Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Ketahuan


__ADS_3

Vano yang melihat Riris mengepalkan tangannya dan menghirup nafas panjang lalu melepaskannya secara perlahan beberapa kali paham kalau gadis di sampingnya itu sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Terbersit rasa kasihan di hatinya melihat gadis itu berusaha tetap tenang meski dari raut wajahnya Vano yakin bahwa dia menyimpan kesedihan.


"Sebenarnya kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menerima perjodohan itu, aku yakin bahkan ketika kamu jujur menolaknya karna sudah memiliki pilihanmu sendiri, atau memang karna kamu tidak menginginkan perjodohan itu, Kakek akan mengerti dan baik-baik saja," kata Vano berharap ucapannya dapat meringankan beban yang mungkin sedang dirasakan oleh Riris.


"Kak Vano gak perlu khawatir, awalnya memang itu alasan aku, tapi setelah aku pikir, aku punya alasan lain sehingga aku tak menyesal mengambil keputusan itu," kata Riris sambil memaksakan tersenyum ke arah Vano. "Tapi kalau Kak Vano mau menolak perjodohan itu tidak apa-apa, jangan khawatirkan soal aku," lanjutnya.


"Apa alasan lain yang kamu maksud itu?" tanya Vano.


"Aku bahagia melihat wajah Kakek yang begitu bahagia ketika aku tidak menolak perjodohan itu, bagaimanapun aku menyayangi Kakek seperti Kakek kandung aku, keluargaku dan keluarga Kakak juga terlihat mendukung perjodohan itu, lagipula aku yakin dengan pilihan Kakek, dia hanya berusaha memilihkan yang terbaik untukku, dari dulu," jelas Riris sambil tersenyum mengingat sewaktu dia kecil Sucipto selalu mendampingi dan mengarahkannya hingga dengan sendirinya Riris memiliki ketertarikan untuk belajar bermain berbagai alat musik, taekwondo, dan berbagai bahasa asing. Sekarang dia baru menyadari tujuan Sucipto melakukan itu, tak lebih hanya karena dia menginginkan yang terbaik untuk kehidupan Riris di masa depan. Nyatanya berkat kemampuan itu berkali-kali Riris mampu membela diri ketika ada yang ingin melecehkannya. Jadi untuk masalah perjodohan itu Riris juga yakin bahwa tujuan Sucipto hanyalah untuk memilihkan pasangan yang terbaik untuknya.


Vano begitu kagum dengan pemikiran gadis di sebelahnya itu, baginya dia terlihat lebih dewasa daripada usianya ketika mengatakan hal itu. Dia memiliki banyak pertimbangan ketika mengambil sebuah tindakan, tidak asal seperti kebanyakan gadis seusianya yang kebanyakan kurang berpikiran panjang.


"Kalo Kak Vano sendiri, gimana tanggapan Kakak terhadap perjodohan...ki..ta?" tanya Riris ragu-ragu sambil menatap Vano dengan raut sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Biarlah semua berjalan apa adanya, aku tidak mau berdebat karna masalah ini, yang terpenting bagiku saat ini adalah pekerjaan," jawab Vano cuek lalu menoleh sekilas ke arah Riris yang terlihat tak puas mendengar jawabannya. "Aku sendiri tak mengerti kenapa aku gak keberatan dengan perjodohan itu, tapi aku juga gak mau mereka menganggap aku menerima perjodohan itu, biarlah aku mencari tau dulu sebenarnya bagaimana perasaanku terhadap gadis kecil ini, apakah hanya ketertarikan sesaat, atau aku benar-benar mulai menyukainya" kata Vano dalam hati.


"Baiklah, benar kata Kak Vano, biarlah semua berjalan apa adanya, dia fokus dengan pekerjaannya, aku dengan pendidikanku, lupakan tentang Mas Raffi Ris, dia bukan untukmu, yakinlah bila kamu berusaha menjadi orang yang lebih baik, kedepannya Tuhan akan memberikan pria yang jauh lebih baik untukmu, jangan sia-siakan waktumu yang berharga karna larut dalam kesedihan, karna kamu tak akan bisa mengambil waktu yang telah terlewat," kata Riris dalam hati.


Mereka berdua sama-sama terdiam selama sisa perjalanan. Tak lama sampailah mereka berdua di halaman parkir rumah sakit tempat Sucipto dirawat. Riris berjalan mengikuti Vano menuju ruang rawat Sucipto, di sana mereka berdua sudah disambut Yola yang terlihat memakai jas dokter. Mengingat pembicaraan beberapa hari yang lalu saat dia menjenguk Sucipto pertama kali, Riris dapat menebak bahwa kedua orang tua Vano sudah mulai mengambil alih rumah sakit milik keluarga Sanjaya tersebut.


Yola tampak girang melihat Riris datang berdua dengan Vano. Dipeluknya gadis yang sangat dia sukai itu.


"Baru beberapa hari tidak bertemu kenapa kamu sudah secantik ini sayang, kalo seperti ini Vano harus buru-buru mengambil hati kamu biar kamu gak berubah pikiran tentang perjodohan itu," kata Yola sambil melirik Vano.


Entah mengapa perkataan Riris menimbulkan rasa bangga di hati Vano, dan hal itu mampu membuat pria yang terlihat tampan dengan kaos krem lengan panjang dan celana panjang warna hitam itu tersenyum senang lalu memalingkan wajahnya agar tak ada yang menyadarinya. "Bahkan ketika kamu dipuji oleh banyak orang kamu hanya mengacuhkannya Van, kenapa mendengar perkataan gadis kecil itu kamu seperti memenangkan sebuah penghargaan," kata Vano dalam hati.


Yola yang melihat perubahan raut wajah putranya itu tertawa pelan, selama ini putranya itu selalu terlihat dingin, karena itulah ketika wajahnya memperlihatkan rasa senang dan bangga karena ada yang memujinya persis seperti anak kecil, dia merasa putranya itu terlihat lucu. "Kenapa harus khawatir, yang terpenting kan perhatian Vano hanya terpusat ke kamu," kata Yola sambil mencubit dagu Riris.

__ADS_1


Riris hanya tersenyum menanggapi ucapan Yola yang menurutnya berlebihan. "Bagaimana mungkin seperti itu Tante, Kak Vano aja selalu terlihat cuek ma aku," keluh Riris dalam hati. "Gimana keadaan Kakek sekarang Tante?" tanyanya.


"Hasil pemeriksaannya udah keluar, selama Kakekmu mau menjaga pola makan dan emosinya, udah gak ada yang perlu dikhawatirkan, kamu masuk aja sayang, Kakek udah nunggu kamu di dalem," jelas Yola.


"Riris ke dalam dulu Tante," kata Riris kemudian berlalu menuju ruang rawat Sucipto.


Vano yang hendak mengikuti Riris menghentikan langkahnya karena Yola mencekal lengannya.


"Van, kamu jangan cuek gini dong sama Riris, bersikap yang manis terus romantis, kalo gini terus gimana calon menantu Mama bisa jatuh cinta sama kamu?" kesal Yola.


"Mama dengar sendiri kan, dimanapun Vano berada, dan tanpa Vano nglakuin apapun Vano jadi pusat perhatian wanita-wanita di luaran sana, banyak yang ngejar-ngejar Vano, jadi harusnya Mama yang bilangin Riris biar bisa ambil hati Vano," jawab Vano.


"Masalahnya Riris itu beda Van, beda kayak wanita yang pada ngejar-ngejar kamu, lagian kenapa juga Riris harus usaha buat ambil hati kamu, sekarang aja kamu dah suka kan sama dia?" kata Yola membuat wajah Vano pias. "Kenapa? Kamu kaget karna Mama bisa tau?" tanya Yola terkekeh geli melihat ekspresi wajah putranya.

__ADS_1


"Kenapa Mama bisa menyadarinya? Apakah orang lain juga menyadarinya? Termasuk Riris? Enggak mungkin kan? Sial..." batin Vano.


__ADS_2