Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Apakah Dia Mulai Berharga Bagiku?


__ADS_3

Pagi ini Riris berencana mengunjungi kekasihnya untuk memberikan oleh-oleh khas Jogja yang sengaja dia belikan untuknya sewaktu membelikan oleh-oleh pesanan Yola. Begitu sampai di depan pintu apartemen, Riris menekan password lalu langsung masuk ke dalam karena memang kekasihnya sudah berpesan untuk selalu seperti itu.


Riris meletakkan tasnya di sofa lalu menata oleh-oleh yang dia bawa ke meja pantry. Dibukanya tudung saji di atas meja makan dan dilihatnya masih kosong. Lalu dia membuka almari tempat penyimpanan bahan makanan dan berencana membuat pancake untuk sarapan kekasihnya itu.


Raffi yang baru saja selesai mandi dan berniat keluar kamar untuk melihat apakah kekasihnya sudah datang, tersenyum melihat kekasih yang begitu dia rindukan sedang menata sesuatu di atas meja makan. Raffi berjalan pelan ke arah Riris kemudian memeluk pinggang Riris yang sedang berdiri membelakanginya. Diciumnya puncak kepala Riris beberapa saat, dinikmatinya aroma buah segar yang tercium dari rambut kekasihnya itu.


"Aku suka," ucap Raffi persis didekat telinga Riris membuat tubuh gadis itu merinding.


Riris membalikkan badannya tanpa melepas pelukan Raffi, ditatapnya wajah tampan pria yang begitu dia cintai itu. Dilihatnya pria itu tersenyum begitu manis. Riris merasa begitu gugup karena wajah kekasihnya itu hanya berjarak kurang dari sejengkal dari wajahnya.


"Apanya?" tanya Riris. "Yang Mas suka?" lanjutnya seolah paham ketika Raffi terlihat mengerutkan dahinya tak mengerti dengan pertanyaan Riris.


"Aroma rambut kamu," jawab Raffi dengan tatapan dalam. Melihat Riris balas menatapnya tanpa sepatah katapun, dikecupnya leher kiri Riris beberapa saat. "Aroma tubuh kamu," lanjutnya sambil tersenyum.


Riris yang terkejut saat tiba-tiba Raffi mencium lehernya mengepalkan tangannya kuat seolah menahan debaran di hatinya. "Mas, jangan gini ah," kata Riris sambil berusaha mendorong dada bidang Raffi dengan kedua tangannya. "Kenapa rasanya dingin dan lembab," batin Riris kemudian mengarahkan pandangannya ke dada Raffi. "Aamph," teriak Riris lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari kalau ternyata telapak tangannya menyentuh dada telanjang Raffi.


"Tutup mata kamu Riris, tutup!" kata Riris dalam hati. Tapi sepertinya Riris terlalu terpukau dengan tubuh six pack Raffi sehingga membuat matanya enggan terpejam. Riris begitu terpesona dengan penampilan Raffi yang hanya memakai lilitan handuk sebatas pinggang dan rambut yang masih basah. Ibarat sebuah apel dia begitu segar dan menarik sehingga rasanya Riris tergoda untuk memakannya. Tak mau berpikiran macam-macam Riris memalingkan mukanya ke sembarang arah untuk menghindari pemandangan di hadapannya.


Raffi yang melihat kelakuan kekasihnya terkekeh pelan. " Gak usah malu, suatu saat kamu bakal liat yang lebih dari ini," goda Raffi.


Riris mendorong tubuh Raffi dengan kuat hingga terlepas dari pelukannya kemudian berbalik memunggungi Raffi. "Mas buruan pake baju trus sarapan, aku udah bikinin Mas pancake," lanjutnya tanpa menoleh ke arah Raffi.


"Oke sayang," bisik Raffi tepat di telinga Riris kemudian mencium pipi gadis itu. Raffi berjalan menuju kamar sambil tertawa melihat kekasihnya mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


**********


Vano yang melihat pandangan asistennya lurus ke depan seolah sedang fokus memikirkan suatu hal sambil sesekali terlihat menertawakan sesuatu, melempar pulpen yang dipegangnya hingga mengenai bahu asistennya itu.


"Kenapa malah ngajak main lempar-lemparan sih Van, kayak anak kecil aja," kesal Rendra yang terkejut ada sesuatu yang mengenai bahunya.


"Trus biar gak kayak anak kecil gimana? Aku tinju aja gitu buat bikin kamu berenti melamun dan dengerin aku ngomong?" kata Vano.


Rendra yang paham kalau atasannya itu kesal karena mungkin dirinya tidak merespon saat ditanya gara-gara asyik dengan pemikirannya sendiri merasa bersalah.


"Maaf Van, aku masih kepikiran kejadian kemarin pas di pantai, aku gak habis pikir, gerakan Rosi itu seperti terlatih, gak asal," kata Rendra sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa emangnya? Kamu jadi suka sama dia gara-gara itu?" tanya Vano karena selama ini Rendra jarang membicarakan wanita.


"Aku kan cuma bertanya, iya atau tidak tinggal jawab, gampang kan?" jawab Vano santai.


"Kamu sendiri, kenapa kemarin tampak begitu khawatir saat mendengar mereka kemarin mengejar preman itu? Apakah kamu menyukai salah 1 dari mereka?" balas Rendra.


"Apakah ketika mengkhawatirkan seseorang artinya suka sama orang itu?" balas Vano.


"Tidak selalu, tapi yang pasti kekhawatiran itu muncul ketika kita menganggap seseorang berharga," kata Rendra. Sejenak dia memikirkan perkataannya sendiri. "Kenapa ketika mendengar perkataan ibu kemarin yang terlintas di pikiranku hanya Rosi, padahal Riris juga ikut bersamanya?" kata Rendra dalam hati sambil menggelengkan kepalanya seolah menyangkal apa yang baru saja terlintas di pikirannya.


"Tidak mungkin kan aku mulai tertarik pada gadis kecil itu? Itu hanya sebatas kepedulian karena aku merasa bertanggungjawab atas keselamatannya berhubung aku **y**ang mengajaknya ketempat itu kan?" kata Vano dalam hati.

__ADS_1


Disaat kedua pria tampan itu tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing, pintu ruangan itu terbuka dan masuklah seorang wanita cantik dengan gayanya yang anggun. Merasa kedatangannya tidak mendapat respon dari penghuni ruangan, wanita itu menampakkan raut wajah jengah.


"Apakah sekarang melamun menjadi bagian dari sebuah pekerjaan?" katanya memecah kesunyian yang tercipta di ruangan itu.


Vano dan Rendra yang tersadar dari lamunan mereka karena mendengar suara seorang wanita, sama-sama mengarahkan pandangan mereka ke arah wanita itu.


"Apakah sekarang seorang model hanya menjaga sopan santunnya ketika disorot kamera?" kata Rendra menyindir sikap wanita yang masuk ke ruangan Vano tanpa permisi.


Tampak raut kesal dari wajah wanita itu. "Apakah kamu kehilangan energi jika sebentar saja tidak berada di dekat Vano? Kenapa aku harus selalu melihat wajah malaikat dan iblis secara bersamaan setiap kali datang ke sini?" kata wanita itu dengan wajah malas.


"Bukankah tiap kali bercermin kamu terbiasa melihat bagaimana rupa iblis? Kenapa harus protes ketika melihat wajah iblis lain?" ejek Rendra.


"Kamu...," wanita itu kehilangan kata untuk mengungkapkan kemarahannya setelah mendengar ejekan Rendra.


"Han, tak bisakah kamu menjaga sopan santunmu di perusahaan orang lain? Lancang sekali kamu langsung masuk ke ruanganku tanpa izin," kata Vano dengan raut tidak suka.


"Maaf Van, tadi meja sekretaris kosong, jadi aku langsung masuk. Aku membawakanmu makanan kesukaan 'kita'," kata Hana menekankan kata 'kita' lalu tersenyum.


Vano mengarahkan pandangannya ke bingkisan yang berada di tangan Hana, dilihat dari bentuknya Vano paham apa yang dibawa oleh wanita itu. Sesaat terbayang berbagai momen yang dilewatinya bersama mantan kekasihnya itu di masa lalu, Vano masih ingat kebahagiaan yang mereka rasakan saat itu, sekilas hal itu membuat hatinya terasa hangat. Namun ingatan tentang bagaimana Hana tersenyum sambil menggandeng mesra laki-laki lain saat diwawancarai oleh awak media mengenai rencana pernikahan mereka, membuat Vano kembali mengingat rasa sakit yang pernah dirasakannya gara-gara wanita itu.


"Oke, taruh saja makanan itu di meja, dan setelah itu tolong segera keluar," kata Vano cuek. "Oh iya, Ren tolong bayar makanan itu dan berikan tips kepadanya karna sudah berbaik hati mengantar makanan untuk kita disaat kita tidak memesannya," lanjut Vano.


Rendra terkekeh mendengar ucapan Vano, "Oke, Van," katanya lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu.

__ADS_1


Hana yang merasa diperlakukan layaknya kurir merasa tidak terima, tapi mengingat dia sedang berusaha merebut kembali hati Vano tidak mungkin dia melampiaskan amarahnya kepada pria itu. "Tenang Hana, untuk saat ini lebih baik kamu mengalah," kata Hana dalam hati. Tak ingin berlama-lama diperlakukan tidak menyenangkan oleh pria yang disukainya, Hana menyerahkan makanan yang dibawanya ke Rendra dengan kasar lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan Rendra yang menodongkan beberapa lembar uang kepadanya sambil tersenyum mengejek.


__ADS_2