pedi," kata Putra dengan kemayunya menggoda Rosi.
"Bintang iklan itu baru aja dikontrak senilai ratusan juta lho guys, jadi malam ini jangan sungkan, ayok kita puas-puasin obrak-abrik isi mall, biar bintang iklan kita yang bayarin," canda Riris sambil tertawa.
"Gila...beruntung banget kamu Ros, godain pemilik perusahaan mana kamu pe dapet kontrak bernilai fantastis gitu?" goda Anton.
"Mulut lo perlu gue pajang jadi rak sepatu di rumah deh kayaknya biar lebih guna, asal jeplak aja," kesal Rosi.
"Becanda Ros, gitu aja ngambek," kata Anton yang melihat raut muka Rosi berubah kesal.
"Udah, jangan berantem, malu dilihat pengunjung lain" kata Azki yang melihat Rosi memukul lengan Anton.
"Iya ayuk buruan, udah hampir jam setengah 3 nih, keburu filmnya dimulai" sambung Lia mengingatkan teman-temannya.
Mereka berenam berjalan beriringan menuju lantai 3, begitu sampai di bioskop Putra dan Anton menuju loket pembelian tiket sedangkan Riris, Rosi, Azki dan Lia membeli cemilan.
Putra yang niatnya membeli tiket film horor dan sengaja memilih tempat duduk di sebelah kiri Riris bermaksud agar tercipta suasana romantis seperti di film-film, yaitu saat pemain cewek ketakutan dia akan memeluk cowok di sampingnya, harus merasakan kecewa. Sebab Riris justru memeluk Azki yang berada di sebelah kanannya. Sedangkan Lia dibuat kesal karena tidak bisa menikmati film itu gara-gara kelakuan Anton. Siapa yang menyangka pria yang terlihat gagah itu takut menonton film horor, sehingga berkali-kali Lia dibuat terkejut bukan karena adegan di film, melainkan karena tiba-tiba Anton memeluknya karena ketakutan. Lia merasa kesal kepada Anton karena menurutnya Anton hanya pura-pura ketakutan untuk mengambil kesempatan memeluknya, padahal Anton memang benar-benar takut dengan hantu.
Selesai menonton film mereka berenam berencana makan malam di sebuah restoran makanan korea yang letaknya di lantai 1. Lia yang masih merasa kesal berjalan paling depan dengan mulut yang masih betah mengomel, Azki dan Rosi berjalan mengapitnya dan berusaha meredakan kekesalan temannya itu, sedangkan Putra berjalan berdampingan dengan Anton yang mengekor di belakang Lia. Sedangkan Riris berjalan paling belakang mengikuti kelima temannya. Ketika iseng melihat-lihat sekitar, pandangan Riris terpaku pada sepasang pria dan wanita muda yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan mesra. Sejenak Riris menghentikan langkahnya dan mencoba menenangkan dirinya yang merasakan sesak dan perih bersamaan di dadanya. Tapi rasa penasaran membuat Riris membalikkan badannya dan berjalan mengikuti sepasang pria dan wanita yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
Dilihatnya dari kejauhan sepasang pria dan wanita tadi masuk ke dalam toko tas, sang pria terlihat berjalan mengikuti kemanapun langkah sang wanita. Tak berapa lama terlihat sang wanita membawa sebuah tas yang terlihat mahal ke kasir, lalu sang pria mengeluarkan kartu dari dompetnya untuk membayarnya. Setelah keluar dari toko tas sang wanita mencium pipi sang pria dengan mesra yang dibalas oleh sang pria dengan belaian lembut di kepala sang wanita. Tanpa disadarinya, air mata Riris jatuh membasahi pipinya, sejenak ia terpaku di tempatnya berdiri, banyak pemikiran-pemikiran buruk melintas di kepalanya, dan semuanya menyakitkan baginya.
"Bukankah mas Raffi gak punya adik perempuan? Kalau wanita itu saudaranya, apakah mungkin semesra itu? Atau sebenarnya memang mereka memiliki hubungan? Dan disini akulah yang salah paham terhadap kebaikan mas Raffi selama ini?" gumamnya lirih.
Dering suara ponsel menyadarkan Riris yang terpaku pada pikirannya yang melayang entah kemana.
"Ya Ki," jawab Riris berusaha menormalkan suaranya yang bergetar sambil mengusap air matanya.
"Kamu dimana Ris, kita udah di restoran kamunya malah ngilang," tanya Azki, suaranya menyiratkan ada kekhawatiran.
"Oh maaf aku mampir ke toilet barusan, bentar lagi aku nyusul," bohong Riris.
"Oke kita tunggu Ris,"
**********
Seperti biasanya malam ini ada pesan masuk dari Raffi.
"Hai Ris, gi apa?"
Riris hanya membaca pesan itu dan tidak buru-buru membalas seperti malam-malam sebelumnya. Dia masih bingung harus bagaimana menyikapi apa yang dilihatnya tadi sore di mall. Dia takut ketika dia terus berhubungan dengan Raffi, dia akan makin berharap, lalu ketika apa yang dia khawatirkan memang sesuai dengan kenyataan, maka rasa sakit yang dia rasakan akan lebih besar. Tapi apabila dia memutuskan hubungan begitu saja, dan ternyata apa yang dia khawatirkan hanya sebuah kesalahpahaman, maka sudah pasti dia akan menyesalinya. Ingin rasanya Riris menanyakan kebenarannya kepada Raffi, tapi dia merasa tidak berhak untuk itu, dia bukanlah siapa-siapanya Raffi, karena bahkan sampai saat ini belum ada ungkapan cinta dari Raffi maupun kejelasan hubungan di antara mereka.
Ketika Riris masih memikirkan apa yang harus dia lakukan, ponselnya bergetar, ada panggilan telepon dari Raffi. Dengan ragu-ragu Riris mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Hallo Mas,"
"Gi sibuk ya? Kok pesan Mas cuma dibaca?"
"Gak kok, cuma gi nonton film aja, saking asyiknya lupa kalo belum balas pesan Mas,"
"Hmm...terpaksa kan Mas harus telepon, jadi tambah kangen setelah denger suara kamu,"
Wajah Riris merona, sakit yang beberapa menit lalu masih terasa entah terhempas kemana, berganti dengan perasaan berbunga-bunga. Sedetik kemudian Riris tersadar lalu memutuskan untuk mencari tahu kebenaran akan apa yang mengganggu pikirannya.
"Ngapain juga kangen ma aku, kan tadi Mas baru jalan ma cewek cantik, tadinya aku mau nyapa, tapi takut ganggu," ucap Riris dengan nada yang dibuat bercanda.
Raffi yang mendengar ucapan Riris barusan terkejut, dia terdiam, ada perasaan khawatir dan bingung jadi satu, Raffi memutar otaknya mencari jawaban yang paling tepat, dia tidak ingin menyakiti hati Riris dan membuat gadis itu menjauh darinya, tapi dia juga tidak mau berbohong. Dia juga tak mau menjelaskan mengenai siapa wanita yang bersamanya, karena itu sama saja dengan menceritakan kesalahannya di masa lalu, dan dia belum siap untuk itu.
"Emang tadi kamu ke mall sama siapa?" tanya Raffi mengalihkan pembicaraan.
"Sama temen-temen," jawab Riris singkat.
"Kalo weekend besok mau gak ke mall sama Mas?"
"Emm...maaf Mas, aku udah ada janji duluan," jawab Riris berbohong, dia kesal karena Raffi terlihat tidak ingin memberikan penjelasan mengenai siapa wanita yang dia lihat bersama Raffi di mall.
"Ya sudah gak papa, tapi siapin waktu luang weekend depan ya, kamu masih hutang janji mau nemenin Mas ke suatu tempat, oke? Sekarang istirahat gih, sweet dreams ya," Raffi yang paham kalo Riris pasti kecewa karena dirinya tidak menjelaskan apapun tentang wanita yang kepergok jalan dengannya di mall tadi sore memilih mengakhiri panggilan, biarlah Riris tenang terlebih dahulu sambil Raffi mencari cara agar Riris memahami posisinya dan tidak menjauh darinya.
__ADS_1