Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Double Date


__ADS_3

POV Vano


Gadis kecil yang berada di hadapanku saat ini bukanlah tipe wanita yang aku sukai. Selama ini aku menyukai wanita yang dewasa baik dari segi penampilan maupun sikapnya, seperti Hana, mantan kekasih yang dulu begitu aku cintai. Namun ada yang aku sukai dari gadis ini, dia pandai menahan emosinya. Aku yakin dia begitu kesal karena harus menemaniku mencari oleh-oleh pesanan Mama, namun dia tetap terlihat tenang dan mencoba memilihkan yang terbaik bagi Mama tanpa banyak mengeluh ataupun memperlihatkan raut wajah kesal. Dia juga tidak terlihat berusaha mencari perhatianku seperti kebanyakan wanita yang berada di sekitarku. Satu hal yang menjadi kelebihan gadis ini dari sudut pandangku, dia tidak merepotkan.


Awalnya aku tidak perduli dengan gadis itu, tapi melihat raut wajahnya berubah saat melihat sesuatu di ponselnya, aku merasa kasihan. Ada kesedihan yang begitu tampak di wajahnya. Saat aku tanya kenapa, dia bilang kalau dia hanya sedih karena tidak bisa berfoto bersama kedua sahabatnya, setelah itu dia hanya diam dan tidak banyak bicara. Kalau bukan karena keinginan konyol Mama, seharusnya saat ini dia bersenang-senang dengan temannya menikmati keindahan berbagai objek wisata di Jogja. Rasanya aku ingin mengajaknya mengunjungi salah 1 objek wisata yang menurutku bagus untuk menebus perasaan bersalah di hatiku, tapi itu akan memakan waktu yang lama dan aku tidak mungkin menyuruhnya secara terang-terangan untuk memilih pulang ke Jakarta bersamaku ketimbang bersama rombongan.


Ketika aku mendengar bahwa Mama meminta dibelikan tiwul, muncul sebuah ide di pikiranku, dan sepertinya ideku berhasil. Kulihat gadis itu begitu senang dengan rencanaku yang akan membawanya mengunjungi salah 1 objek wisata yang populer di Jogja, terlihat dari senyumnya yang seolah tak memudar walau beberapa menit telah terlewati. Dan entah kenapa senyum itu begitu terlihat manis di mataku membuat perasaan senang itu juga hinggap di hatiku, hingga tanpa sadar aku ikut tersenyum dan larut dalam lamunanku.


**********


POV Author


"Kak?" panggil Riris sambil memberanikan diri menepuk pelan bahu Vano karena dilihatnya pandangan pria itu menerawang jauh sambil tersenyum seolah asyik dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa?" tanya Vano setelah tersadar dari lamunanya.


"Makanannya udah dateng dari tadi, Kakak malah melamun sambil senyum-senyum sendiri," kata Riris sambil menahan tawa. Vano yang biasanya terlihat dingin dan berwibawa terlihat lucu baginya dengan ekspresi tadi.


Vano berdehem untuk mengikis rasa malunya karena kekonyolannya tadi. "Yaudah buruan dimakan, bentar lagi Rendra kesini buat jemput kita,".


"Jemput kita?" tanya Riris yang baru saja menghabiskan suapan pertamanya.


"Iya, tempat yang akan kita kunjungi itu jauh, aku udah capek nyetir seharian," jelas Vano yang tampak sangat menikmati makanannya.

__ADS_1


"Oh gitu," kata Riris singkat, ada kelegaan di hati Riris karena nanti dia tidak hanya berdua bersama Vano.


Setelah menunggu sekitar 30 menit sambil menghabiskan makanan mereka, datanglah asisten pribadi Vano dengan seorang wanita yang mengekor di belakangnya. Vano yang mengenali siapa wanita yang berada di belakang Vano hanya tersenyum meledek ke arah Rendra.


"Hai Van, maaf agak lama, tadi lokasi aku agak jauh dari sini," kata Rendra dengan canggung seolah dia sedang kepergok berkencan dengan seorang wanita.


"Maaf ya Ren, kalau aku tau kamu sedang bersenang-senang aku tidak akan mengganggumu," kata Vano dengan nada mengejek.


"Bukan begitu kok Pak, tadi saya minta tolong Pak Rendra untuk mengantar saya ke suatu tempat, karna akan memakan waktu lama kalau Pak Rendra mengantar saya ke hotel terlebih dahulu, jadi saya lancang ikut kesini, maaf," jelas Rosi.


Riris yang baru kembali dari toilet terkejut sekaligus senang melihat keberadaan sabahabatnya.


"Rosi, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Riris dengan wajah cerianya.


"Terus ini gimana? Kamu mau ikut kita sekalian atau gimana?" tanya Vano ke Rosi.


Rosi hanya diam karena tidak mengerti arah pembicaraan Vano. Riris yang melihat Rosi menatapnya seolah meminta penjelasan tersenyum, "Kak Vano mau ajak aku ke objek wisata yang populer di Jogja, soalnya tadi kan aku gak ikut kalian jalan-jalan, kamu mau ikut kita sekalian gak?" tanya Riris penuh harap.


Rosi melihat arlojinya, "Apakah waktunya cukup?".


"Aku pulangnya bareng Kak Vano nanti, ikut penerbangan malam, jadi masih ada waktu buat jalan-jalan, gimana?" jelas Riris.


"Memang kalo saya ikut tidak masalah Pak Vano? Maksud saya nanti kan sayang tiket saya terbuang, lagipula harus keluar biaya lagi buat beliin saya tiket," tanya Rosi sambil menatap canggung ke arah Vano.

__ADS_1


"Gak masalah kalo memang kamu mau ikut, nanti biar Rendra yang urus masalah tiket," jawab Vano.


Mendengar ucapan Vano membuat Riris dan Rosi sama-sama tersenyum senang.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam sampailah mereka di salah 1 pantai di Gunung Kidul. Riris yang memang dari dulu menyukai pantai terlihat begitu menikmati pemandangan sekitar. Vano dan Rendra hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua gadis di hadapan mereka berlarian kesana kemari berfoto dengan berbagai pose. Ketika melihat kedua gadis itu berjalan menuju bibir pantai, Vano berteriak meminta mereka untuk mengikutinya.


"Kita mau kemana Kak?" tanya Riris.


"Keistimewaan pantai ini bukan terletak pada pantainya, tapi ada di bukit itu," jelas Vano sambil mengarahkan telunjuknya ke atas.


Riris dan Rosi yang melihat ke arah yang ditunjuk Vano langsung terpukau, terlihat sebuah spot menyerupai teras yang terbuat dari kaca di atas bukit yang menjorok ke arah laut.


Setelah antri beberapa saat, Riris dan Rosi terlihat begitu antusias mengabadikan foto mereka di berbagai spot menarik yang ada di sana, tidak hanya teras kaca, tapi juga glass boat dan giant chair. Bahkan beberapa kali tanpa rasa malu Rosi meminta bantuan Rendra untuk mengambil fotonya berdua dengan Riris. Setelah puas berfoto, Riris dan Rosi menikmati semilir angin laut dengan bermain air di bibir pantai, sedangkan Vano dan Rendra memutuskan untuk mencari minuman dan camilan di warung yang berada di dekat tempat parkir.


Ketika sedang asyik berfoto dengan ponselnya, tiba-tiba ada seorang pria yang merebut ponsel Rosi kemudian berlari dengan kencang menjauhi kedua gadis itu. Rosi yang menyadari ada yang merampas ponselnya mengejar pria itu. Riris yang melihat Rosi berlari mengejar seseorang ikut berlari di belakang Rosi. Tanpa mereka sadari Rosi dan Riris sampai di suatu tempat yang begitu sepi, sepertinya tempat itu lumayan jauh dari area wisata. Pria muda dengan kaos hitam dan celana denim penuh sobekan yang merampas ponsel Rosi menghentikan langkahnya karena merasa aman berada di tempat yang jauh dari keramaian. Tak lama muncul 3 pria yang terlihat seumuran dengan penampilan seperti preman dari arah belakang mereka. Salah 1 pria menghampiri pria yang merebut ponsel Rosi, entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka tampak tertawa sambil melirik ke arah Riris dan Rosi dengan tatapan penuh *****.


"Hebat banget kamu Gas bisa bawa 2 bidadari secantik ini," seru pria yang berada di sebelah pria yang merampas ponsel Rosi.


"Sepertinya memang ini hari keberuntungan kita Don," kata pria bernama Bagas sambil tersenyum licik. "Sepertinya kalian tidak hanya harus merelakan barang berharga kalian, tapi juga milik kalian yang berharga," kata Bagas menatap ke arah Riris dan Rosi lalu mengarahkan pandangannya ke bawah sambil tersenyum licik. Bukannya takut justru Riris dan Rosi tampak begitu marah karena paham dengan apa yang kedua pria itu pikirkan.


"Beb, kamu bisa menangani 2 orang di belakang?" bisik Rosi.


"Harus ya? Ini aku pake rok lho," kata Riris ikut berbisik.

__ADS_1


"Gunain tangan kamu aja beb, oke? Aku serahin dua orang di belakang, biar aku kasih pelajaran cowok breng*ek bero*ak mesum yang di depan," kata Rosi dengan amarah yang terlihat jelas di matanya.


__ADS_2