
Pagi itu mentari begitu cerah menyinari bumi, perlahan udara dingin yang tersisa mulai menghangat. Di sebuah kamar yang tertata rapi dengan cat maupun pernak-pernik di dalamnya yang mayoritas berwarna dusty pink itu, berdirilah seorang gadis dengan dress selutut berwarna putih gading dipadu dengan blazer model korea tanpa kancing berwarna dusty pink, sneaker putih, dan tas ransel warna krem keluaran Chris**** Di** di depan cermin yang ukurannya lebih tinggi darinya. Dia sedang memperhatikan penampilannya yang terlihat begitu cantik walau hanya dengan polesan make up natural. Setelah memastikan penampilannya rapi, gadis itu keluar dari kamar menuju ruang makan.
"Pagi Ayah, Bunda," sapa Riris sambil mencium pipi Arif dan Hera secara bergantian.
Setelah duduk di kursi berhadapan dengan Hera, Riris membalik piring di depannya sambil memperhatikan menu sarapan yang disiapkan bundanya pagi ini.
"Waah akhirnya Bunda bikin bihun goreng lagi buat sarapan, ada telur dadar juga," ucap Riris yang terlihat begitu senang.
"Iya, udah lama Bunda gak bikin menu ini buat sarapan, kebetulan kemarin dapet bihun dari tetangga jadi Bunda bikin menu itu," jelas Hera. "Mau pake nasi sayang?" lanjutnya bertanya kepada Riris.
"Gak Bunda, Riris mau makan bihun aja tapi yang banyak, soalnya kangen makanan ini," jawab Riris menggeleng sambil menyendokkan beberapa sendok bihun goreng ke piringnya.
"Yaudah makan sebanyak yang kamu mau, tapi jangan berlebihan nanti sakit perut," kata Arif tersenyum melihat tingkah putrinya yang begitu polos. "Oh ya, Ris, Sabtu besok kita diundang untuk makan malam oleh Kakek Cipto, Riris bisa kan?" lanjut Arif yang teringat undangan makan malam Sucipto.
"Oh iya, Riris dari kemarin mau nanyain keadaan Kakek Cipto ke Ayah, tapi lupa terus. Gimana keadaan Kakek sekarang Yah?"
"Beliau sudah baik-baik saja, dan sekarang sudah tinggal di kediaman Sanjaya, hari ini Om Juna dan Tante Yola katanya balik ke Indonesia, makanya Kakek Cipto ngundang kita ke kediaman Sanjaya untuk makan malam besok," jelas Arif.
"Syukur kalo Kakek udah baik-baik aja. Riris besok gak ada janji kok jadi bisa ikut sama Ayah Bunda, lagian Riris juga kangen ma Kakek Cipto, kangen dikasih hadiah barang-barang mewah juga," ucap Riris sambil terkekeh geli karena ucapannya barusan.
__ADS_1
"Haduh sejak kapan putri Ayah mendadak matrealistis gini?" canda Arif. "Kakek Cipto punya cucu yang tampan dan kaya lho Ris, jangankan barang-barang mewah, Riris minta helikopter juga bakal dibeliin kalo Riris mau jadi istrinya," ucap Arif yang secara tidak langsung mencari tau respon Riris terhadap perjodohan yang direncanakan Sucipto.
"Kaya tapi Riris gak suka juga gak kan bikin Riris bahagia Yah," jawab Riris tanpa mengalihkan pandangannya pada makanan di hadapannya. "Riris pengen punya pasangan dimana kita berdua saling mencintai dan menyayangi sampai tua, kayak Ayah Bunda," lanjutnya sambil tersenyum.
**********
Saat ini Riris sedang berjalan bersama Rosi dan Azki menuju parkiran karena Riris akan pulang ke rumah bersama Rosi. Tiba-tiba Raffi datang menghampiri membuat mereka bertiga menghentikan langkah.
"Ris, pulangnya bareng Mas aja ya," ajak Raffi.
"Kok Mas bisa tau jam selese kuliah aku?" tanya Riris yang heran dengan kedatangan Raffi yang bisa pas sekali saat Riris mau pulang.
"Ros, Ki, aku pulang bareng Mas Raffi aja, kalian berdua hati-hati ya," ucap Riris sambil cipika-cipiki bergantian ke Rosi dan Azki.
"Oke, bye sayang, kamu juga hati-hati, duluan ya Mas Raffi," pamit Rosi. Rosi dan Azki berlalu meninggalkan Riris dan Raffi menuju mobilnya.
Riris mengikuti Raffi menuju mobilnya, lalu Raffi membukakan pintu samping untuk Riris.
"Kok tumben Mas bawa mobil?" tanya Riris membuka percakapan ketika Raffi mulai mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Iya, lagi males bawa motor," jawab Raffi asal, padahal alasan sebenarnya adalah karena dia ingin mengajak Riris ke tempat yang jaraknya lumayan jauh, dia tidak mau kalo Riris sampe kecapekkan karena naik motor selama berjam-jam, oleh karena itulah dia memilih mengendarai mobilnya.
Suasana kembali hening. Riris yang menunggu Raffi menjelaskan apa yang ingin dia dengar enggan untuk memulai percakapan, sedangkan Raffi juga hanya diam karena bingung dari mana mulai menjelaskan mengenai wanita yang dilihat Riris bersamanya kemarin di mall. Sampai akhirnya Riris menyadari bahwa jalan yang dilalui Raffi bukanlah jalan menuju ke rumahnya.
"Mas, mau mampir kemana dulu kok lewat sini?" tanya Riris.
"Mas mau nagih janji kamu buat nemenin Mas ke suatu tempat, karena Mas juga pengen ngomong sesuatu yang penting ke kamu," jelas Raffi lalu menoleh sekilas ke arah Riris. "Kamu jangan khawatir, Mas gak akan ajak kamu ke tempat yang aneh-aneh kok," lanjutnya karena melihat raut kekhawatiran di wajah Riris.
"Yadah aku pamit dulu ke Bunda biar gak khawatir," kata Riris sambil meraih ponsel di tasnya dan mengirim pesan ke Hera.
Mereka berdua sampai di sebuah restoran outdoor yang terletak di pinggir pantai ketika matahari hampir terbenam. Raffi mengajaknya menuju meja restoran yang telah dia reservasi sehari sebelumnya. Meja itu dihiasi dengan beberapa lilin yang ditata dengan cantik di tengah-tengah meja. Di sekitar restoran penuh dengan kerlip lampu kecil berwarna-warni dan hiasan bunga-bunga yang membuat suasana terlihat begitu romantis. Sesuai harapan Raffi, Riris terlihat begitu terpukau dengan kejutan yang sengaja Raffi siapkan untuk menghilangkan kekesalan Riris.
Raffi menarik kursi di depannya dan mempersilahkan Riris untuk duduk, kemudian dia duduk di kursi satunya yang berhadapan dengan Riris. Tak lama pelayan resto datang membawakan makanan yang telah dipesan oleh Raffi.
"Ramen?" tanya Riris yang senang sekaligus terkejut Raffi memesan makanan kesukaannya.
Raffi tersenyum, dia senang karena sepertinya usahanya untuk membuat Riris senang berhasil. "Mas sengaja liatin Instagram kamu, banyak postingan makanan berkuah di instagram kamu, termasuk ini, jadi Mas cari resto yang menyediakan menu ramen, ketemu deh resto ini, kebetulan juga suasana di sini bagus, mas harap kamu suka,".
"Suka kok, suka banget malah. Makanannya, suasananya, (terutama keberadaan kamu di hadapan aku Mas). Makasih banyak ya Mas, jujur aku seneng banget saat ini," ucap Riris.
__ADS_1
"Mas, andai Mas tau, rasanya aku pengen teriak sekencang-kencangnya untuk kasih tau betapa bahagianya aku saat ini, sebelumnya aku cuma bisa liat adegan romantis ini di drama yang aku liat, tapi berkat Mas, orang yang sejak pertama aku lihat membuat aku jatuh cinta, aku sekarang bisa mengalami momen romantis seperti ini, tapi aku takut Mas, takut kalo kamu hanya memberikan harapan palsu buat aku, yang pada akhirnya hanya akan menyakitiku" kata Riris dalam hati.