
Setelah berlari beberapa saat, Raffi yang merasa lelah tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian berbalik arah. Riris yang tak menyangka Raffi tiba-tiba berhenti membuatnya akan menabrak tubuh Raffi, tapi sebelum itu terjadi Raffi meraih pergelangan tangan kanan Riris dengan tangan kanannya dan menariknya dengan gerakan memutar sehingga tubuh Riris berbalik menghadap ke depan membelakanginya, lalu Raffi mengunci tubuh Riris dengan memegang kedua pergelangan tangan Riris di depan perutnya. Masih dengan nafas terengah-engah Riris menatap tangan Raffi yang seolah memeluknya dari belakang, jantungnya berdegup kencang, apalagi wajah Raffi yang tepat berada di belakang kepala Riris sehingga nafasnya begitu terasa menerpa telinga Riris membuat jantungnya seolah siap melompat dari tempatnya.
"Sudah ya, aku capek, maaf aku hanya bercanda, gak maksud bikin kamu kesal," ucap Raffi pelan, suaranya yang tepat berada di telinga Riris membuat seluruh tubuhnya merinding.
"I..iya, Mas Raffi bisa lepasin aku sekarang, aku janji gak nglempar pasir lagi, aku takut kalo ada temen yang liat kita di posisi ini bakal salah paham," Riris mengucapkan itu sambil pandangannya menyapu ke sekitar memastikan tak ada temannya yang melihat adegan mereka berdua yang menurutnya romantis itu.
Setelah Raffi melepaskan tangan Riris, keduanya menunduk canggung.
"Ya Tuhan Mas, aku dah gak ada baju bersih lagi, gimana nih, mas Raffi tanggung jawab, kan mas Raffi yang nyeburin aku sampe bajuku basah kuyup gini," kata Riris dibalas senyuman oleh Raffi.
"Ya udah aku tanggungjawab, yuk ikut," Raffi menggenggam tangan Riris dan menariknya berjalan mengikutinya.
"Mas Raffi bilang dulu mau ajak aku kemana? Trus kenapa harus gandeng tangan aku? Nanti temen kita salah paham mas,".
"Kan mau beliin baju buat kamu, katanya mas suruh tanggung jawab,".
__ADS_1
Deg!! Riris tersentak tiba-tiba Raffi menyebut dirinya 'Mas', tidak seperti sesaat sebelumnya yang masih menyebut dirinya 'Aku'. Ada perasaan bahagia di hati Riris mendengarnya, terlebih sikap Raffi padanya beberapa saat yang lalu begitu manis, namun dia berusaha bersikap biasa dan meyakinkan dirinya untuk tidak terlalu berharap lebih.
"Dan biarkan saja kalo ada yang salah paham, bagus malah jadi mas gak perlu repot-repot mencegah mereka buat deketin kamu," lanjutnya sambil tersenyum.
**********
Adi yang melihat lima pria yang semua merupakan temannya sesama panitia ospek mengobrol dengan Rosi dan Azki seperti sedang berusaha mendekati kedua gadis yang populer di kalangan baik panitia maupun mahasiswa baru itu pun melangkah menghampiri mereka.
"Ros, kok cuma berdua aja, Riris mana?" tanya Adi.
"Tadi tu katanya Riris mau jalan-jalan, tapi udah setengah jam lebih gak balik-balik," lanjutnya.
"Soalnya kalian kan bertiga mulu, makanya aku tanya karna tumben kalian cuma berdua," kilah Adi takut teman-temannya menggodanya karena ketahuan tertarik sama Riris.
"Dasar alesan kamu Di, bilang aja nyariin Riris, ato cuma modus kamu aja biar bisa ikut ngobrol ma Rosi dan Azki," ledek pria tinggi bertubuh agak berisi berkulit putih yang bernama Miko.
__ADS_1
"Aku ato kalian yang nyoba deketin mereka berdua? Ati-ati Ros, Ki, jangan kemakan rayuan mereka, mereka berlima tu gak bisa liat cewek bening dikit nganggur," kata Adi dengan nada mengejek. "Aku cabut dulu ya bro, maaf ganggu," kata Adi sambil tersenyum lalu berlalu meninggalkan mereka untuk mencari keberadaan Riris.
Benar ucapan Miko bahwa Adi tertarik dengan Riris, meskipun kebanyakan teman-temannya tertarik dengan Rosi karena selain cantik juga bertubuh seksi, atau Azki karena wajahnya yang cantik alami dan sikapnya yang lembut, wajah manis dan sikap yang terkesan sedikit manja dari Riris menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum pria, termasuk Adi dan mungkin juga Raffi. Terlebih Riris semenjak duduk di bangku SD sudah dikenal sebagai siswa yang berprestasi di bidang akademik, pandai menyanyi dan bermain alat musik, tak heran kalau sebenarnya banyak yang menyukainya, hanya saja Riris tidak mudah suka kepada lawan jenis, dan dia juga tidak mau menjalin hubungan apabila memang tidak ada rasa saling menyukai. Itulah sebabnya sampai umurnya yang hampir genap 18 tahun Riris belum pernah punya kekasih.
Setelah berjalan beberapa saat, dari kejauhan Adi melihat Raffi bersama Riris yang mengekor di belakangnya, baru mau melambai ke arah mereka dan memanggil keduanya, pandangan Adi terfokus pada tangan Riris yang digandeng oleh Raffi, sontak Adi menghentikan niatnya.
"Ternyata aku kalah cepat, sejak kapan mereka berdua sedekat itu?" gumamnya penuh kekecewaan.
**********
POV Raffi
Aku bahagia karena sepertinya gadis itu juga tertarik padaku. Dilihat dari sikapnya yang selalu menghindar ketika akan dirangkul oleh temannya yang seorang pria, sepertinya dia bukanlah gadis yang bisa dengan mudah disentuh oleh sembarang pria, kalau sampai dia menerima sentuhan seorang pria, kemungkinan besar karena dia menyukai pria itu. Berhubung dia tidak mempermasalahkan saat tadi aku menggendongnya dan menggandeng tangannya di tempat umum, aku rasa dia juga menyukaiku.
Selama ini ketika aku mulai tertarik dengan seorang gadis, aku berusaha untuk menghindar atau melupakannya. Karena kesalahanku di masa lalu yang masih membayangiku hingga saat ini, aku tak berani untuk menjalin hubungan dengan gadis manapun, aku takut akhirnya hanya akan menyakitinya.
__ADS_1
Riris. Pertama kali aku melihat dia dua hari sebelum ospek, ketika dia datang ke kampus untuk mendengarkan penjelasan dari panitia mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan selama ospek. Waktu itu di depan gerbang fakultas ada tukang sol sepatu yang sudah tua duduk di bawah pohon dengan sepeda tua terparkir di sebelahnya, tiba-tiba dia menghampirinya dengan senyuman di wajahnya yang begitu manis menurutku dan menyerahkan kantong plastik lumayan besar dengan logo sebuah minimarket, sedikit terlihat isinya adalah makanan dan minuman. Kulihat rona bahagia terlihat jelas di wajah kakek itu. Setelah menyerahkan plastik itu dia berjalan masuk ke area fakultas dengan ceria, sungguh aku terpesona saat itu, tapi aku segera menepisnya. Setelah itu beberapa kali aku bertemu lagi dengannya, bahkan aku sudah berkenalan dengannya hingga aku tahu bahwa namanya Riris. Setiap bertemu dengannya aku berusaha terlihat biasa saja. Tapi lagi-lagi aku dibuat terpesona olehnya saat melihat dia menyanyikan lagu 'Tanpa Batas Waktu' sambil bermain gitar. Dia cantik, pintar, berbakat, dan baik hati, rasanya aku benar-benar ingin memilikinya. Hingga kami disandingkan sebagai pasangan favorit saat malam keakraban, untuk pertama kalinya aku memiliki keberanian untuk memulai kembali sebuah hubungan dengan seorang gadis yang kusukai, kuputuskan bahwa aku akan mengesampingkan masalahku dan memanfaatkan kesempatan saat ini untuk mendekatinya.