Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Perjodohan


__ADS_3

"Kenapa Kakek bisa terkena serangan jantung lagi?" tanya Riris setelah di ruangan itu hanya ada dia dan Sucipto.


"Tadi mantan kekasih Vano datang menemui Kakek, dengan tidak tau malunya dia membahas apa yang Kakek lakukan di masa lalu yang dia anggap sumber permasalahan hingga hubungannya dengan Vano berakhir, padahal andai saja dia tau Kakek melakukan itu karna Kakek tau semua kelakuannya yang tidak setia di belakang Vano, dia tidak akan berani mengancam seperti tadi," jelas Kakek lalu tersenyum menertawakan kelakuan Hana yang menurutnya bodoh.


Ingatan Riris kembali pada saat dia dan Yola berbelanja di mall dan bertemu dengan seorang wanita cantik dengan penampilan bak model. "Apa mungkin yang dimaksud Kakek wanita itu?" kata Riris dalam hati. "Mengancam?" tanyanya.


"Iya, dulu tanpa sepengetahuan Vano Kakek berkali-kali datang menemuinya dan memintanya mengakhiri hubungannya dengan Vano, dan Kakek bilang, kalau dia tetap menjalin hubungan dengan Vano maka Kakek akan membuat karirnya hancur dengan kekuasaan Kakek. Dia mengungkit hal itu dan mengancam akan mengatakan semua itu ke Vano kalo Kakek tidak mau membantunya untuk kembali dekat dengan Vano," kata Sucipto dengan mata menatap lurus ke depan mencoba mengingat kejadian tadi sewaktu Hana menemuinya.


"Apa yang Kakek tidak sukai dari wanita itu, sampai Kakek memintanya mengakhiri hubungannya dengan Kak Vano?" tanya Riris.


"Dia tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita, dari kabar yang Kakek dapat dari orang yang selalu memantau gerak-geriknya, dia sering berkencan dengan rekan-rekan kerjanya di saat dia masih menjalin hubungan dengan Vano, meskipun misal mereka di sana membahas masalah pekerjaan, bukankah tidak etis kalau sering berdua dengan lawan jenis bahkan terlihat mesra, seharusnya dia bisa menjaga sikapnya di tempat umum sehingga tidak akan menimbulkan kesalahpahaman bagi orang yang melihatnya, bagaimana citra Vano nanti kalo istrinya seperti itu. Dan pada akhirnya dia meninggalkan Vano untuk menikah dengan salah satu rekan yang berkencan dengannya," kata Sucipto sambil tersenyum miris mengingat betapa terpuruknya cucu satu-satunya itu saat Hana meninggalkannya untuk menikah dengan pria lain. Satu sisi dia senang saat itu karena akhirnya Vano terbebas dari Hana, tapi di sisi lain dia sedih dengan keadaan Vano yang melampiaskan kesedihannya dengan bekerja tanpa kenal waktu hingga sering jatuh sakit. Saat itu Sucipto sama sekali tidak melihat senyum di wajah Vano, dia terlihat sama sekali tak mempedulikan orang di sekitarnya, bahkan dia kejam terhadap dirinya sendiri dengan membiarkan tubuhnya bekerja keras tanpa memperhatikan asupan nutrisi untuk tubuhnya.


Riris yang tak menyangka bahkan pria sesempurna Vano pernah terpuruk karena seorang wanita, hanya terdiam dan larut dalam lamunannya.


"Apakah kamu tidak ada perasaan terhadap cucu Kakek?" tanya Sucipto membuat Riris tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Ha? Gimana Kek?" tanya Riris memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Apa kamu tidak menyukai cucu Kakek?" tanya Sucipto mengulang pertanyaannya.


"Mungkin hampir semua wanita akan suka dengan Kak Vano Kek, dia kan tipe idaman wanita, tampan, materi berlimpah, dan menurut aku meskipun dari luar terlihat dingin tapi sebenarnya dia orang yang perhatian, Riris juga kagum sama Kak Vano," kata Riris sambil menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinganya menyembunyikan rasa malunya karena mengungkapkan kekagumannya pada Vano.


Kakek tersenyum mendengar jawaban Riris, "Sebenarnya dari dulu Kakek ingin sekali menjodohkan kalian berdua...," belum sempat Sucipto meneruskan ucapannya perhatiannya beralih kepada bunyi nyaring karena sendok yang dipegang Riris jatuh ke lantai.


"Maaf Kek," kata Riris lalu mengambil sendok yang dia jatuhkan dan terlihat mengarahkan pandangannya ke kabinet berharap ada sendok lain yang bisa dia gunakan.


"Kakek sudah kenyang, kamu bisa membereskan makanan ini," kata Sucipto yang melihat Riris kebingungan mencari sendok.


"Bagaimana menurut kamu?" tanya Sucipto.


"Tentang?" tanya Riris dengan gugup. "Ini bukan tentang perjodohan kan? Please jangan,".

__ADS_1


"Perjodohan kamu dan Vano, Kakek akan senang sekali bila kamu menyetujuinya, dan rasanya Kakek akan lebih berumur panjang bila bisa melihat kalian menikah," kata Sucipto sambil memasang wajah memelasnya.


Duarrr. Seperti ada yang meledak di ruang hati Riris. Wajahnya pias mendengar ucapan Sucipto yang seolah membuatnya memiliki andil untuk membuat Sucipto berumur panjang. "Apa ini? Apa yang harus aku katakan, apakah Kakek akan baik-baik saja kalau aku terang-terangan menolaknya? Tapi kalau aku tidak menolak, bagaimana kalau Kakek menganggap aku setuju dan semua benar-benar terjadi seperti keinginannya? "


**********


Sasi tampak kesal karena sudah lebih dari tiga kali menekan password pintu apartemen Raffi tapi pintu itu tidak kunjung terbuka seperti biasanya. "Apakah Raffi mengganti passwordnya? Apakah dia benar-benar serius ingin mulai menjaga jarak denganku?" gumam Sasi. Kemudian dipencetnya bel apartemen itu, setelah dua kali dia memencet bel, barulah pintu terbuka dan dilihatnya Raffi yang terlihat tampan dengan rambutnya yang masih basah. Sasi menelan ludahnya karena merasa bergairah melihat mantan kekasihnya itu terlihat menggoda meski hanya memakai kaos oblong dan celana boxer.


Melihat kedatangan Sasi, Raffi berlalu tanpa mengatakan apapun karena dia tidak mungkin mengusir wanita itu, bagaimanapun Raffi masih menyayanginya meskipun hanya sebatas teman. Tapi dia juga sebisa mungkin bersikap biasa layaknya teman karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan kekasihnya.


"Kenapa kamu mengganti password apartemenmu Fi? Apakah sekarang aku bahkan tidak boleh berkunjung kesini?" tanya Sasi meletakkan tasnya di sofa lalu mengikuti Raffi yang berniat mengambil air minum.


"Aku tidak ingin kamu tiba-tiba di dalam apartemenku dan kekasihku melihatnya," jelas Raffi singkat sambil meneguk minumannya lalu meletakkannya di atas meja.


Sasi merangkul leher Raffi dan menatap matanya, "Apakah aku sudah benar-benar tidak berarti bagimu Fi?" tanyanya sambil menatap dalam mata Raffi.

__ADS_1


Raffi yang merasakan nafas Sasi menerpa wajahnya tiba-tiba merasa bergairah, bagaimanapun dia pria normal yang sebelumnya telah sering melakukan hubungan suami istri. Sasi yang melihat Raffi mulai tergoda olehnya tersenyum licik, ditekannya tengkuk Raffi hingga wajah pria itu dapat melihat belahan dadanya dari celah bajunya. Raffi yang sudah sering melihat bahkan menikmati kedua bukit kembar wanita di hadapannya itu mengingat kembali percintaan panas mereka dulu membuat bagian bawahnya menegang. Sasi yang merasakan ada yang bergerak menusuk perutnya tersenyum penuh kemenangan.


"Apa aku perlu membantumu membuatnya tidur lagi? Aku rasa itu tidak masalah karna selama ini kita juga masih sering melakukannya," bisik Sasi di depan telinga Raffi berharap pria di hadapannya semakin bergairah, jujur dia juga merindukan sentuhan pria di hadapannya itu, pria yang dia harap masih bisa dia miliki seutuhnya.


__ADS_2