
Jalanan daerah pinggiran kota yang masih asri karena diapit hamparan sawah bak permadani hijau yang terbentang luas menjadi saksi betapa bahagianya sepasang kekasih yang sedang menikmati segarnya udara pagi dengan berboncengan di atas motor. Riris terlihat sudah tidak canggung memeluk mesra pinggang Raffi, dan tak jarang Raffi mengelus punggung tangan Riris, bahkan tanpa malu dengan sesama pengguna jalan Raffi berkali-kali mencium punggung tangan Riris, membuat gadis itu tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang begitu bahagia. Setelah hampir 1 jam mereka berkeliling, Raffi berhenti di depan sebuah warung soto yang letaknya di pinggir sawah. Selain bangunan utama, di sekitarnya berjejer beberapa gasebo yang memang disediakan untuk para pelanggan yang ingin menikmati makan mereka sambil melihat lebih jelas pemandangan di sekitarnya. Meskipun warung itu terlihat sederhana, namun area parkir yang lumayan luas itu terlihat penuh dengan kendaraan milik pelanggan. Setelah memarkir kendaraan mereka, Raffi dan Riris berjalan bergandengan tangan mesra sambil bertukar senyuman menuju salah satu gasebo yang kosong lalu mulai memilih menu yang akan mereka pesan.
Berbeda dengan Raffi dan Riris yang sama-sama tengah dilanda asmara, di sebuah apartemen yang lumayan mewah terlihat seorang gadis cantik yang sedang duduk di sofa sambil menangis. Masih teringat dengan jelas di ingatannya perkataan mantan kekasihnya semalam saat meneleponnya.
"Sasi, sebenarnya sekarang aku sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis, aku tidak ingin dia salah paham dengan hubungan kita, jadi aku harap mulai sekarang tolong perhatikan sikap kamu ke aku, bersikaplah layaknya kepada seorang teman, karna aku tidak ingin menyakitinya, aku harap kamu tidak salah paham dengan perkataanku ini, sampai kapanpun aku akan tetap mendampingimu sebagai temanmu dan ada ketika kamu membutuhkan bantuanku,".
"Semudah itukah kamu melupakan cintamu padaku Fi, bahkan sampai saat ini cintaku untukmu masih sama seperti dulu, lalu bagaimana denganku jika kamu telah menemukan penggantiku, pria mana yang mau menerima wanita sepertiku, wanita yang telah ternoda, bahkan tidak bisa memberikan keturunan," gumam gadis bernama Sasi.
"Gak, aku begini juga karna kesalahanmu Raffi, sampai kapanpun kamu harus ikut bertanggungjawab atas keadaanku, aku akan membuatmu kembali padaku bagaimanapun caranya," ucap Sasi dengan sorot mata penuh ambisi. Sasi meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Raffi yang sedang menikmati soto sambil bercanda dengan Riris mendengar suara dering dari ponselnya. Melihat Raffi yang tampak berpikir dan seakan tidak berniat untuk segera menerima panggilan membuat Riris penasaran.
"Kok gak diangkat mas?"
"Iya ini mau mas angkat, mas kesana dulu ya, kamu lanjutin aja makannya," pamit Raffi sambil mengusap puncak kepala Riris.
Riris menganggukkan kepalanya, "Kenapa gak disini aja nelponnya, ah mungkin mas Raffi mau membicarakan hal penting yang tidak boleh didengar orang lain," batin Riris.
"Ya Sas," kata Raffi setelah agak jauh dari Riris dan memastikan suaranya tidak terdengar olehnya.
"Fi, kamu dimana? Aku sekarang ada di apartemenmu,"
"Aku baru di luar cari makan,"
"Dimana alamatnya? Biar aku susul kesitu, kamu kirim alamatnya le...," Sasi yang tadinya buru-buru beranjak dari sofa dan meraih tasnya menghentikan langkah dan ucapannya saat mendengar ucapan Raffi.
"Aku makan bersama kekasihku Sas, tapi kalau kamu mau menyusul tak masalah, sekalian aku kenalkan kamu dengannya,"
__ADS_1
"Kamu selesaikan makanmu, aku tunggu di apartemenmu," ucap Sasi lalu menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban Raffi.
"Sas, hallo...," Raffi terlihat bingung karena Sasi menutup teleponnya sebelum Raffi mengutarakan keberatannya untuk segera kembali ke apartemen. Setelah beberapa saat berpikir Raffi berjalan kembali ke tempat duduk dimana kekasihnya menunggunya.
"Kamu udah selesai makannya sayang?" tanya Raffi melihat mangkok Riris hanya berisikan sedikit kuah yang tersisa.
"Iya, mas buruan habisin makannya, trus kita pulang," jawab Riris.
"Emang kamu ada acara kok buru-buru pulang?"
"Iya, aku janji nemenin tante aku ke mall,"
"Padahal mas masih kangen,"
Riris tersenyum malu, "Mas apaan sih, pisah aja belum udah bilang kangen, kebanyakan nonton drama ih,".
"Mas bisa gak ngliatin akunya biasa aja, aku gak kuat ngliat sorot mata mas yang kayak gitu," rengek Riris sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Raffi tertawa melihat kelakuan Riris yang begitu polos, saking gemasnya diraihnya kedua tangan Riris yang menutupi wajahnya lalu mencium kedua punggung tangannya. "Kenapa kamu gak kuat? Kamu takut makin terpesona sama mas?"
"Aku takut khilaf mas, tiap liat mas natap aku dengan sorot mata itu aku pengen peluk mas, nyium bibir mas," kata Riris dalam hati. "Iya, puas? Udah yuk mas kita pulang," ajaknya.
**********
Sasi yang mendengar suara pintu apartemen terbuka tersenyum lalu beranjak dari duduknya.
"Hai Fi," sapa Sasi setelah Raffi berada di dalam apartemen.
__ADS_1
"Tumben pagi-pagi kesini," tanya Raffi.
"Ada yang mau aku omongin ke kamu Fi,"
"Ada apa?" tanya Raffi setelah merebahkan tubuhnya ke sofa.
Sasi mengikuti Raffi dan duduk di sebelahnya, "Fi, aku gak terima kalo kamu punya hubungan dengan gadis lain, terus aku gimana?"
Raffi terdiam seolah menahan emosinya, "Sas, hubungan kita udah selesai, lebih dari setahun yang lalu, itupun karna kamu yang mengkhianati aku, dan saat itu kita udah sepakat buat temenan aja, jadi kalau sekarang aku menjalin hubungan dengan seseorang kamu gak ada hak buat ikut campur," kata Raffi dengan nada yang dibuat sehalus mungkin.
"Kamu lupa aku sekarang seperti ini karna siapa? Karna kamu Fi. Gara-gara kamu mungkin gak kan ada lelaki yang mau nikah sama aku," ucap Sasi sambil menangis.
Raffi memijit kepalanya, dia bosan karena Sasi selalu mengungkit keadaannya untuk membuat Raffi memenuhi semua keinginannya.
"Kalo saja kamu tidak mengkhianatiku mungkin perpisahan itu tidak akan terjadi Sas. Dan yang perlu kamu ingat, keadaan kamu itu bukan sepenuhnya salah aku, kalau saja kamu mau menikah denganku saat itu dan menerima kehamilan kamu mungkin saat ini keadaan kamu tidak akan seperti sekarang," ucap Raffi lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Aku hamil karna kamu Fi, dan waktu itu aku masih sangat muda, apa kata orang sekitar kalau aku menikah saat itu karna hamil di luar nikah, bagaimana hujatan yang akan aku dan keluargaku dapatkan karna hal itu," ucapnya sambil tersedu-sedu.
Raffi menggelengkan kepalanya frustasi, dia akui dia melakukan kesalahan besar terhadap Sasi, tapi dia sudah bersedia bertanggungjawab, namun Sasi sendiri yang menolak dan bertindak gegabah sehingga masalah menjadi semakin rumit dan dia terjebak di situasi seperti sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, bahkan baru saja aku kembali merasakan kebahagiaan setelah sekian lama aku menderita karna perasaan bersalah, aku gak mau menyakiti Riris, aku juga gak mau kehilangan dia Tuhan,".
***Hai readers...penasaran gak sih sama masa lalu Raffi sebenarnya? Itu udah author jabarin sedikit ya masa lalunya, buat lebih jelasnya nanti ya, pelan-pelan bakal author buka tapi pelan-pelan biar alur ceritanya tetap jelas.
Buat yang udah dukung author makasih banget ya, buat yang lain mohon dukungan like dan commentnya. Author kasih visual Sasi ya...moga cocok dengan ekspektasi kalian.
Sasi (Irish Bella***)
__ADS_1