
Berhubung Sabtu sore tim sudah dapat menyelesaikan kegiatan syuting mereka, maka sesuai kesepakatan awal, Minggu pagi ini seluruh rombongan akan menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengunjungi objek wisata lain di Jogja. Tujuan pertama mereka adalah objek wisata yang tidak jauh dari lokasi syuting yaitu 'The Landmark Merapi Park'. Sambil menunggu salah 1 anggota rombongan membeli tiket masuk, Rosi dan Azki berfoto di pintu masuk wisata yang merupakan miniatur Bradenburg Gate di Berlin dengan meminta bantuan salah 1 anggota rombongan.
"Hai ladies, kok cuma berdua aja, Riris gak ikut?" tanya Ervan yang menghampiri kedua gadis yang tengah asyik melihat hasil foto mereka berdua dengan berbagai pose.
"Iya Mas, kebetulan saudaranya juga baru berkunjung ke Jogja, jadi Riris pergi sama saudaranya itu," jelas Azki membuat Rosi yang hendak membuka mulutnya mengurungkan niatnya untuk menjawab. Azki sengaja mendahului Rosi karena khawatir dia akan mengatakan alasan sebenarnya kepada Ervan, dan hal itu akan menimbulkan gosip yang nantinya menjadi masalah bagi Riris maupun Vano.
"Oh gitu, kalo gitu aku gabung ma kalian berdua aja gantiin Riris, gimana?" kata Ervan.
Rosi melirik Azki kemudian tersenyum licik. Azki yang mengerti apa yang sahabatnya itu pikirkan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sure, why not? Karna kebetulan kita butuh seorang fotografer," kata Rosi sambil memasang senyum cerianya.
Ervan yang mengerti arah pembicaran Rosi yang ingin menjadikannya fotografer dadakan terkekeh pelan. "Oke, bukan ide yang buruk, kapan lagi bisa jalan bersama 2 wanita cantik sekaligus," ucap Ervan lalu tersenyum genit kepada Rosi dan Azki.
"Whatever, yang penting nanti fotoin kita berdua yang banyak ya Mas, soalnya sayang banget kalo tempat sebagus ini dianggurin gak dipake buat foto-foto," kata Rosi yang begitu antusias melihat pemandangan yang ada di sekitarnya.
Ketika sudah berada di dalam objek wisata, Ervan kewalahan mengikuti Rosi yang berlarian kesana kemari meminta difoto di depan miniatur icon berbagai negara. Azki yang melihat Ervan tampak kelelahan mengajak Rosi dan Ervan untuk beristirahat di cafe yang ada di dalam kawasan wisata. Saat sedang menikmati es krim pesanan mereka, pandangan Rosi berhenti pada sosok pria yang tengah menikmati secangkir kopi tak jauh dari tempatnya duduk.
"Beb, kamu sama Mas Ervan dulu ya, aku ada urusan, gak usah nungguin aku," bisik Rosi pada Azki. "Mas Ervan tolong temenin Azki ya," ucapnya sambil buru-buru beranjak dari duduknya lalu berjalan menjauhi Azki dan Ervan.
"Rosi mau kemana Ki?" tanya Ervan. Azki hanya mengangkat kedua tangan dan bahunya.
Di kursi tak jauh dari tempat Azki dan Ervan, seorang pria tampak kaget saat tiba-tiba ada seorang wanita duduk di sebelahnya.
"Hai Mas, sendirian aja sih," sapa Rosi.
"Ni udah gak sendiri," jawab Rendra cuek.
"Mas Rendra tadi nyusul ke sini ya? Soalnya aku gak liat Mas Rendra ikut rombongan,".
"Iya," jawab Rendra singkat.
__ADS_1
"Ni cowok dingin banget sih, ditanya panjang lebar jawabnya singkat gak da basa-basinya. Semangat Ros, justru ini kan yang bikin dia beda dari cowok lain," kata Rosi dalam hati. "Mas Rendra bawa mobil sendiri gak?" tanya Rosi mulai melakukan rencananya.
"Kenapa emang?" tanya Rendra.
"Anterin aku yuk Mas, ada tempat yang pengen banget aku datengi, tapi gak masuk list tempat yang mau dikunjungi rombongan," kata Rosi sambil memasang raut sedih. Rosi yang melirik ke arah Rendra merasa kecewa karena pria itu hanya diam dengan raut muka datar.
"Kamu mau kemana?" tanya Rendra membuat raut wajah Rosi berubah ceria.
"Ada, tempatnya baguuus banget," kata Rosi dengan raut yang begitu meyakinkan. "Mas Rendra mau anterin aku?" tanya Rosi penuh harap.
"Boleh, aku juga pengen refreshing, mumpung gak da yang ngrecokin," kata Rendra sambil tertawa pelan.
"Gak da yang ngrecokin? Maksud Mas Rendra Pak Vano? Tau ah, yang penting aku harus manfaatin kesempatan ini dengan baik," batin Rosi. "Kalo gitu sekarang aja yuk Mas," ajak Rosi antusias.
"Kamu gak ajak temenmu?" tanya Rendra.
"Gak, aku gak mau gangguin dia," kata Rosi sambil mengarahkan pandangannya ke arah Azki dan Ervan yang terlihat sedang mengobrol.
Rendra yang mengikuti arah pandangan Rosi seolah mengerti apa yang dimaksud Rosi. "Oke, ayo ke parkiran," ajak Rendra.
"Beb, kamu minta temenin Mas Ervan ya jalan-jalannya. Aku mau mengejar cinta Mr. Seksi dulu, jangan marah ya cantik, mmuach," bunyi pesan Rosi ke Azki melalui aplikasi berlogo warna hijau.
Azki yang membaca pesan dari Rosi tampak kesal.
"Kenapa Ki?" tanya Ervan yang melihat raut wajah kesal Azki.
"Kemarin aja mereka semangat banget karna mau jalan bertiga, eh akhirnya aku ditinggal sendiri, pada sibuk ma urusan masing-masing," curhat Azki.
Ervan yang mengerti maksud Azki terlihat tersenyum, "Makasih ya Ros, Ris, tanpa aku minta kalian kasih waktu aku berdua sama Azki,". "Mungkin mereka punya urusan penting, gak usah sedih, kan ada aku yang nemenin kamu," kata Ervan yang hanya ditanggapi Azki dengan senyuman.
**********
__ADS_1
"Kak, kok berhenti di sini?" tanya Riris saat Vano menghentikan mobilnya di depan restoran serba sambal.
"Kita makan dulu," jawab Vano sambil melepas seat belt nya lalu keluar dari mobil.
Riris ikut keluar dari mobil dan menyusul Vano yang berjalan memasuki restoran. Setelah menyerahkan pesanan mereka ke pelayan, Riris dan Vano tampak sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Kamu kenapa?" tanya Vano saat melihat raut wajah Riris terlihat sedih.
"Hmm? Maksudnya kenapa?" tanya Riris yang tidak paham maksud pertanyaan Vano.
"Muka kamu kenapa keliatan sedih?" jelas Vano sambil menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri di depan wajahnya.
"Oh..emm," Riris yang tak menyangka Vano memperhatikannya bingung mau menjawab apa. Tak mungkin dia jujur bahwa dia iri saat melihat foto Rosi dan Azki di sebuah objek wisata yang dilihatnya dari story IG Rosi. "Aku cuma sedih aja Kak karna gak bisa ikut foto-foto bareng Rosi dan Azki," jawab Riris.
"Apa aja yang belum kita beli dari list belanjaan Mama?" tanya Vano.
"Cuma tinggal tiwul Kak, tapi aku gak tau itu apa trus belinya dimana," jawab Riris polos.
Melihat ekspresi bingung Riris Vano tertawa pelan. "Itu jenis makanan, kalo Mama minta kita beliin itu berarti Mama berharap kita mengunjungi objek wisata di daerah Gunung Kidul," jelas Vano.
"Oh berarti kita harus ke Gunung Kidul belinya, tempatnya jauh Kak?" tanya Riris.
Vano melihat arlojinya, "Kamu pilih mana? Beliin Mama tiwul pesanannya tapi pulangnya bareng aku, ato tetap pulang bareng rombongan tapi cari alesan ke Mama karna gak bisa beliin tiwul pesanannya?" kata Vano menawarkan 2 alternatif pilihan.
Riris bingung, kalau dia pulang bareng Vano, pasti akan sangat canggung karena dia tidak dekat dengannya, tapi kalau dia tidak bisa membelikan semua barang pesanan Yola, dia takut mengecewakan Yola, padahal Yola sudah begitu baik kepadanya, rela mengeluarkan banyak uang untuk membelikan barang-barang mahal untuknya.
Vano yang melihat raut kebingungan di wajah Riris merasa kasihan. Bagaimanapun gadis di depannya itu sudah merelakan waktu yang seharusnya dia gunakan untuk bersenang-senang dengan temannya demi menuruti permintaan konyol Mamanya. "Kalau kamu pulang bareng aku, nanti kita bisa sekalian mengunjungi objek wisata di Gunung Kidul yang populer di kalangan wisatawan," kata Vano yang ingin membalas kebaikan Riris yang telah bersedia menuruti keinginan Mamanya dengan mengajaknya mengunjungi salah 1 objek wisata.
"Benar Kak? Gak ngrepotin?" kata Riris dengan wajah yang berubah ceria.
"Kalo kamu mau sih nanti abis makan kita kesana, nanti malam baru kita pulang ke Jakarta," kata Vano yang merasa ikut senang melihat mata Riris berbinar karena senang.
__ADS_1
"Mau Kak, makasih ya Kak," kata Riris sambil menampakkan senyum manisnya.
"Manis,".