
Di kediaman Sanjaya
"Permisi Pak, bagaimana kabar Bapak?" ucap Arif sambil mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Sucipto yang baru saja menutup panggilan telepon dari cucunya.
"Kenapa kamu gak sering-sering mengunjungi Bapak untuk memastikan kalau Bapak selalu dalam keadaan baik?" ucap Sucipto yang saat ini tengah duduk santai di teras depan rumahnya.
"Maaf Pak, Arif kurang memperhatikan Bapak," jawabnya dengan raut wajah menyesal.
"Bukankah ayahmu telah berpesan sebelum dia meninggal, bahwa kamu harus menganggap Bapak seperti ayahmu sendiri dan menjaga Bapak, datang kepada Bapak untuk berbagi kebahagiaan maupun masalahmu? Tapi bahkan sejak Bapak pulang ke Indonesia kamu gak pernah mengajak istri dan anakmu mengunjungi Bapak," protes Sucipto kepada pria yang dia sayangi seperti anaknya sendiri.
"Maaf Pak, Arif baru tau Bapak sudah kembali ke Indonesia saat Bapak berkunjung ke kantor Arif beberapa hari yang lalu, Arif gak seperti Bapak yang meskipun berada di Baltimore tapi tetap tau semua tentang Arif dan keluarga Arif," bela Arif.
Sucipto tertawa pelan, "Kenapa kamu bisa bilang begitu?".
"Arif sudah kenal Bapak dari Arif masih kecil, jadi Arif tau bagaimana karakter Bapak,".
"Berarti kamu juga tau kan kalo untuk perjodohan Vano dan Riris Bapak juga tidak akan mudah menyerah?".
"Sama seperti Bapak, Arif ingin yang terbaik untuk putri Arif, tapi Arif juga ingin putri Arif bahagia Pak, jujur saat ini Riris sedang ada hubungan dengan teman prianya, dia tampak sangat bahagia Pak, Arif gak tega membuatnya sedih karna perjodohan ini,".
__ADS_1
Sucipto tampak diam lalu meraih cangkir teh di meja dan menyeruputnya sedikit lalu meletakkannya kembali ke meja, "Bapak juga gak mau membuat cucu-cucu Bapak menderita, tapi perasaan Bapak mengatakan mereka akan menjadi pasangan yang berbahagia,".
"Bagaimana kalo kita pertemukan mereka saja Pak, lalu biarkan hubungan mereka mengalir tanpa adanya paksaan dari kita, kalo memang mereka berjodoh itu akan sangat bagus, tapi bila tidak tolong biarkan mereka bahagia dengan pilihan mereka sendiri Pak," usul Arif.
"Ya, kalo gitu besok Sabtu ajak istri dan anakmu untuk makan malam di rumah Bapak, karna rencananya Jum'at besok Juna dan Yola akan pulang ke Indonesia untuk mengecek kesehatan Bapak,".
"Oh tentu Pak, Arif akan dengan senang hati datang sekalian menyambut kedatangan Juna," ucap Arif dengan wajah yang berubah ceria mendengar dia akan segera bertemu dengan sahabat rasa saudara yang lebih dari 3 tahun tidak ditemuinya. "Lalu untuk kesehatan Bapak sendiri bagaimana? Apakah pengobatan Bapak selama 4 tahun terakhir di Baltimore berdampak baik pada penyakit jantung Bapak?" lanjutnya mengingat Juna akan ke ke Indonesia untuk mengecek kesehatan ayahnya.
"Bapak sudah baik-baik saja, tapi semenjak Bapak tidak tinggal dengan mereka lagi, mereka sering khawatir berlebihan terhadap keadaan Bapak,".
"Syukurlah kalo begitu, kalo saran Arif biarlah perusahaan dibawah kendali Vano, Bapak cukup memantau dari jauh, agar tidak memicu penyakit jantung Bapak, lagi pula selama 4 tahun ini Arif dengar PT. Ultima Sanjaya semakin berjaya berkat kerja keras Vano,".
"Iya, Bapak bangga di usianya yang masih muda Vano berhasil membuat perusahaan Bapak memasuki ranking 3 besar se Indonesia," ucap Sucipto dengan senyumnya yang melebar mengingat pencapaian cucu satu-satunya yang membuatnya merasa begitu bangga.
"Kamu tau Bapak bisa sukses membangun perusahaan dari nol karna dukungan istri Bapak? Sejak Bapak melihat Riris sewaktu dia masih duduk di bangku SMP, dia mengingatkan Bapak kepada mendiang istri Bapak, jadi Bapak berharap Vano kelak akan memiliki kehidupan yang sukses dan bahagia bila bersama dengan Riris, seperti Bapak yang sukses dan bahagia karna memiliki pendamping yang baik seperti mendiang istri Bapak," jelasnya dengan mata berkaca-kaca mengingat mendiang istri yang sangat dicintainya.
"Baik Pak, meskipun Arif menyerahkan semua keputusan kepada Riris, Arif janji akan membantu Bapak mewujudkan keinginan Bapak," ucap Arif sambil menggenggam tangan Sucipto.
"Terimakasih Rif, Bapak bahagia mempunyai putra-putra yang baik seperti kamu dan Juna,".
__ADS_1
"Iya Pak, Arif juga beruntung masih memiliki Bapak yang selalu mendukung kebaikan untuk Arif,".
"Kalo gitu Arif pamit dulu Pak, ini sudah mau masuk jam makan siang, kasihan supir Arif kalo terlalu lama menunggu," pamit Arif.
"Ya kamu hati-hati," ucap Sucipto saat Arif mencium punggung tangannya.
**********
Di depan sebuah ruangan yang berada di lantai 4 gedung Fakultas Sains Universitas Tantra Mahesa, duduklah 2 gadis cantik yang asyik mengobrol santai di sofa sambil menunggu kelas berikutnya. Tak jauh dari mereka duduk, berdirilah seorang gadis dengan blouse putih bertali di bagian depan dipadu rok jeans di atas lutut sehingga membuatnya terlihat seksi, sedang bercakap melalui sambungan telepon. Dari raut wajahnya yang terlihat begitu gembira, bisa dipastikan bahwa ada kabar baik yang dia terima.
"Beeeb...aku ditawari kontrak iklan oleh PT. Ultima Sanjaya buat jadi bintang iklan produk terbarunya....Oh God aku seneng banget," ucap Rosi yang berdiri di depan Riris dan Azki sambil menghentak-hentakkan kakinya bergantian mengekspresikan kebahagiannya.
"Ros, ini bukan pertama kalinya kamu jadi model iklan kan? Kenapa heboh banget sih?" tanya Azki yang heran melihat sikap sahabatnya itu begitu girang.
"Ini tu beda Ki, itu perusahaan besar, biasanya mereka pake model kelas atas atau malah artis luar negeri buat jadi model produk mereka, lha ini mereka percayain ke aku yang notabene bukan artis, ya aku shock dong perusahaan sebesar mereka nglirik aku, gak kebayang gimana menanjaknya karir aku nanti setelah iklan mereka launching dimana-mana," jelas Rosi masih menggebu-gebu.
"Really? Bagus dunk kalo gitu, ini bisa jadi batu loncatan buat kamu ngembangin karir kamu di dunia model," kata Azki yang ikut senang setelah paham akan penjelasan Rosi. "Kok kamu dengernya biasa aja Ris?" tanyanya melihat Riris hanya tersenyum tanpa memberikan komentar.
"Hehe...habisnya geli liat tingkah Rosi, selamat ya Ros, moga dengan iklan itu kedepannya karir kamu makin sukses, jadi kita berdua bisa punya temen artis terkenal, ya kan Ki?" kata Riris mencoba bersikap biasa, awalnya Riris agak kaget, karna PT. Ultima Sanjaya adalah perusahaan yang dia ketahui milik Kakek Cipto, orang yang sudah dianggap keluarga bagi keluarga Riris. Entah sudah berapa lama Riris tidak bertemu dengan Kakek Cipto, seingatnya sudah 4 tahun terakhir Riris tidak bertemu dengannya. Terakhir dia diberitahu oleh ayahnya kalau Kakek Cipto mengalami serangan jantung yang lumayan parah dan harus dibawa ke Baltimore untuk mendapatkan perawatan secara intensif. Selain karna di sana ada salah 1 rumah sakit terbaik di dunia, anak dan menantunya juga merupakan dokter di rumah sakit tersebut sehingga memudahkan mereka untuk merawatnya.
__ADS_1
Tiba-tiba di ingatannya terlintas sosok Kakek Cipto yang dulu begitu baik kepada Riris, sosok yang sering memberikan Riris barang-barang mahal tanpa pernah Riris memintanya, maupun sosok penyayang yang sering bermain dengannya sewaktu kecil.
"Bagaimana kabar Kakek Cipto sekarang ya? Aku sampe lupa menanyakan kabarnya ke ayah. Nanti kalo sudah di rumah aku tanya aja ke ayah," gumam Riris dalam hati.