
Riris yang semenjak pulang dari apartemen Raffi kemarin hanya mengurung diri di kamar dan baru bisa tidur saat hari menjelang subuh, pagi ini terpaksa bangun meski kepalanya terasa berat karena ponselnya tak mau berhenti berdering meski dia telah mengabaikannya. Matanya terlihat bengkak dan sembab karena hampir tidak berhenti menangis akibat bayangan-bayangan momen manis yang dilaluinya bersama Raffi selalu terlintas di pikirannya, dan momen itu tidak akan dia rasakan lagi bersama pria yang sangat dicintainya itu. Saat ini dia seolah seperti seseorang yang terbang begitu tinggi lalu terhempas ke jurang yang begitu dalam, semua yang ada pada dirinya terasa sakit, terlebih hatinya.
Riris terlihat bimbang saat melihat nomor tak dikenal tampak di layar ponselnya. Setelah ponselnya berdering lagi untuk ketiga kalinya karena nomor yang sama, Riris memutuskan untuk mengangkat telepon itu.
"Halo," sapa Riris dengan suara serak.
"Kenapa baru diangkat?" protes seorang pria di seberang sana.
"Kok suaranya tidak asing?" batin Riris. "Maaf, saat ini dengan siapa saya berbicara?" tanya Riris yang memutuskan untuk bertanya karena kepalanya masih terasa pusing hingga enggan untuk berpikir.
"Calon suamimu. Buruan siap-siap, setengah jam lagi aku jemput, Kakek ingin bertemu," jawab pria itu lalu menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Riris.
"Kak Vano? Apakah dia juga sudah tau mengenai perjodohan yang diinginkan Kakek?" gumam Riris lalu menghela nafasnya kasar, dia merasa frustasi dengan masalah yang seolah menghampirinya secara bersamaan. "Tunggu, setengah jam?" gumam Riris lagi mengingat perkataan pria tadi di telepon, lalu dia buru-buru beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.
Riris yang biasanya hanya memoleskan make up natural di wajahnya terlihat sibuk mengaplikasikan concealer, eyeshadow, dan eyeliner agar wajahnya terlihat segar, bahkan dia memakai softlens yang hampir tak pernah dia gunakan agar nantinya dia punya alasan ketika ada yang menyadari kemudian bertanya kenapa matanya memerah. Karena merasa diburu waktu, Riris terlalu fokus menyelesaikan riasannya hingga tak menyadari Hera yang masuk ke kamarnya dan berjalan mendekatinya. Dia tersenyum melihat putrinya berdandan sangat cantik tidak seperti biasanya.
"Apakah Riris mulai menyukai Vano, hingga dia berdandan secantik itu untuk menarik perhatiannya?" tanya Hera dalam hati.
Begitu menyelesaikan riasannya, Riris beranjak dari kursi hendak mengambil tas nya. Dia terkejut karena Hera telah berdiri di belakangnya sambil melamun. "Bunda, sejak kapan di situ, bikin Riris kaget aja," protesnya.
"Barusan kok sayang, Bunda mau kasih tau kalo Vano udah nungguin di ruang tamu, katanya udah telepon kamu tadi mau ajak kamu jenguk Kakek Cipto," kata Hera sambil memperhatikan penampilan putrinya yang tidak seperti biasanya.
"Oh, yaudah kalo gitu, Riris ambil tas dulu," kata Riris meraih tas di atas tempat tidur lalu menggandeng Hera keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Kok penampilan kamu beda sayang?" tanya Hera ketika mereka sedang menuruni tangga.
Riris menghentikan langkahnya kemudian memperhatikan dirinya sendiri, "Kelihatan berlebihan gak Bunda?" tanyanya merasa tidak percaya diri.
"Justru kelihatan cantik banget sayang, kamu kelihatan lebih dewasa, serasi banget kalo disandingin ma Vano," kata Hera sambil tersenyum. "Ups, maaf sayang," lanjutnya ketika menyadari apa yang dia katakan, dia takut Riris tersinggung akan ucapannya karena setahunya putrinya itu masih memiliki kekasih.
"Huh, sepertinya Kakek udah cerita ke semuanya ya soal perjodohan itu," keluh Riris.
Hera yang melihat putrinya menjadi kurang bersemangat, mengelus kepalanya, "Udah sayang, jangan terlalu dipikirkan, kan Kakek Cipto juga gak maksa, sekarang buruan temui Vano, kasihan dia kelamaan nunggunya,".
"Iya Bunda," kata Riris lalu berjalan menuju ruang tamu.
Melihat kedatangan Riris, Vano yang awalnya menampakkan raut biasa membulatkan matanya. Gadis dengan dress hitam selutut tanpa lengan dipadu kemeja berwarna gold oversize yang diikat ke depan itu terlihat begitu memukau dengan rambut yang diikat sebagian ke belakang dan riasan yang membuat gadis itu terlihat begitu cantik dan seksi.
Vano yang tersadar dengan sendirinya merasa malu saat memergoki Hera menertawakannya.
"Apa Tante Hera tahu kalo aku barusan bengong gara-gara lihat penampilan Riris sampe dia menertawaiku seperti itu? Kalo iya malu banget, Vano...Vano...kenapa kamu yang biasanya bisa cuek sama cewek secantik apapun bisa terpukau hanya karna penampilan gadis kecil itu? Aku harus segera pergi dari sini" kata Vano dalam hati. "Tante, kita pamit dulu ya," kata Vano sambil mencium punggung tangan Hera dan menatap Riris seolah memintanya untuk segera pergi bersamanya.
"Iya, hati-hati ya Van, hati-hati sayang," kata Hera saat Riris mencium punggung tangannya.
Hera ikut keluar untuk mengantar kepergian mereka dan baru masuk ke dalam rumah ketika mobil Vano sudah berlalu meninggalkan pekarangan rumah Riris.
"Kamu bilang apa sama Kakek sampai Kakek begitu bahagia dengan keputusan kamu soal perjodohan itu?" tanya Vano membuka percakapan.
__ADS_1
Riris menatap Vano yang fokus memperhatikan jalan di depan, kemudian menunduk sambil meremas kemejanya dengan kedua tangannya karena merasa gugup dengan pertanyaan pria di sebelahnya. Riris mengingat apa yang dikatakannya kepada Sucipto, dia baru sadar Vano pasti akan menolak dijodohkan dengan wanita sepertinya, karena menurutnya dia kalah cantik dan seksi jika dibandingkan dengan mantan kekasih Vano, Hana. Jadi mungkin saja Vano akan marah kepadanya karena dia justru memberikan jawaban yang seolah membuat Sucipto berharap atas perjodohan itu.
"Sebelumnya aku minta maaf kalo keputusan aku menyulitkan Kak Vano ke depannya, tapi aku mengambil keputusan seperti itu karna aku takut Kakek kembali drop kalau aku terang-terangan menolaknya," jawab Riris.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Vano lagi. Dia penasaran karena Sucipto terlihat bahagia membahas perjodohannya dengan Riris, itu artinya Riris tidak menolak perjodohan itu. Tapi ketika ditanya apakah Riris menerima perjodohan itu, Sucipto tidak menjawab dan hanya memintanya untuk berusaha mengambil hati gadis di sampingnya itu.
Riris menoleh Vano sekilas, tampak raut ketakutan di wajahnya. "Aku cuma bilang, aku minta waktu buat lebih mengenal Kakak dan mencoba untuk...emm...emm...," jawab Riris lalu menoleh sekilas ke arah Vano seolah ragu dengan apa yang akan dikatakannya. "Untuk mencintai Kakak," lanjutnya dengan suara lirih tapi masih bisa didengar oleh Vano.
Mendengar jawaban Riris entah kenapa ada perasaan senang muncul di hati Vano hingga terlihat senyuman tipis di bibirnya, entah gadis itu menyadarinya atau tidak.
"Kok Kakak diem? Apa Kakak marah karna aku bilang seperti itu ke Kakek?" tanya Riris yang melihat Vano tak memberikan respon apapun.
"Bukannya kamu punya pacar? Apakah jawaban kamu itu gak menyulitkan kamu nantinya?" tanya Vano.
"Kenapa Kak Vano justru seolah mengkhawatirkan posisiku? Dia juga tidak terlihat marah karna keputusan aku, apakah itu artinya dia menyetujui perjodohan itu? Ah tidak..tidak..mana mungkin, kamu harus sadar diri Ris," kata Riris dalam hati.
"Tidak?" tanya Vano karena melihat Riris menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat seolah mengusir sesuatu yang beterbangan di sekitar kepalanya.
"Hah? Bukan, aku gak ada hubungan dengan pria manapun...saat ini," jawab Riris lirih sambil menahan air matanya yang seolah siap mengalir karena mengingat kembali hubungannya dengan Raffi yang telah berakhir.
Vano yang sebenarnya selalu memantau Riris melalui orang suruhannya sehingga dia tahu bahwa beberapa waktu terakhir gadis di sebelahnya itu sedang menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Raffi, mengerutkan dahinya karena ragu dengan jawaban Riris.
"Sepertinya gadis ini tidak berbohong, tapi tidak mungkin juga orang suruhanku memberikan informasi yang salah, tunggu, kenapa wajahnya terlihat sedih? Apakah mungkin gadis ini baru saja mengakhiri hubungannya? Apakah karna pejodohan itu?" tanya Vano dalam hati.
__ADS_1