
"Hai Fi, aku kesini cuma mau ambil barang-barang aku, karna sepertinya kedatanganku mengganggu waktu kalian, aku langsung pulang ya," kata Sasi sambil menepuk pelan bahu Raffi seolah memberinya kekuatan untuk perdebatan yang mungkin akan pria itu hadapi setelah kepergiannya. "Ris, aku pulang ya," lanjutnya menoleh sekilas ke arah Riris lalu berlalu keluar dari apartemen.
Riris hanya mengangguk karena dia masih enggan membuka mulutnya, ditatapnya Raffi yang berjalan mendekatinya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Sayang, apa Sasi mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" tanyanya sambil berjongkok di depan Riris yang sedang menunduk mencoba menenangkan dirinya.
"Dia hanya bilang kalau dia ingin mengambil lingerie kesayangannya, katanya dia tinggal di sini karna Mas terlihat menyukainya saat dia memakainya ketika kalian melakukan hal itu," kata Riris lalu menatap Raffi ingin mengetahui respon pria itu.
Raffi begitu terkejut, dia bingung harus menjelaskan seperti apa, dia yakin saat ini kekasihnya ini paham apa maksud ucapan Sasi. "Sayang," katanya sambil mencoba menggenggam kedua tangan Riris yang ditepis lembut oleh gadis itu.
"Tolong Mas jelasin agar aku tidak salah paham dan benar-benar tersakiti oleh perkataannya," kata Riris lembut.
Raffi menunduk dan mencoba memikirkan penjelasan yang paling tepat hingga kekasihnya itu mengerti dan tidak mengambil keputusan yang ditakutkan oleh Raffi. "Mas akan cerita semuanya, Mas harap kamu mengerti dan memaafkan Mas," katanya sambil menatap Riris dengan raut penuh harap. "Mas adalah orang yang merenggut kesucian Sasi," katanya lirih.
Riris yang begitu terpukul dengan jawaban Raffi menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berusaha menahan sesak di dadanya.
"Sejak itu Mas sering memergoki Sasi berselingkuh dan bahkan Mas tau Sasi sampai ber***** dengan pria-pria itu, tapi Mas pura-pura tidak mengetahuinya dan tetap menerimanya karna Mas sayang sama dia, Mas berharap Sasi akan berubah tapi kenyataannya Sasi tak pernah mau berubah," kata Raffi sambil tersenyum miris mengingat kebodohannya di masa lalu yang selalu saja memaafkan perselingkuhan Sasi. "Sampai suatu hari Sasi hamil, dan nekat menggugurkannya," Raffi menghentikan ucapannya dan menatap mata kekasihnya yang memerah dan mulai berkaca-kaca. Raffi berniat menyentuh pipi Riris tapi gadis itu memalingkan mukanya. Raffi benar-benar merasa bersalah pada kekasihnya, dia tahu betapa sakitnya hati kekasihnya itu saat ini. "Mas juga tidak tau apa-apa waktu itu, tiba-tiba saja keluarganya mengabari Mas kalau Sasi masuk rumah sakit dan begitu marah pada Mas. Terlebih karna tindakan gegabah Sasi itu dia harus kehilangan rahimnya, keluarganya begitu terpukul dan menyalahkan Mas atas apa yang terjadi. Sebenarnya Mas mau membela diri karna Mas juga tidak yakin itu anak Mas, tapi demi menjaga psikis Sasi yang masih syok karna kehilangan rahimnya, Mas hanya menerima tuduhan maupun kemarahan keluarganya," jelas Raffi.
"Apakah ada kemungkinan anak itu benar-benar anak Mas?" tanya Riris terbata-bata karena menahan tangisnya.
__ADS_1
"Iya," jawab Raffi lirih.
"Apakah sewaktu Mas udah kenal aku, Mas masih melakukannya dengan Sasi?" tanya Riris lagi.
"Iya," jawab Raffi sambil menundukkan kepalanya tidak sanggup melihat betapa terlukanya kekasihnya itu.
Riris yang tidak sanggup lagi menahan dadanya yang semakin sesak menangis tersedu-sedu. Ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Maafkan Mas, sayang, Mas bersumpah, setelah kami memutuskan untuk berpisah, Mas tidak pernah berniat melakukannya lagi, Sasi yang menggoda Mas, dan semenjak Mas memintamu menjadi kekasih Mas, Mas udah gak pernah lagi melakukan hal itu dengan Sasi maupun wanita manapun," jelas Raffi berharap kekasihnya itu tidak marah kepadanya.
"Apapun yang terjadi setelahnya aku tidak peduli, tapi bagiku ketika seorang pria telah berani merenggut kesucian seorang wanita, maka dia harus bertanggungjawab terhadap wanita itu sampai akhir, jadi aku rasa, di sini akulah yang bersalah karna muncul di antara kalian," kata Riris dengan mata yang terlihat begitu sembab.
"Sayang maafkan aku, tolong jangan seperti ini," kata Raffi yang seolah tau apa yang akan terjadi selanjutnya mengenai hubungannya dengan Riris.
"Aku yang minta maaf Mas, seharusnya dari awal kita tidak menjalin hubungan ini," kata Riris terbata. "Mulai sekarang, mari kita akhiri hubungan kita Mas, aku rasa itu yang terbaik," ucapnya dengan berlinang air mata. Hatinya terasa sakit mengucapkan hal itu, tapi dia tidak mau karena kehadirannya Raffi melepaskan tanggungjawabnya atas perbuatannya kepada Sasi. Dia juga seorang wanita, dia bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Sasi ketika telah kehilangan 2 hal yang paling berharga bagi seorang wanita, kesucian dan kesempatan memiliki keturunan.
Mata Raffi memerah, dari raut wajahnya terlihat betapa frustasinya dia saat ini. "Sayang, kumohon, jangan lakukan itu, Mas sangat mencintaimu sayang," kata Raffi memeluk Riris tanpa mempedulikan Riris yang berusaha melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu Mas, aku bahkan tak tau bagaimana caraku bertahan tanpamu di sisiku setelah ini, tapi yang aku tau ini adalah yang terbaik, kamu harus bertanggungjawab terhadap perbuatanmu Mas, aku tidak mau ikut andil membuatmu semakin banyak melakukan kesalahan dengan melepaskan tanggungjawabmu terhadap Sasi," kata Riris dalam hati sambil mulai terisak lagi meluapkan rasa sakit di hatinya. "Lepaskan aku Mas, aku harus pergi," kata Riris setelah dia sudah dapat menguasai emosinya dan berhenti menangis.
"Apakah kamu serius sayang? Apakah kamu tidak mau memberikan Mas kesempatan?" tanya Raffi masih berharap Riris berubah pikiran.
"Aku bukannya tidak mau Mas, tapi aku tidak bisa, mengertilah, ini berat buat aku, tapi ini yang terbaik, tetaplah jadi Raffi yang kukenal, baik dan...bertanggungjawab," kata Riris lirih.
Raffi yang sama sekali tidak mau kehilangan Riris tidak menemukan cara apapun untuk merubah keputusan Riris, hingga tanpa memikirkan akibatnya, dilumatnya bibir Riris secara paksa, didorongnya gadis itu hingga tertidur di sofa tanpa melepaskan ciumannya. Raffi tak mempedulikan Riris yang berusaha mendorong tubuhnya yang mengungkung tubuh gadis itu. Diraihnya kancing kemeja Riris paling atas berusaha untuk membukanya. "Kamu sendiri yang bilang kalau seorang pria telah berani merenggut kesucian seorang wanita maka dia harus bertanggungjawab sampai akhir sayang, maka aku terpaksa melakukan ini untuk membuatmu tetap berada di sisiku, maafkan aku," kata Raffi dalam hati.
Riris yang tahu apa yang akan dilakukan Raffi merasa pria itu sudah keterlaluan. Awalnya dia masih mencoba berontak karena tidak ingin menyakiti pria yang masih sangat dia cintai itu, tapi melihat pria itu semakin hilang kendali Riris tidak bisa membiarkannya. Dicekalnya pergelangan tangan Raffi yang sedang berusaha melepaskan kancing kemejanya, didorongnya sekuat tenaga tubuh Raffi hingga badannya terjatuh dan membentur lantai cukup keras, lalu Riris berdiri membelakangi Raffi karena tidak tega melihat raut kesakitan pria itu akibat perbuatannya. "Tolong urungkan niat Mas untuk melakukan hal itu kepadaku, aku tidak selemah yang Mas kira, aku bisa dengan mudah melukai Mas, jangan paksa aku melakukannya," kata Riris lalu meraih tasnya dan berniat meninggalkan apartemen. Setelah membuka pintu, Riris menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang, "Terimakasih atas kebaikan Mas selama ini, dan maafkan aku untuk semuanya, aku harap untuk selanjutnya sebisa mungkin kita tidak perlu saling berhubungan," katanya lalu berlalu meninggalkan apartemen.
#
#
#
Hai readers...novelnya gak sesuai ekspektasi kalian yaa...makanya gak da like dan komen dari kalian, sedih deh...jadi gak semangat up deh...kalo emang gak suka tolong dong kritik dan sarannya...biar authors gak merasa waktu yang author luangin buat nulis sia-sia...oke..oke...terimakasih.
__ADS_1