Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Goyah


__ADS_3

"Hei bang...pacar orang nih, main pepet aja," seru Rosi yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Riris dan Putra.


"Bang..bang..abang tukang jualan disana noh," kata Putra yang tidak terima dipanggil Abang. "Ya iyalah pacar orang, masak iya pacar hantu, mending buat aku," seloroh Putra sambil mengedipkan satu matanya genit ke arah Riris.


Riris hanya bergidik melihat sikap Putra yang menurutnya tak pantas genit seperti itu. "Kok gak sama Azki Ros?" tanyanya melihat Rosi hanya sendirian.


"Azki udah punya supir sekarang, nemu waktu di Jogja kemarin," kata Rosi sambil tersenyum. Rosi yang melihat Riris dan Putra mengerutkan dahinya seolah tak mengerti, tertawa, "Azki gi deket sama Mas Ervan, mungkin pas aku tinggal berdua aja sewaktu di Jogja ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Tapi tadi aku udah kirim pesen ke Azki kok buat ngumpul di cafe ini," jelas Rosi.


"Oh gitu, baguslah kalo deketnya sama Mas Ervan, keliatannya dia orang baik," kata Riris lalu mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan lalu menghisapnya. "Tapi tunggu, trus kalo mereka beneran deket gimana nasib Azki dong, bukannya Mas Ervan punya fans fanatik, katanya dia bisa tetep jomblo sampe saat ini karna cewek yang deket sama dia pada nyerah gara-gara diteror sama fansnya?" tanya Riris yang khawatir karena tiba-tiba mengingat cerita Raffi soal alasan Ervan belum memiliki pacar padahal banyak yang mengidolakannya.


"Kamu tau darimana Beb?" tanya Rosi yang ikut khawatir setelah mendengar ucapan Riris.


"Mas Raffi yang cerita, waktu itu aku tanya kok bisa cowok setampan Mas Ervan belum punya pacar, trus dia kasih tau alasannya kayak gitu tadi aku bilang," jawab Riris.

__ADS_1


"Kayaknya Azki perlu tau deh Beb biar bisa ati-ati, aku telpon dia deh biar cepetan kesini," kata Rosi sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.


**********


Sore ini Riris berkunjung ke apartemen Raffi untuk sekedar mengobrol dengan kekasihnya itu agar dapat melupakan sejenak kegundahan di hatinya akibat perjodohan yang diinginkan oleh Sucipto. Berhubung Raffi belum pulang karena masih ada kegiatan organisasi kampus, maka Riris berencana membuatkan makan malam sambil menunggu kekasihnya pulang. Saat sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak, dia mendengar ada yang memencet bel apartemen kekasihnya itu. Riris bergegas membuka pintu untuk mencari tahu siapa tamu yang datang. Begitu pintu terbuka dilihatnya sosok wanita cantik yang terlihat terkejut karena melihat keberadaan Riris di apartemen itu, tapi tak lama kemudian dia tersenyum.


"Raffi nya ada?" tanya wanita yang sebelumnya pernah Riris lihat di mall bersama Raffi.


Riris yang mengetahui siapa wanita itu dan mengetahui kedekatannya dengan kekasihnya merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya, "Apakah dia sering berkunjung ke apartemen ini dan berdua dengan Mas Raffi di sini tanpa sepengetahuanku?" kata Riris dalam hati. "Mas Raffi belum pulang," jawab Riris.


"Oh ya silahkan," jawab Riris lalu mempersilahkan Sasi masuk lalu menutup pintu dan berjalan di belakang Sasi.


"Dulu aku biasa keluar masuk kesini karna aku tau password pintunya, bahkan aku sering menginap di sini, tapi dari beberapa hari terakhir Raffi mengganti passwordnya dan tidak memperbolehkan aku untuk menginap di sini lagi, mungkin karna dia sudah menemukan penggantiku jadi tidak butuh aku lagi," kata Sasi lalu memperhatikan ekspresi gadis di depannya yang terlihat terkejut dengan pengakuannya. "Oh iya, aku belum tau nama kamu," katanya sambil mengulurkan tangannya ke Riris.

__ADS_1


"Menginap? Pengganti? Sebenarnya seperti apakah hubungan wanita ini dengan Mas Raffi?" tanya Riris dalam hati. "Aku Riris," jawabnya menjabat tangan Sasi.


"Oh Riris. Kamar itu adalah kamar yang biasanya aku pakai kalo menginap, banyak barang-barang aku di sana, dan banyak lingerie kesayangan aku ada di sana, jadi karna sepertinya Raffi udah menemukan pengganti, aku rasa aku tidak memerlukannya di sini lagi, jadi aku mau mengambilnya," kata Sasi tersenyum seolah tidak malu mengatakan hal seperti itu.


"Lingerie? Dan bisa tolong jelaskan maksud kamu soal pengganti? Aku takut salah paham dengan ucapan kamu barusan," tanya Riris yang mencoba tetap berpikiran positif.


"Iya lingerie, Raffi selalu terlihat senang ketika aku memakainya setiap kami melakukan itu, kamu pasti pahamlah, makanya aku tinggal di sini saja jadi sewaktu butuh tinggal pakai. Tapi aku rasa sekarang aku sudah tidak memerlukannya di sini karna dia pasti sudah melakukannya denganmu," kata Sasi dengan raut wajah bodohnya, padahal dalam hati dia tertawa puas melihat wajah Riris berubah pucat dan matanya berkaca-kaca dengan tangan kanannya memegang dadanya.


"Ya Tuhan, bantu aku bernafas. Tenang Ris, apa yang kamu dengar belum tentu yang sebenarnya, kamu harus kuat, dengarkan dulu penjelasan Raffi akan hal ini," kata Riris menenangkan hatinya yang begitu kacau sampai membuat tenggorokannya terasa tercekat sehingga susah untuk bernafas. "Aku di sini cuma tamu, jadi silahkan saja kalau mau mengambil sesuatu, yang terpenting Mas Raffi sudah mengetahui maksud kedatangan kamu ke sini kan?" tanya Riris yang ingin memastikan kalau Sasi sudah mendapatkan ijin dari Raffi untuk mengambil sesuatu dari apartemennya. Bukannya Riris tidak percaya Sasi hanya akan memgambil barang-barang yang memang miliknya, tapi dia juga tidak mau disalahkan ketika Raffi kehilangan sesuatu yang berharga di saat dia ada di sana.


"Em..aku rasa Raffi tidak akan keberatan, kamu bisa hubungin dia untuk memastikannya," jawab Sasi lalu berlalu ke kamar untuk mengambil barang miliknya.


Begitu Sasi menghilang dari hadapannya, Riris mendudukkan badannya ke sofa, kakinya terasa lemas, pikirannya kacau karena banyak bayangan-bayangan yang muncul di pikirannya mengenai apa yang dimaksud Sasi ketika mengatakan Raffi terlihat senang melihat Sasi memakai lingerie ketika melakukan itu, Riris bukan anak kecil lagi, Riris paham apa yang dilakukan dua orang lawan jenis ketika sang wanita memakai lingerie.

__ADS_1


Tepat ketika Sasi kembali ke ruang tamu membawa paper bag, Raffi muncul dari balik pintu, awalnya dia tersenyum melihat kekasihnya yang sedang duduk di sofa, tapi melihat raut wajah kekasihnya pucat memandang ke arah lain, dia ikut memandang ke arah yang sama dan dilihatnya Sasi yang tersenyum kepadanya. Wajah Raffi terlihat begitu khawatir, melihat raut wajah kekasihnya seperti itu dia yakin Sasi telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati kekasihnya itu.


"Sayang," panggil Raffi yang mengalihkan pandangan Riris yang tadinya tidak menyadari kedatangan kekasihnya itu.


__ADS_2