Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Makan Malam di Kediaman Sanjaya


__ADS_3

Malam ini Riris terlihat seperti model fashion untuk kalangan remaja dengan atasan model sabrina berwarna putih dipadu dengan black skirt, wedges serta hand bag berwarna hitam keluaran brand favoritnya Chris**** Di**. Polesan make up natural membuat penampilannya semakin cantik, bahkan dia kagum dengan dirinya sendiri.


"Wah...sejak kapan kamu secantik ini Ris? Sayang malam ini kamu bukannya mau bertemu mas Raffi, kalo iya pasti dia bangga punya kekasih secantik kamu," gumam Riris lalu terkekeh dengan ucapannya yang memuji diri sendiri.


Hera yang baru saja membuka pintu kamar Riris dan bermaksud mengajaknya untuk segera berangkat ke rumah Sucipto tertegun mendengar bahwa putrinya telah memiliki kekasih. Bukan karena dia tidak merasa senang melihat putrinya bahagia menjalin hubungan dengan pria yang disukainya, namun Sucipto yang menginginkan Riris untuk dijodohkan dengan cucunya membuatnya begitu khawatir. Selain karena Sucipto merupakan orang yang sangat Hera dan suaminya hormati juga sayangi seperti ayah mereka sendiri, Sucipto juga sudah terlalu banyak membantu kehidupan mereka selama ini. Jadi mereka akan merasa sangat bersalah apabila nantinya Sucipto harus merasa kecewa karena keinginannya untuk menjodohkan Riris dengan cucunya tidak terpenuhi. Tapi di sisi lain Hera dan suaminya juga menginginkan Riris bahagia dengan pria yang dicintainya.


"Bunda, kok malah bengong di situ, sejak kapan?" tanya Riris yang kaget tiba-tiba melihat Hera berdiri melamun di depan pintu kamarnya.


"Baru aja, bunda takjub, sejak kapan bayi mungil bunda menjelma jadi peri cantik seperti ini," ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah Riris dan menyibakkan rambut yang menutupi wajah Riris ke belakang telinga.


"Kalo Riris dandan cantik itu wajar, kan Riris dalam tahap menarik perhatian kaum pria biar segera menemukan pasangan, lha bunda, udah punya ayah juga masih aja secantik ini, nanti banyak yang tergoda lho bunda," goda Riris melihat Hera yang masih terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna biru tua di usianya yang tahun ini genap 46 tahun itu.


"Kamu ini seneng banget godain bunda, kalo orang lain yang tergoda sama bunda ya biar saja itu hak mereka, yang terpenting bunda tidak tergoda," ucap Hera sambil menoel hidung Riris dan menggoyangkannya pelan ke kanan dan ke kiri. "Lagian ayah kamu itu jauh lebih menggoda ketimbang pria-pria di luaran sana," lanjut Hera sambil berbisik dan kemudian tertawa.


"Bunda iih...so sweet banget," kata Riris gemas.


"Udah yuk ke bawah, ayah udah nungguin dari tadi," ucap Hera sambil menggandeng Riris keluar kamar.


**********


Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 30 menit, sampailah Arif, Hera, dan Riris di rumah megah bergaya Eropa. Rumah dengan desain klasik berlantai 3 bercat putih itu dilengkapi dengan pekarangan yang tampak asri karena banyaknya pepohonan maupun tanaman hias yang ditata dengan begitu rapi.


"Rumah ini sama sekali tidak berubah sejak terakhir Riris main kesini yah, masih selalu membuat Riris terpukau," canda Riris.


"Trus, apakah Riris masih pengen main putri-putrian di sini kayak dulu?" ledek Arif.


"Ayah...itu kan waktu Riris masih kecil, udah lama banget, Riris aja lupa kalo ayah tadi gak bilang," ucap Riris yang malu karena memang dulu sewaktu Riris masih duduk di awal sekolah dasar, ketika main ke rumah Sucipto Riris sering bermain putri-putrian. Dan ketika Sucipto bertanya apakah kelak ketika Riris dewasa mau menjadi putri di rumah yang Riris anggap istana itu, Riris mengangguk penuh semangat.


"Arif," panggil seorang pria dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Juna," gumam Arif lalu berjalan mendekati pria itu dan memeluknya.


"Kamu masih tetap tampan dan gagah seperti dulu, pantas bunga kampus kita lebih memilihmu dibandingkan aku," ucap Juna sambil membalas pelukan Arif.


"Hei...ingat, dia memilihku bukan karna aku lebih tampan...tapi karna pengorbananku lebih besar ketimbang kamu," sindir Arif.


"Sudah-sudah, kenapa jadi bahas masa lalu sih. Bagaimana kabarmu Jun, dimana Yola?" tanya Hera yang kesal karena mereka berdua masih bercanda soal masa lalu.


"Kabarku baik, Yola di dalam sedang membantu pelayan menyiapkan makan malam. Oh iya, inikah calon menantuku?" tanya Juna saat tatapannya beralih ke gadis di sebelah Hera.


Mendengar kata calon menantu membuat Riris yang sedang mencium punggung tangan Juna membulatkan matanya lalu menoleh ke arah Arif dan Hera bergantian seolah meminta penjelasan.


"Ah kamu ini Jun, lihat Riris sampai terkejut mendengar candaan kamu," ucap Arif tertawa sambil menepuk bahu Juna dan menggiringnya masuk ke dalam rumah.


Mendengar ucapan ayahnya bahwa yang didengarnya barusan hanyalah candaan membuat Riris lega, kemudian Riris mengikuti ayah dan bundanya masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Riris melihat Sucipto sudah duduk di meja makan. Di dekatnya seorang wanita cantik dengan atasan blouse maroon dipadu bawahan kulot berwarna hitam yang terlihat sepantaran bundanya tengah sibuk menata makanan di atas meja dibantu beberapa wanita dengan seragam pelayan.


"Maaf Ra, ponselku hilang jadi kontak teman-teman juga hilang," jelas Yola.


"Hai Yola," sapa Arif yang dibalas senyuman oleh Yola.


"Hai Rif, inikah calon menantuku?" tanya Yola sambil mendekati Riris.


"Halo sayang, kamu cantik sekali, siapa nama kamu?" tanya Yola sambil memeluk Riris.


Setelah Yola melepaskan pelukannya, Riris mencium punggung tangan Yola, "Riris Tante," jawab Riris.


Arif dan Hera menatap Yola kemudian sama-sama menggeleng dengan sorot mata seolah memberitahu kalo Riris belum tau apa-apa mengenai perjodohan antara Riris dan Vano.

__ADS_1


"Ris, katanya kangen ma Kakek Cipto, yuk," ajak Arif untuk mengalihkan pembicaraan.


Riris mengekor di belakang Arif dan Hera yang berjalan mendekati Sucipto kemudian mencium punggung tangannya. Riris yang melihat Sucipto langsung mencium punggung tangannya kemudian memeluknya.


"Kakek, apa kabar? Riris kangen sama kakek," ucap Riris lalu melepaskan pelukannya.


"Kangen kakek apa kangen hadiah kakek?" goda Sucipto.


"Dua-duanya," jawab Riris malu-malu.


Arif, Hera, Juna, dan Yola tertawa mendengar jawaban Riris.


"Mbak, panggil Vano buat segera turun ke meja makan ya," kata Yola kepada salah 1 pelayan.


Setelah semuanya duduk, Sucipto, Arif, dan Juna terlihat serius membahas kesehatan Sucipto, sedangkan Hera dan Yola mengobrol tentang teman-teman mereka. Lalu bagaimana dengan Riris? Dia yang awalnya melihat sekeliling ruangan dan bernostalgia akan masa kecilnya yang dilaluinya di rumah itu, tiba-tiba terpaku menatap sosok pria yang sedang berjalan menuruni tangga, pria yang ditemuinya beberapa hari yang lalu di perusahaan Sanjaya, pria yang saat ini pun mampu membuat Riris terpesona meski hanya dengan tampilan casualnya yaitu kaos putih lengan panjang yang ditarik sampai di bawah siku dan bawahan celana denim. Vano yang melihat Riris menatapnya hanya menatapnya sekilas lalu berjalan menuju meja makan.


Hai readers...sesuai janji author, di bab ini author kasih visual tokoh yang lain ya, dan buat yang udah baca tolong like dan komentarnya ya buat dukung author.


1. Vano (Ammar Zoni)



2. Rendra (Maxime Bouttier)



3. Hana (Hana Saraswati)


__ADS_1


Mungkin kalian bertanya-tanya siapa Hana, makanya ikutin terus novel author ya, sampai jumpa di bab selanjutnya.


__ADS_2