Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Jadian


__ADS_3

"Gimana ramennya? Enak?" tanya Raffi setelah Riris meletakkan sendok dan sumpitnya ke samping mangkok, pertanda ia telah selesai makan.


"Enak banget, palagi ebi nya gede, dagingnya tebal, recomended banget Mas," jawabnya sambil membersihkan sisa kuah ramen yang menempel di bibirnya dengan tissue.


"Ris, bisa Mas ngomong sesuatu? Dan Mas harap kamu dengerin dulu, gak boleh motong ketika Mas belum selesai ngomong," tanya Raffi dengan raut wajah serius.


Riris cuma mengangguk pertanda ia menyetujui permintaan Raffi.


"Sebenarnya Mas liat kamu pertama kali bukan sewaktu dikenalin ma Adi, tapi 2 hari sebelum ospek dimulai. Waktu itu Mas liat kamu ngasih bingkisan ke tukang sol sepatu. Saat itu Mas mulai tertarik ma kamu. Lalu Mas liat kamu nyanyi pas acara penutupan, Mas jadi mulai suka ma kamu. Sejak saat itu Mas mulai berani deketin kamu, mencari informasi tentang kesukaan kamu, dan setelah tau banyak tentang kamu, rasanya Mas pengen selalu deket sama kamu. Karna itulah kalo Mas luang Mas sering cari keberadaan kamu dari story kamu, story temen kamu, ato bahkan Mas tanya langsung ke temen kamu, alasannya biar Mas ada waktu buat ketemu kamu, hingga mungkin kamu sering heran kenapa Mas tiba-tiba bisa ada di hadapan kamu kayak tadi." Raffi menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum mengingat kelakuannya yang sudah mirip penguntit.


"Mas Raffi menyukaiku? Dia rela melakukan semua itu hanya untuk tau keberadaanku? Ya Tuhan kenapa aku berasa nonton drama," . Riris hanya tertegun karena begitu terkesan dengan apa yang Raffi lakukan demi dirinya. Ini adalah sesuatu yang dari dulu dia impikan, dia ingin segera mendengar ungkapan cinta dari Raffi, tapi sepertinya jantungnya belum siap menerima kebahagiaannya yang begitu besar sehingga saat ini dia merasa sulit untuk bernafas.


"Meskipun kita baru saling mengenal selama sekitar 2 minggu, tapi Mas udah yakin kalau kamu pasangan yang baik buat Mas, bisa aja Mas langsung ungkapin perasaan Mas, tapi Mas pengen kasih kamu waktu buat mengenal Mas, jadi sewaktu Mas ungkapin perasaan Mas, kamu nerima Mas bukan cuma sekedar karna rasa suka, tapi juga karna menurut kamu Mas adalah pasangan yang baik buat kamu. Karna Mas pengen hubungan kita itu serius dan memiliki masa depan, bukan sekedar untuk bersenang-senang," jelas Raffi.


"Mas, bisa gak kasih jeda waktu sebentar, aku dah gak kuat dengernya, jantung aku rasanya mau meledak," batin Riris yang begitu terpesona dengan sikap Raffi yang menurutnya begitu dewasa.


"Mas tau kamu penasaran siapa cewek yang jalan bareng Mas di mall. Mungkin kamu juga tau gimana perlakuan cewek itu ke Mas, dan karna itu mungkin kamu mikirnya dia cewek Mas, makanya sikap kamu beda dari biasanya ke Mas," tebak Raffi yang membuat raut wajah Riris berubah sendu.


"Benar bahwa cewek itu kekasih Mas,..." Raffi menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Riris akan pengakuannya barusan.

__ADS_1


Riris menatap Raffi dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, dia merasa dipermainkan, beberapa menit yang lalu dia dibuat seolah mau pingsan karena tak kuasa merasakan kebahagiaan yang begitu besar di hatinya, dan baru saja dia seperti dilempar dari tempat yang paling tinggi, hatinya begitu sakit, tapi pikirannya masih bisa merespon dengan baik sehingga dia secepatnya menenangkan hatinya agar dia tidak sampai menangis.


"Lalu untuk apa Mas nglakuin semua ini untuk aku?" tanya Riris datar.


"Ssttt...Mas kan belum selesai bicara. Dia kekasih Mas, tapi dulu, sudah semenjak Mas masuk kuliah kita hanya berteman. Dia nerusin kuliah di Amerika, kemarin dia pas pulang ke Indonesia dan meminta Mas untuk menemaninya jalan-jalan," jelas Raffi.


"Tapi dari yang aku lihat kalian tidak seperti teman," gumam Riris lirih.


"Namanya Sasi, Mas dan dia pacaran sejak SMP, jadi Mas harap kamu mengerti kenapa sikap kami masih...yaaa...Mas akui kami terlihat mesra, gimanapun dia selama sekitar 6 tahun menjadi orang yang berarti buat Mas, jadi sampai saat ini Mas masih menyayanginya, meski hanya sebatas teman," jelas Raffi.


"Kenapa Mas dan dia putus sedangkan Mas masih sayang sama dia?" tanya Riris lirih.


"Riris, Mas udah jelasin, Mas sayang sebagai teman," kata Raffi dengan volume agak meninggi.


Raffi menatap Riris lalu meraih kedua tangan Riris dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, "Karna Mas gak pengen kamu salah paham dan menjauh dari Mas. Karna Mas cinta sama kamu, dan Mas pengen kamu jadi kekasih Mas,".


Riris terdiam, dia bahagia pria yang dia cintai juga mencintainya, tapi mengingat begitu mesranya Raffi dan mantan kekasihnya membuatnya ragu, dia takut sikap mereka akan selalu seperti itu, sedangkan Riris tak bisa menerimanya, karena menurutnya itu tidak pantas dilakukan oleh pria dan wanita dengan status pertemanan. Riris menarik tangannya terlepas dari genggaman Raffi.


"Kenapa? Kamu gak punya perasaan yang sama dengan Mas?" tanya Raffi dengan raut terkejut sekaligus kecewa. Dia membayangkan wajah bahagia Riris saat mendengar ungkapan cintanya, tapi kenyataannya justru Riris terlihat sendu.

__ADS_1


"Aku takut sikap Mas ke Sasi akan selalu seperti itu, dan itu menyakitiku, lalu pada akhirnya hal itu akan menjadi masalah di hubungan kita," jelas Riris sambil menunduk.


Raffi diam sesaat, dia tampak memikirkan ucapan Riris, benar kata Riris, apabila sikapnya masih sedekat itu dengan Sasi, bukan tidak mungkin Riris akan tersakiti, dan itu akan memicu pertengkaran bahkan berakhirnya hubungan mereka. "Kalo Mas janji bakal jaga jarak dengan Sasi, apa itu membuatmu lebih yakin untuk memberikan jawaban atas perasaan Mas?" tanya Raffi menatap Riris dengan sorot mata tajam.


"Apakah itu artinya Mas lebih memilih aku dibandingkan Sasi? Apakah Mas akan tetap memilihku ketika kedepannya Sasi tidak suka dengan perubahan sikap Mas?" balas Riris bertanya.


"Apakah semua yang Mas katakan belum membuatmu yakin kalau saat ini yang menjadi prioritas Mas hanya kamu?" kata Raffi dengan raut yang terlihat serius.


Riris tersenyum, semua yang dikatakan oleh Raffi begitu menyentuh hatinya, Riris dapat merasakan bahwa Raffi benar-benar mencintainya.


"Apakah salah Mas aku memastikan sebelum aku mengambil keputusan? Aku gak mau memulai hubungan di saat dari awal aku sudah dapat melihat bagaimana hubungan itu akan menyakitiku," ucap Riris lembut.


Raffi kembali meraih tangan Riris dan menggenggamnya, "Mas gak bisa janji gak akan menyakitimu, tapi Mas bisa pastikan 1 hal, apabila Mas menyakitimu itu diluar kesengajaan Mas, jadi Mas minta ada kejujuran di antara kita agar bisa sama-sama belajar untuk saling memahami sehingga tidak saling menyakiti. Dan yang bisa Mas janjikan adalah bahwa Mas akan selalu memprioritaskan kebahagiaan maupun kebaikan untuk kamu. Tapi ada atau tidaknya kesempatan Mas untuk memenuhi janji itu tergantung kamu, mau atau tidak menjadi kekasih Mas,".


Riris membalas genggaman tangan Raffi dengan erat lalu tersenyum. "Aku harap Mas benar-benar menepati janji Mas, mulai sekarang," kata Riris dengan memperlambat ritme saat mengucapkan 2 kata terakhir.


Raffi tersenyum lebar mendengar ucapan Riris barusan, "Apa itu artinya mulai sekarang ada hati seorang gadis yang harus Mas jaga?".


"Tentu saja, dan gadis itu ada di hadapan Mas sekarang," ucap Riris tersenyum bahagia.

__ADS_1


Hai-hai readers...author sedih deh...kok sama sekali gak ada yang like dan kasih komentar...author jadi gak tau novel author tu bagus ato gak, kalo misal gak, author jadi gak bisa benerin soalnya gak tau masalahnya dimana.


*Jadi please ya bantuin author buat tau novel author bagus atau gak. Sebagai ucapan terima kasih, nanti di bab selanjutnya author kasih visual pemain yang lain deh, oke..ok**e*...


__ADS_2