Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Perkenalan


__ADS_3

"Malam kek, ma, pa, om, tante," sapa Vano.


"Van, kenalkan ini om Arif dan istrinya tante Hera yang sering kakek ceritakan," kata Sucipto sambil mengarahkan tangannya ke tempat dimana Arif dan Hera duduk. Vano mencium punggung tangan Arif dan Hera secara bergantian. "Lalu yang di sebelahnya Riris, anak mereka", lanjut Sucipto.


"Vano," kata Vano mengulurkan tangan ke Riris.


"Ternyata aslinya lebih cantik ketimbang di foto, tapi tetep aja anak kecil, kalo aku nikahin sekarang mungkin malam pertama bukannya mesra-mesraan malah diajak main boneka," batin Vano sambil menahan tawanya membayangkan apa yang ada di benaknya tadi.


"Riris," balas Riris sambil menjabat tangan Vano.


"Ya Tuhan, ternyata di dunia nyata ada yah yang beginian, udah ganteng, posturnya dah ngalahin model, masih muda dah jadi CEO lagi, kirain cuma di drakor aja ada yang paket lengkap gini," kata Riris dalam hati. "Ris, inget kamu dah ada mas Raffi kok malah jadi mengagumi cowok lain sih," batinnya sambil memukul dahinya beberapa kali dengan siku ibu jarinya.


Setelah itu Vano duduk di sebelah Sucipto.


"Om ketemu kamu itu sewaktu masih bayi Van, lalu pas kamu umur 4 tahun dibawa papa mamamu ke Baltimore dan gak pernah diajak pulang ke Indonesia. Om gak nyangka bayi yang dulu sering om gendong sudah menjadi CEO yang handal dan tampan," puji Arif yang hanya ditanggapi senyuman oleh Vano.


"Iya, Vano sengaja aku bawa jauh dari kamu, kalo gak bisa-bisa dia manggil papanya ke kamu bukan ke aku," canda Juna yang membuat Arif, Hera, dan Yola tertawa.


Vano dan Riris yang tidak paham akan cerita masa lalu orang tuanya hanya diam dan memperhatikan obrolan mereka. Sucipto yang menyadari hal itu mengajak mereka semua untuk memulai acara makan malam mereka.


"Riris sayang, mau gak kalau pas kamu luang kamu temenin tante jalan-jalan ke mall, soalnya di rumah ini gak ada yang bisa diharepin buat nemenin tante," tanya Yola ke Riris di sela-sela makan malam mereka.


Mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadanya itu Riris menoleh ke arah Hera sekilas seolah meminta jawaban, Hera yang mengerti maksud putrinya menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya tante, kalo tante pengen ke mall bisa hubungin Riris siapa tau Riris pas gak ada kelas," jawab Riris.


"Kamu enak ya Ra punya anak perempuan bisa diajak belanja, ke salon, pengen deh punya anak perempuan," kata Yola sambil mengarahkan pandangannya ke Hera yang tersenyum mendengar perkataannya itu.


"Nanti kalo Vano nikah juga kamu bakal punya anak perempuan kok ma," hibur Juna.

__ADS_1


"Tapi kapan coba pa, dia deket ama cewek aja gak, gimana mau nikah," kesal Yola.


"Ma, jangan mulai lagi deh," protes Vano.


"Makanya kalo gak mau denger mama bahas itu terus buruan kamu bawa calon menantu buat mama," kata Yola. "Atau Riris aja yang jadi menantu tante? Tante bakal seneng banget punya menantu cantik, pintar, baik kayak kamu," lanjut Yola dengan raut wajah girang.


Ekspresi berbeda ditunjukkan oleh Riris, wajahnya pias, bahkan dia sampai tersedak saking kagetnya, Hera yang berada di sebelah Riris menyodorkan segelas air putih untuk anaknya itu. Sedangkan Vano terlihat biasa dan masih sibuk menyantap makanannya.


"Kak Vano kan tampan tante, karirnya juga bagus, pasti banyak wanita yang mau nikah sama Kak Vano," ucap Riris dengan suara yang masih agak serak gara-gara tersedak tadi.


"Kalo menurut Riris Vano tampan berarti Riris mau dong sama Vano?" tanya Yola dengan raut wajah yang semakin girang.


"Maksud Riris bukan begitu tan..te..," kata Riris sambil buru-buru mengangkat kedua tangannya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri.


"Udah Yola, ngomongnya lanjut nanti, biarkan Riris makan dengan tenang, kasihan tu Riris sampai tersedak gara-gara omongan kamu," kata Sucipto.


Riris tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Gak pa-pa tante,"


Selesai makan malam mereka semua mengobrol di ruang keluarga. Riris tampak asik mengobrol dengan Sucipto, Yola, dan Hera. Yola terlihat begitu akrab dengan Riris, dia begitu menyukai gadis itu karena menurutnya gadis itu baik dan tulus, sebaliknya Riris juga merasa nyaman dengan Yola karena Yola juga baik seperti bundanya. Sedangkan Arif mengobrol dengan Juna dan Vano meskipun Vano lebih banyak diam dan hanya menjawab ketika Arif bertanya kepadanya. Arif mengajak istri dan anaknya pamit pulang ketika sudah lewat jam 10 malam. Sebenarnya Yola merayu Hera agar dia dan Riris mau menginap, tapi Riris menolaknya dengan alasan masih ada tugas kuliah yang harus dia selesaikan. Tentu saja Yola kecewa, tapi setelah Riris berjanji besok akan menemani Yola jalan-jalan ke mall, raut wajah Yola berubah ceria kembali.


**********


Riris yang baru saja selesai mandi karena gerah setelah lari pagi, bergegas menuju nakas samping tempat tidur begitu mendengar reff lagu Andmesh yang berjudul Kumau Dia dari ponselnya. Dengan senyum ceria dia mengangkat telepon dari orang yang saat ini membuat hatinya berbunga-bunga.


"Pagi mas,"


"Pagi sayang, gi apa?"


Riris merebahkan tubuhnya ke ranjang lalu berguling kesana kemari untuk mengekspresikan kebahagiannya. Meskipun lelaki yang sedang meneleponnya itu sudah berulang kali memanggilnya dengan panggilan itu, tapi tetap saja hati Riris masih berdebar kencang saat mendengarnya.

__ADS_1


"Ni habis mandi, mas kok pagi-pagi udah telepon?"


"Mas udah kangen, kamu dah sarapan belum?"


"Belum mas, baru mau sarapan abis ini," jawab Riris sambil menggigit kukunya menahan diri untuk tidak berteriak girang mendengar ungkapan rindu kekasihnya.


"Sarapan bareng yuk, mas jemput ya,"


"Ya, kalo gitu aku siap-siap dulu ya mas,"


"Oke, sampai jumpa sayang,"


"Mas Raffi," teriak Riris sesaat sebelum Raffi mengakhiri panggilan.


"Apa sayang?"


"Mas bawa motor aja ya, pasti asik naik motor sambil nikmatin udara pagi,"


"Hahaha...baiklah tuan putri, tapi kamu jangan lupa pakai jaket ya, mas gak mau kamu sakit gara-gara kena angin,"


"Siap bos,"


"Kok bos?"


"Emm...iya mas..ku sa..yang," ucap Riris terbata karena masih canggung mengucapkan panggilan itu.


"Mas tutup teleponnya sayang,"


Setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas Riris bergegas membuka lemari dan memilih pakaian yang sekiranya membuat Raffi kagum dengan penampilannya. Setelah sekitar 5 menit berpikir akhirnya Riris memutuskan untuk memakai atasan jumsuit model halter neck berwarna hitam dipadu dengan jaket biker berwarna coklat. Kemudian Riris memoleskan make up natural di wajahnya. Setelah memakai sandal flat berwarna hitam dan tas selempang berwarna senada dengan jaketnya, Riris keluar kamar untuk meminta izin kepada ayah bundanya.

__ADS_1


__ADS_2