Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Kedatangan Mantan Kekasih


__ADS_3

"Kapan syuting iklan produk baru kita Ren?" tanya Vano tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang sedang dia pelajari.


"Rencananya sabtu minggu ini, apakah kamu mau datang ke lokasi?" tanya Rendra yang sedang duduk di sofa tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop. Meskipun Vano adalah atasan Rendra, tapi semenjak kuliah mereka adalah sahabat dekat, jadi ketika berada di ruangan yang hanya ada mereka berdua ataupun berada di luar jam kerja, mereka berdua bersikap santai layaknya sahabat.


"Kalau tidak ada berkas yang perlu aku periksa, kita ke lokasi, sepertinya sudah lama aku tidak menghirup udara segar," kata Vano datar.


Mendengar ucapan Vano tampak Rendra tersenyum sekilas, "Oke, akan aku pastikan Jum'at semua pekerjaan untuk minggu ini sudah selesai,".


"Kamu memang paling bisa diandalkan," puji Vano.


"Bukankah dari dulu kamu tau kemampuanku makanya kamu rela memohon padaku untuk menjadi asistenmu?" ejek Rendra.


"Siapa yang memohon? Aku hanya menawarkan pilihan yang lebih baik daripada kamu harus memulai usaha dari nol," bela Vano.


"Seingatku kamu tampak frustasi bahkan sudah mau menangis waktu aku menolak untuk menjadi asistenmu," ucap Rendra dengan senyum mengejek.


Terlintas rasa malu di hati Vano karena apa yang dikatakannya memang benar, tapi Vano tidak mau mengakuinya, "Hei aku frustasi karna tiba-tiba harus menjadi CEO menggantikan kakek, lagipula lihatlah karna kamu memutuskan menjadi asistenku kamu bisa memiliki banyak hal yang kamu inginkan,".


"Iya tuan Vano yang terhormat, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karna berkat Anda saya memiliki banyak penghasilan, bahkan berkat Anda yang membuat saya terlalu bersemangat bekerja di saat weekend pun membuat saya bisa memiliki semua yang saya inginkan, ah, ralat, ada 1 yang tidak bisa saya miliki karna kebaikan anda itu, kekasih," canda Rendra tapi penuh sindiran kepada sahabatnya itu.


"Asisten Rendra, apakah anda menyalahkan saya karna status jomblo anda? Apakah perlu saya buatkan surat pemecatan agar anda memiliki banyak waktu untuk mencari kekasih yang sangat anda rindukan itu?" ucap Vano penuh ancaman karena sadar sahabatnya itu sedang menyindirnya.


Mendengar nada kesal Vano senyum Rendra memudar, "Oh tidak perlu tuan Vano, saat ini saya masih sangat bersemangat untuk bekerja di perusahaan anda," ucap Rendra lalu kembali serius dengan laptopnya.


Vano tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu ruangan Vano. Setelah pintu terbuka muncul seorang wanita cantik dengan setelan kerja elegan. Rambutnya yang bergelombang tergerai rapi sebatas pinggang.


"Maaf Pak Vano, ada seorang wanita bernama Hana yang ingin bertemu dengan anda," ucap sekretaris Vano yang bernama Dela.


Vano dan Rendra saling berpandangan. Hana yang mereka kenal hanya 1, yaitu teman mereka semasa kuliah sekaligus mantan kekasih Vano. Kalau benar Hana itu untuk apa dia datang menemui Vano. Darimana dia tau sekarang Vano menjadi CEO di perusahaan itu. Ketika sedang sibuk dengan berbagai pertanyaan di benak mereka, suara Dela menginterupsi.

__ADS_1


"Maaf Pak Vano, apakah anda mau menemui nona Hana?"


"Yasudah suruh dia masuk," jawab Vano.


Tak lama pintu kembali diketuk, setelah itu munculah sosok wanita cantik dengan gaun kuning selutut tanpa lengan tersenyum ke arah Vano. Raut wajahnya terlihat agak terkejut ketika menangkap sosok Rendra juga berada di ruangan itu. Wanita itu berjalan dengan elegan membuat rambut panjangnya yang indah berayun ke kanan ke kiri mengikuti langkah kakinya.


"Hai, Vano, apa kabar?" tanya wanita itu setelah berada di depan meja Vano.


"Baik," jawab Vano singkat. Ada perasaan senang, benci, rindu, dan penasaran bercampur menjadi 1 di hati Vano membuatnya sepintas bingung harus bersikap seperti apa.


"Hai Ren, apa kabar? Tak kusangka persahabatan kalian tetap berlanjut sampai dalam hal pekerjaan," ucap Hana saat tatapannya beralih ke Rendra. "Boleh aku duduk?" lanjutnya sambil menatap ke Vano.


"Silahkan," jawab Vano yang masih duduk di kursinya.


Hana duduk di depan Vano menatap lelaki itu dengan raut wajah bahagia. "Kamu terlihat lebih tampan daripada dulu sewaktu aku meninggalkanmu Van, huh kenapa aku kecewa, apa itu artinya aku berharap kamu jadi lebih jelek karna frustasi setelah aku meninggalkanmu? Tidak..tidak..apapun itu melihatmu sesukses dan semenarik ini membuat aku makin ingin memilikimu kembali Van," batin Hana. "Boleh aku bicara berdua denganmu Van?"


"Ada perlu apa kamu menemuiku?" tanya Vano setelah di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.


"Aku hanya ingin menemui seorang teman, apakah perlu alasan untuk itu?" jawab Hana santai.


"Iya, karna aku lupa pernah memiliki seorang teman sepertimu,"


"Van, ayolah, apakah kamu tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu," kata Hana lalu memegang tangan Vano.


Vano menepis tangan Hana yang telah lancang menyentuhnya, "Aku tidak sebodoh itu merindukan seorang wanita yang telah bersuami,".


"Aku telah bercerai dengannya 2 tahun yang lalu," kata Hana lalu menunduk, terlihat guratan kesedihan di wajahnya.


Mendengar mantan kekasihnya yang rela meninggalkan dirinya untuk menikah dengan lelaki lain dan berujung perceraian membuat Vano miris. Seharusnya dia merasa senang karena sakit hatinya terbalaskan, tapi entah kenapa hatinya ikut merasa sedih melihat kesedihan di wajah wanita yang dulu begitu dia cintai, dan mungkin masih sampai sekarang.

__ADS_1


"Aku sadar, kalau hanya kamu yang mencintaiku dengan tulus, aku bodoh karna terbuai oleh popularitas dan karirku sampai aku menyia-nyiakan lelaki sebaik dirimu, aku menyesal, maafkan aku," ucap Hana dengan mata berkaca-kaca.


"Apa tujuanmu mengatakan ini sekarang? Semuanya telah berlalu, dan aku sudah tidak perduli dengan masa lalu," ucap Vano datar.


"Apakah itu artinya kamu sudah memaafkan aku?"


"Kalau tujuanmu datang kemari hanya untuk mendapatkan maafku, anggap saja seperti itu, aku benar-benar malas membahas masa lalu, apa lagi yang tidak penting,"


"Oke, kalau kamu sudah memaafkanku, apakah kamu bisa kembali kepadaku? Bagaimanapun kita berdua pernah bahagia sewaktu bersama, tidakkah kamu ingin mengulang masa-masa itu?"


Vano mendecih, sekarang dia paham apa tujuan mantan kekasihnya itu menemuinya, sebenarnya hatinya merasa senang, tapi mengingat Hana yang dulu meninggalkannya dan memilih pria lain membuat harga diri Vano merasa terinjak-injak, dan itu membuatnya marah, "Yang jelas aku tidak ingin mengulang masa dimana aku terpuruk karna wanita yang dengan tulus aku cintai tiba-tiba menikah dengan pria yang katanya lebih bisa membuat dia bahagia," ucap Vano dengan nada mengejek.


"Van, aku minta maaf untuk itu, aku akui aku memang salah, tapi tak bisakah kamu berikan aku kesempatan lagi?" kata Hana dengan raut memohon.


"Kamu terlalu percaya diri nona, bagaimana mungkin kamu meminta kembali kepada pria yang bahkan kamu tidak tau dengan jelas perasaannya sekarang kepadamu, atau statusnya, bagaimana kalau sekarang aku sudah memiliki wanita lain? Apakah kamu tidak memikirkan hal itu?"


"Mungkin aku memang masih mengharapkanmu Hana, tapi aku tidak akan menerimamu semudah itu, kamu pernah membuatku merasa terhina karna telah meninggalkanku demi lelaki lain, dan aku tidak ingin kamu kembali berlaku seenaknya kepadaku," kata Vano dalam hati.


"Aku mengenalmu bertahun-tahun Van, dan aku yakin kamu gak akan mudah berpaling, aku yakin kamu masih mencintaiku, makanya aku belum mendengar berita pernikahanmu sampai sekarang," kata Hana dengan nada percaya diri.


"Maaf nona, Vano yang kamu kenal adalah Vano beberapa tahun yang lalu, dan Vano sekarang yang berdiri di hadapanmu ini sudah memiliki calon istri, jadi tolong berhenti menemuiku kalau niatmu hanya ingin kembali kepadaku, karna aku gak mau membuat calon istriku salah paham," kata Vano dengan raut wajah serius.


Hana terkejut Vano berkata seperti itu, sebelumnya dia sangat yakin Vano masih mencintainya dan akan dengan mudah menerimanya kembali, tapi kenyataannya jauh berbeda dari apa yang dia harapkan. Kalau Vano menolaknya mungkin Hana masih bisa terima, dia akan berusaha untuk membuat Vano kembali menerimanya, tetapi masalahnya Vano sudah memiliki calon istri, dia tidak bisa menerima hal itu.


"Gak, aku yakin itu hanya kebohonganmu untuk membalas sakit hatimu dulu kan Van?" terlihat raut frustasi di wajah Hana.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak karna itu bukan urusanku. Karna sepertinya pembicaraan kita sudah selesai, bisakah kamu meninggalkan ruanganku? Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," usir Vano dengan halus.


"Ingat Van, aku tidak perduli semua kebohonganmu, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu kembali padaku," kata Hana lalu beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan Vano dengan perasaan kesal dan kecewa.

__ADS_1


__ADS_2