
"Jogjaaaa...i'm coming," teriak Rosi saat dia dan kedua sahabatnya baru saja tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan naik taksi online.
Riris yang mendengar teriakan Rosi reflek menutup telinganya dengan kedua tangannya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling melihat reaksi orang sekitar terhadap teriakan Rosi. Riris lega karena di sekitarnya hanya ada beberapa orang saja, dan mereka hanya menoleh sekilas kemudian berlalu begitu saja. Azki hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya yang begitu excited dengan perjalanan mereka ke Jogja, sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama, tapi Azki bukan tipe yang akan mengekspresikan perasaannya secara berlebihan.
"Rosi, kamu tu public figur lho, bentar lagi bakal lebih terkenal dan dikenal lebih banyak orang, jaga dong kelakuan kamu, jangan berlebihan gitu," kata Riris.
"Iya nih Rosi berisik banget, liat gak ini tu masih pagi banget, masih gelap, masih sepi, teriakan kamu tu menggema kemana-mana," Azki menimpali.
"Habis aku seneng banget beb bakalan liburan bareng kalian ke Jogja, dan kalian tau gak, tempat yang bakalan dipakai buat lokasi syuting tu bagusnya kebangetan, trus ya, nanti kalo acara syuting cepat selesai kita dikasih waktu buat jalan-jalan sampai Minggu sore, kan asyik tu, secara banyak banget wahana bagus di Jogja," jelas Rosi dengan mata berbinar-binar.
"Emang dimana lokasi syutingnya?" tanya Azki.
"Namanya The World Castle Jogja, bentar tak liatin tempatnya kayak apa, kemarin aku sempet search gitu tempatnya kayak apa," kata Rosi sambil mengutak-atik ponselnya. "Nih liat," lanjut Rosi sambil menunjukkan gambar di layar ponselnya ke Riris dan Azki.
"Wow, ada ya tempat sebagus itu di Jogja, dah mirip kerajaan di negeri dongeng," kata Riris terpukau setelah melihat foto di ponsel Rosi.
"Bener kan bagus banget, dan masih banyak lagi tempat-tempat instagramable di sekitar sana guys," ucap Rosi.
"Ris, kayaknya 2 hari ini kita bakalan jadi fotografer dadakan si ratu sosmed nih," goda Azki.
"Tenang Ki, gak masalah yang penting honornya sepadan," Riris menanggapi ucapan Azki sambil tertawa.
"No problem, setelah syuting selesai si ratu sosmed ini bakal mendadak kaya," kata Rosi sambil mengibaskan rambutnya dan berjalan meninggalkan kedua sahabatnya dengan gaya bak model yang berjalan di atas catwalk.
__ADS_1
Riris dan Azki saling pandang lalu tertawa melihat tingkah sahabatnya itu, kemudian mereka menyusulnya untuk berkumpul bersama crew syuting di tempat yang telah dijanjikan sebelumnya.
Kedatangan Rosi, Riris, dan Azki disambut hangat oleh Dirga dan anggota timnya. Ketiganya agak terkejut saat melihat sosok yang mereka kenal sebagai salah 1 senior mereka di kampus ikut menyambut kedatangan mereka.
"Mbak Rosi, perkenalkan ini mas Ervan yang akan menjadi pasangan mbak Rosi di proyek iklan kita," jelas Dirga.
"Saya sudah mengenal mereka bertiga Pak Dirga, karna mereka ini mahasiswi populer di kampus saya, dan saya yakin mereka juga mengenal saya, bukan begitu ladies?" ucap Ervan sambil mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum ke arah ketiga gadis di hadapannya.
"Ah iya Pak Dirga, kami sudah mengenalnya, mas Ervan ini senior kami di kampus," jawab Rosi setelah tersadar dari kekagetannya setelah mengetahui bahwa seniornya ini juga seorang model.
"Bagus kalau begitu, karna kalian sudah saling mengenal maka kalian tidak akan terlalu canggung saat syuting nanti," ucap Dirga sambil tersenyum. "Kalau begitu saya permisi dulu mau kembali ke tim, ada yang harus saya cek," pamit Dirga lalu berjalan menuju anak buahnya yang sedang mempersiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa.
Setelah perjalanan lewat udara selama sejam lebih mereka sampai di Yogyakarta International Airport. Kemudian mereka naik bus yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai sarana transportasi selama mereka berada di Jogja. Kurang dari 2 jam mereka sampai di sebuah hotel yang letaknya hanya beberapa kilometer dari lokasi syuting. Rencananya mereka akan mulai syuting jam 10 jadi mereka masih punya waktu sekitar 1 jam untuk beristirahat di hotel.
"Sejuknyaaa...beda banget ma Jakarta," ucap Riris sambil memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya seolah begitu menikmati udara yang dia hirup.
"Jelaslah sejuk Ris, ini tu pegunungan, kalo kita di daerah kota sama aja kali ma di Jakarta," kata Rosi sambil menepuk tangan Riris lalu menggandengnya berjalan masuk ke lokasi wisata. "Ayuk buruan masuk, keburu briefingnya dimulai,".
Begitu masuk ke area wisata, ketiga gadis itu terpukau melihat pemandangan di sekitarnya, apa yang mereka lihat jauh lebih bagus ketimbang di foto. Tempat itu benar-benar mirip seperti bangunan di negeri dongeng, ada kastil, ada perahu bajak laut, patung kuda, dan banyak bangunan-bangunan yang akan sangat disukai oleh para pemburu tempat-tempat instagramable.
Pada iklan itu Rosi, Riris, dan Azki digambarkan sebagai sahabat yang terpisahkan oleh jarak, namun mereka tetap berhubungan melalui ponsel. Bahkan ketika Rosi digambarkan menyukai seorang pria yang diperankan oleh Ervan dan berusaha mendekatinya, Riris dan Azki tetap menjadi tempat curhat dan pemberi saran bagi Rosi. Pada iklan itu Rosi menunjukkan kelebihan-kelebihan ponsel terbaru dari Ultima Sanjaya yang membuat hubungan Rosi dengan Riris dan Azki seolah dekat walau terpisah jarak.
Kegiatan syuting berjalan cukup lancar, meskipun Riris dan Azki belum pernah berakting tapi hasil akting mereka terlihat natural saat memerankan sahabat Rosi, bahkan mereka hanya perlu mengulang beberapa kali saja pada adegan yang paling sulit untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sesuai keinginan sutradara. Kegiatan syuting sempat terjeda sejenak untuk menyambut kedatangan pimpinan tertinggi mereka yang sedang meninjau kegiatan syuting mereka hari ini. Meskipun pimpinan mereka itu adalah orang yang terlihat dingin ketika berpapasan dengan mereka maupun ketika sedang membahas masalah pekerjaan, tapi dia begitu memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Terkadang ketika karyawannya sedang mengerjakan proyek di luar area perusahaan, dia dan asistennya akan meninjau ke lokasi sekalian membawakan makanan untuk karyawannya, seperti yang dia lakukan saat ini.
__ADS_1
Melihat kedatangan Vano entah mengapa ada rasa bahagia di hati Riris. Gadis itu sempat tersenyum saat memperhatikan pria yang terlihat begitu tampan dengan kaos hitam lengan pendek dan celana panjang denim. Ketika berusaha mengalihkan pandangannya dari Vano, tak sengaja Riris melihat tatapan Rosi tertuju ke arah Vano dan Rendra. Raut wajah senang begitu terlihat di wajahnya.
"Kok Rosi ngliat keberadaan Kak Vano dan Kak Rendra kayak bahagia banget, apa Rosi naksir salah satu dari mereka?" kata Riris dalam hati.
Ketika sedang asik dengan pemikirannya tiba-tiba ada yang berbisik di telinganya.
"Ikut aku,"
Riris terkesiap, dia refleks menoleh ke belakang untuk mencari tau siapa pria yang berbisik di telinganya tadi. Dilihatnya Vano di belakangnya sedang berjalan kian menjauh. Karena menyadari tidak ada pergerakan dari Riris, Vano berhenti lalu menoleh ke belakang dan menatap Riris seolah menyuruhnya untuk segera mengikutinya.
Vano dan Riris berjalan beriringan menuju sebuah lorong yang sepi, hanya mereka berdua yang berada di situ.
Vano menyerahkan kertas kecil kepada Riris. Riris menerimanya dan membacanya, apa yang tertulis di sana mirip dengan list daftar belanjaan. Riris menatap Vano seolah meminta penjelasan akan maksud dari tulisan di kertas itu.
"Mama minta kamu buat membelikan barang-barang yang tertulis di situ dan memintaku untuk mengantarmu," jelas Vano dengan nada malas.
Riris melongo, "Sebanyak ini? Hello...ini Jogja tante, Riris gak paham daerah Jogja jadi bagaimana mungkin tante tega nitip dibelikan barang sebanyak ini sedang Riris gak tau berapa jam waktu yang tersisa nanti," kata Riris dalam hati.
Vano yang melihat wajah Riris menjadi pias paham betapa bingungnya gadis itu akan permintaan mamanya. Sebenarnya Vano paham tujuan mamanya melakukan itu, semua itu hanya akal-akalan mamanya agar Vano bisa dekat dengan Riris. Tapi karena Vano paham sifat mamanya, dia memilih mengalah dan mengikuti apa kemauan mamanya. Dia tidak mau membuang waktu dengan melihat berbagai drama konyol yang dilakukan mamanya ketika dia menolak keinginan mamanya.
"Udah kamu hanya perlu memilihkan apa yang kira-kira sesuai dengan selera mama, nanti kamu cukup ikutin kemana aku pergi," jelas Vano. "Besok pagi aku jemput di hotel tempat kamu menginap," lanjut Vano lalu berlalu meninggalkan Riris yang hanya diam karena memikirkan banyak hal.
"Kenapa aku merasa gugup? Kenapa aku gak nolak sih tadi? Jangan bilang aku senang diajak pergi ma kak Vano? Ingat Ris, kamu itu pacar mas Raffi, kamu gak boleh nakal," gumam Riris kepada dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya pelan.
__ADS_1