Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Ancaman Hana


__ADS_3

Hati Riris berbunga-bunga, mungkin saat ini dia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini, hal itu terlihat dari senyum yang seolah tak kunjung menghilang dari wajahnya. Bayangan ciuman pertamanya dengan Raffi sore tadi masih terngiang-ngiang di ingatannya. Dia bangga pada dirinya sendiri yang dapat menguasai sikapnya agar tidak memalukan meski dalam kondisi pikirannya yang kacau karena terlalu gugup gara-gara sentuhan Raffi.


"Putri Bunda kayaknya gi bahagia banget, ada apa?" tanya Hera membuat Riris tersadar dari lamunannya.


"Bunda, sejak kapan ada di sini?" tanya Riris yang kaget tiba-tiba Hera sudah duduk di hadapannya.


"Sejak beberapa menit yang lalu, tadi Bunda udah ketok pintu berkali-kali, tapi gak ada jawaban, yaudah Bunda masuk, kirain kamu udah tidur, ternyata gi nglamun sambil senyum-senyum sendiri," jawab Hera lalu tersenyum.


Riris bangun dari posisinya yang tengkurap dan bertumpu pada guling lalu memeluk lengan Hera dan menyandarkan kepalanya di bahu Hera untuk menyembunyikan rasa malunya. "Bunda ih, kenapa juga harus diperjelas, Riris kan malu," kata Riris dengan nada manja.


"Cerita sama Bunda, apa yang bikin kamu sebahagia ini," tanya Hera lagi.


"Riris udah punya pacar Bunda, dia...,"


"Cowok yang nganterin kamu pulang ke rumah dulu itu kan?" potong Hera.


"Kok Bunda tau?" tanya Riris heran.


"Soalnya cuma sama dia kamu mau ngrespon cowok yang deketin kamu," kata Hera sambil mencubit gemas hidung Riris.


"Bunda ngijinin gak?" tanya Riris sambil menatap wajah Hera.


"Kalau mau minta ijin harusnya sebelum kamu pacaran sama dia, lha kalo sekarang buat apa coba? Kalo Bunda gak kasih ijin emang kamu mau putus sama dia?" tanya Hera lagi.


"Oh iya ya," kata Riris dengan raut seperti orang bodoh. "Ya maksud Riris Bunda gak marah kan kalo Riris punya pacar?" tanyanya.


"Yang penting kamu jaga diri baik-baik, jangan melakukan hal yang merusak kehormatan kamu sebagai seorang wanita, Bunda yakin kamu paham apa maksud Bunda," jawab Hera sambil mengelus punggung tangan Riris.

__ADS_1


"Riris janji, Riris gak akan ngecewain Ayah Bunda, apalagi bikin Ayah Bunda malu," kata Riris.


"Bunda yakin kamu akan selalu jadi putri yang Ayah Bunda banggakan," kata Hera sambil tersenyum. "Oh iya tadi Bunda kesini mau nyampein ke kamu, Kakek Cipto masuk rumah sakit, besok kamu mau ikut jenguk?" tanyanya.


Riris menegakkan tubuhnya karena kaget dengan kabar yang dia dengar, "Kenapa bisa sampai dirawat di rumah sakit? Sejak kapan?" tanya Riris.


"Baru aja, keadaan beliau sempat memburuk, tapi barusan Yola kasih kabar kalo beliau sudah membaik, tapi masih harus dirawat beberapa hari untuk memastikan kondisinya benar-benar stabil," jelas Hera.


**********


"Sekarang jelaskan, apa yang kamu lakukan sampai Kakek bisa seperti itu?" tanya Vano dengan raut penuh kemarahan kepada wanita yang duduk di sampingnya.


"Aku gak nglakuin apapun Van, aku cuma menyapa Kakek dan ngobrol biasa aja," jawab Hana dengan raut ketakutan. "Kenapa jadi gini sih, Vano bisa tambah benci sama aku gara-gara ini, tapi kalo Kakek meninggal ada bagusnya juga buat aku, jadi gak da lagi yang ngrecokin hubungan aku sama Vano, harusnya tadi aku gak buru-buru manggil tante Yola," kata Hana dalam hati.


"Oke, aku akan buktikan ucapan kamu ketika nanti Kakek sadar, kalau benar Kakek terkena serangan jantung karna ulahmu, bersiaplah menerima akibat dari perbuatanmu itu," kata Vano lalu beranjak dari duduknya meninggalkan tempat itu.


**********


Sore itu Arif, Hera, dan Riris mengunjungi rumah sakit tempat Sucipto dirawat. Begitu sampai di depan sebuah ruangan di lantai teratas yang terlihat mirip seperti hotel mewah, Hera mengetuk pintu ruangan itu. Ketika pintu dibuka muncullah Yola dari balik pintu. Melihat sahabatnyalah yang datang dia langsung memeluknya. Lalu pandangan Yola beralih ke gadis di belakang Hera yang tersenyum ke arahnya.


"Apa kabar kamu sayang," tanya Yola sambil memeluk calon menantu kesayangannya.


"Baik tante, tante sendiri gimana?" tanya Riris.


"Seperti yang kamu lihat, tante baik-baik saja, oh ya maaf sudah merepotkan kamu sewaktu kamu di Jogja, dan terimakasih, tante suka sekali dengan semua pilihan kamu, semuanya sesuai dengan selera tante," kata Yola sambil tersenyum.


"Sama-sama tante, Riris dibantuin sama Vano kok milihnya, oh ya, ini tadi Ayah Bunda beliin buah buat Kakek," kata Riris sambil menyerahkan parcel buah kepada Yola.

__ADS_1


"Makasih ya Rif, Ra, ayo masuk," kata Yola sambil berbalik menuju kabinet di samping ranjang Sucipto untuk meletakkan buah pemberian Riris.


Begitu masuk ruangan dilihatnya Sucipto sedang duduk bersandar dengan overbed table di depannya yang berisi semangkok makanan yang belum habis. Melihat siapa yang datang menjenguknya, Sucipto tersenyum. Arif, Hera, dan Riris mendekati Sucipto.


"Bagaimana kondisi Bapak sekarang Yol?" tanya Arif ke Yola.


"Dari pemeriksaan tanda vitalnya sudah normal, cuma masih harus dilakukan beberapa tes untuk memastikan kondisi jantungnya sudah stabil," jawab Yola.


"Syukurlah, semoga hasil tesnya juga bagus," kata Arif. "Dimana Juna?" tanyanya lagi.


"Juna sedang mengurus kepindahan kami ke sini. Mengetahui kondisi Papa seperti ini kami memutuskan untuk menetap di sini, dan mengikuti saran Papa untuk mulai mengelola rumah sakit ini," jawab Yola.


Riris yang tak mengetahui kalau rumah sakit itu milik keluarga Sanjaya menatap Hera seolah meminta penjelasan atas apa yang diucapkan oleh Yola tentang 'mengelola rumah sakit ini'.


"Rumah sakit ini milik keluarga Sanjaya sayang, Kakek Cipto membangun rumah sakit ini berharap Juna dan Yola pindah kesini dan mengelolanya, tapi selalu menolak dengan berbagai alasan," jelas Hera sambil melirik sekilas ke arah Yola.


"Aku sama Mas Juna bukannya menolak Ra, tapi kami sedang mencari sebanyak mungkin pengalaman untuk meningkatkan kemampuan kami biar bisa mengelola rumah sakit ini dengan baik nantinya," jelas Yola.


"Bukan karna ketagihan mendapatkan penghargaan sebagai dokter terbaik setiap tahunnya?" goda Hera.


Yola yang tidak bisa menyangkal ucapan sahabatnya itu hanya tersenyum. "Pa, lanjutin makannya yuk," katanya mengalihkan pembicaraan.


"Papa mau disuapi cucu Papa yang cantik ini," kata Sucipto sambil mengarahkan pandangannya ke Riris yang sedang memijit pelan kaki Sucipto.


Riris yang tau kalau yang dimaksud Sucipto adalah dirinya, merapikan selimut Sucipto kemudian beralih ke dekat overbed table. "Iya Kek, ayuk Riris suapi," katanya sambil menyodorkan sesendok makanan ke Sucipto.


"Yol, kamu cari makan dulu, mumpung ada yang jagain Papa, dari siang kamu belum makan kan?" kata Sucipto. "Rif, Ra, kalian temani Yola ya, biar Riris yang jagain Bapak di sini," lanjutnya.

__ADS_1


Mereka bertiga yang paham kalau Sucipto sengaja ingin ditinggalkan berdua bersama Riris hanya mengangguk. Lalu mereka bertiga keluar dari ruangan setelah berpamitan dengan Sucipto dan Riris.


__ADS_2