
Sucipto yang melihat Riris masuk ke ruang rawatnya tersenyum lalu meletakkan ponselnya di atas kabinet.
"Cucu Kakek akhirnya datang juga," kata Sucipto.
"Kakek sudah merasa baikan?" tanya Riris sambil mencium punggung tangan Sucipto kemudian duduk di kursi sebelah ranjang.
"Tentu saja, Kakek ingin melihat kebersamaan kamu dan Vano lebih lama, jadi bukankah sudah seharusnya kalau bagaimanapun caranya Kakek harus baik-baik saja?" jawab Sucipto sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Sucipto raut wajah Riris meredup, tampak begitu jelas bahwa gadis itu merasa terbebani dengan apa yang baru saja dia dengar. Tapi tak lama kemudian Riris tersenyum, gadis itu sadar bahwa ini adalah konsekuensi dari keputusan yang telah dia ambil sebelumnya. "Apapun alasan Kakek, Riris harap Kakek selalu baik-baik saja, jadi Kakek bisa mendampingi Riris di setiap momen berharga di hidup Riris."
Sucipto tersenyum, dari sorot matanya terlihat bahwa dia merasa bahagia, dari ucapan Riris dia merasakan kasih sayang yang tulus dari gadis itu. "Bukankah kamu kesini dijemput Vano? Kemana dia?"
"Kak Vano tadi masih ngobrol denga Tante Yola di depan, Kek. Apa perlu Riris panggilin Kak Vano?" tawar Riris.
Melihat Sucipto mengangguk Riris berjalan menuju pintu masuk dan berniat membuka pintu. Bersamaan saat dia menarik gagang pintu, Vano mendorong pintu itu hingga dia kehilangan keseimbangan dan menabrak tubuh Riris. Vano yang tidak ingin Riris terluka refleks memeluk tubuh Riris lalu memutar tubuhnya dan membiarkan tubuhnya jatuh mengenai lantai dengan posisi Riris menindih tubuhnya.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Riris mengangkat kepalanya dan menatap wajah Vano dengan sorot khawatir.
Vano yang melihat wajah Riris begitu dekat darinya merasa gugup, terlebih posisi Riris yang berada di atas tubuhnya membuat jantungnya berdebar tak beraturan.
"Apakah begitu nyaman sampai kamu gak berniat bangun?" tanya Vano dengan raut datar berusaha mengalihkan perhatian Riris agar gadis itu tak menyadari betapa gugupnya dia saat ini.
Riris hanya diam, dia tertegun karena tangannya yang tepat berada di dada Vano merasakan jantung pria itu berdetak begitu cepat.
"Kenapa detak jantung Kak Vano cepet banget? Ada masalahkah dengan jantung Kak Vano?" tanya Riris dalam hati.
Vano yang melihat Riris terdiam dan mengarahkan pandangannya ke tangannya yang tepat berada di atas dada Vano buru-buru memeluk gadis itu kemudian memutar tubuhnya dan mendudukkannya di lantai. Lalu dia berdiri dan merapikan pakaiannya. Ketika dilihatnya Riris masih melamun dan belum beranjak dari posisinya, Vano berjongkok dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Riris mendongakkan wajahnya membuat jarak mereka berdua begitu dekat.
"Bagaimana bisa semua yang ada pada Kak Vano begitu sempurna, matanya, alisnya, hidungnya, bibirnya, bahkan bulu matanya," batin Riris sambil menatap satu-persatu yang ada di wajah pria di hadapannya itu.
"Bisakah kamu menyukaiku, aku tak tahu sampai kapan aku mampu menahan diri untuk tak menyentuh bibir itu," batin Vano sambil menatap bibir Riris.
"Ehm..ehm..Ris, Kakek memang bilang ingin melihat kebersamaan kamu dan Vano, tapi bisakah untuk yang seperti ini kalian lakukan di kamar saja setelah kalian berdua menikah?" kata Sucipto dengan raut bahagia.
Riris buru-buru memegang tangan Vano kemudian mereka berdua sama-sama berdiri lalu saling menatap dengan canggung.
"Kenapa Kakek membahas pernikahan di saat Riris baru saja masuk kuliah? Dia masih terlalu muda Kek," kata Vano sambil berjalan mendekati Sucipto.
"Tapi kamu sudah tidak. Kamu memang tidak menghadiri undangan pernikahan teman-temanmu tapi bukan berarti kamu tidak tahu kan kalau sebagian besar dari mereka sudah menikah?" jawab Sucipto spontan membuat Riris tersenyum geli.
Vano yang melihat ekspresi Riris merasa terpojok.
"Aku bahkan masih perlu beberapa tahun lagi untuk menginjak usia 30, Kek, aku masih muda," bela Vano.
"Riris ngikut Kak Vano aja, Kek," kata Riris saat Sucipto menatapnya seolah memintanya untuk segera memberi jawaban.
"Baiklah, aku rasa pertunangan bukanlah masalah besar," jawab Vano santai.
Riris terkejut mendengar Vano menyetujui pertunangan mereka dengan begitu mudah. Riris mengira Vano akan menolak pertunangan itu, oleh karena itulah dia menyerahkan semua keputusan kepada Vano daripada harus mencari kalimat paling tepat untuk menolak pertunangan itu agar tidak begitu mengecewakan Sucipto. Namun beberapa saat kemudian Riris tersenyum tipis, entah kenapa ada rasa senang yang hinggap di hatinya. Bagaimanapun untuk kebanyakan wanita pasti akan sangat bahagia bisa bertunangan dengan pria setampan dan sehebat Vano.
"Bagus, kalau begitu nanti Kakek akan membicarakan hal ini pada kedua orang tua kalian. Terimakasih, Ris, Kakek sangat senang, Kakek janji akan mempersiapkan acara yang berkesan untuk kalian berdua," kata Sucipto dengan begitu semangat.
"Kek, sebaiknya Kakek dengarkan dulu pendapat Riris, acara pertunangan seperti apa yang Riris inginkan, bagaimanapun pertunangan adalah salah satu momen yang penting dalam hidup seseorang," kata Vano. "Meskipun ini bukan pertunangan yang kamu inginkan, setidaknya acara pertunangan ini sesuai dengan apa yang kamu impikan," lanjut Vano dalam hati.
__ADS_1
Mendengar ucapan Vano, Riris menatap pria itu, dia begitu terkesan, dia tau bahwa pria itu sebenarnya baik meski dari luar terlihat cuek, tapi dia tak menyangka bahwa pria itu sampai memikirkan dirinya, karena setahunya mereka berdua menjalani perjodohan ini tanpa perasaan saling mencintai satu sama lain, tapi hari ini justru Riris merasa seolah Vano seperti calon tunangan yang benar-benar mencintainya.
**********
"Kak, untuk acara pertunangan kita nanti Kakak mau seperti apa?" tanya Riris sambil menoleh ke pria di belakang kemudi yang terlihat fokus menatap jalanan di depannya.
"Atur saja sesuai dengan yang kamu inginkan," jawab Vano tanpa menoleh ke arah Riris.
"Oh, aku hanya ingin momen penting seperti itu gak hanya sesuai dengan yang aku impikan, tapi juga yang Kakak impikan," kata Riris lesu.
Vano menoleh sekilas ke arah Riris.
"Apa Riris berpikir kalau aku gak peduli dengan pertunangan itu makanya dia terlihat kecewa? Tapi kenapa dia harus kecewa seolah dia berharap aku bersemangat merencanakan pertunangan itu?" tanya Vano dalam hati. "Kenapa kamu keliatan kecewa?" tanya Vano.
"Hm?" kata Riris sambil menatap Vano. "Oh, aku tau Kakak terpaksa menerima pertunangan kita, tapi seperti yang Kakak bilang, bagaimanapun pertunangan itu adalah momen penting dalam hidup kita, jadi bisakah kita mengaturnya sebaik mungkin seperti kalau kita memang menantikan momen itu? Siapa yang tau momen itu di masa mendatang adalah kenangan berharga bagi kita, perasaan orang bisa saja berubah kan?" jelas Riris sambil menunduk.
Vano tersenyum, dia senang karena dari ucapan Riris dia tahu satu hal, Riris memang berniat untuk belajar mencintainya.
"Aku tidak peduli acaranya mau seperti apa, asal kamu menyukainya itu sudah cukup. Aku sudah mendapatkan pertunangan yang aku inginkan...karena pasanganku nanti adalah kamu," jawab Vano sambil menatap dalam ke arah Riris.
#
#
#
#
__ADS_1
#
Hai readers, maaf ya sebulan lebih gak up, author cukup sibuk di real life, dan yang baca ma like komen cuma dikit jadi author prioritasin kegiatan di real life dulu, jadi tolong semangatin author yaaa...jangan lupa like, komen, vote karya author...terimakasih