Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Gemas


__ADS_3

"Kak Vano," seru Riris kaget melihat Vano menunggunya di luar toilet pria yang berhadapan dengan toilet wanita.


"Kenapa lama?" tanya Vano dengan raut datar sambil berjalan menuju ruang bioskop.


Riris berlari kecil mengejar Vano, "Kak, tadi aku ketemu cewek cantik tinggi langsing berambut coklat di toilet, temennya manggil Sel, Kakak kenal gak?" tanya Riris.


Vano tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menahan langkah Riris dengan tangan kirinya. Diperhatikannya Riris dari atas sampai bawah dengan raut sedikit khawatir. "Apa dia mengatakan sesuatu ma kamu?" tanya Vano.


"Dia cuma bilang kalo keberadaan aku di sisi Kak Vano mengganggu pandangan dia, trus..."


"Trus dia nglakuin sesuatu ma kamu?" potong Vano.


"Gak, soalnya aku duluan yang nglakuin sesuatu ke mereka, dan sepertinya mereka marah banget," kata Riris lalu menunduk karena takut Vano marah.


"Yang penting kamu gak kenapa-kenapa, buruan masuk, kayaknya filmnya udah dimulai," kata Vano sambil menunggu Riris masuk duluan.


"Kak, tapi mereka kenapa-kenapa, cuma basah ma sedikit luka sih, tapi aku khawatir itu jadi masalah buat Kakak," kata Riris memberanikan diri menatap wajah Vano, entah kenapa tatapan Vano terasa hangat bagi Riris.


"Cukup kamu baik-baik aja, gak usah mikirin yang lain, sekarang buruan masuk," kata Vano sambil membuka pintu ruang bioskop.


Riris hanya mengangguk-angguk, meski rasanya Riris masih enggan untuk masuk karena masih banyak yang ingin Riris tanyakan, tapi Riris tetap masuk karena khawatir ketinggalan terlalu banyak bagian film yang akan mereka tonton.


**********


"Kak, sebenernya cewek yang dipanggil Sel itu siapanya Kak Vano?" tanya Riris ketika mereka sudah di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


"Kenapa? Kamu mulai tertarik dengan cewek-cewek yang ada di sekitar calon tunanganmu?" goda Vano.

__ADS_1


"Anggap aja begitu, sekarang Kakak jawab pertanyaan a..." ponsel Vano berdering membuat Riris tidak melanjutkan ucapannya.


Vano meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya, lalu Vano memberi isyarat kepada Riris untuk diam. Awalnya Riris mengira itu telepon penting dari teman bisnis Vano makanya Riris diminta untuk diam, tetapi ternyata justru Vano mengaktifkan loudspeaker di ponselnya seolah ingin Riris mendengarkan percakapannya dengan si penelepon.


"Ya," jawab Vano singkat.


"Van, tangan aku sakit, dan kamu tau itu semua gara-gara siapa?" adu penelepon dengan suara manjanya.


"Gak," jawab Vano cuek.


"Ini semua gara-gara cewek yang tadi pergi sama kamu ke bioskop. Dia memelintir tangan aku bahkan bikin aku sama temen-temen aku basah kuyup dan terluka padahal aku cuma berniat nyapa dan bilang kalo aku temen kamu," kata penelepon membuat Riris menerka bahwa dia adalah wanita yang tadi sengaja membuat masalah dengannya di toilet bioskop, Gisel.


Vano tersenyum membuat Riris terheran sekaligus lega, tadinya dia pikir Vano akan marah karena perbuatannya kepada teman wanitanya itu. "Kenapa kamu gak nyapa pas dia lagi sama aku? Mungkin kalo begitu, kejadiannya tidak akan seburuk itu,".


"Emm...tadinya aku takut ganggu kalian makanya aku gak nyapa, trus gak sengaja aku ketemu dia di toilet, eh dia malah nglakuin hal buruk ke aku dan temen-temenku, bahkan ngunci kita di toilet," katanya membuat Riris menatap Vano dan menggelengkan kepalanya seolah memberitahu Vano bahwa dia tidak seburuk yang dikatakan Gisel.


Beberapa detik sunyi, tidak ada jawaban dari Gisel, "Gak perlu, aku rasa itu bukan masalah besar, mungkin aku telah menyinggungnya makanya dia seperti itu, yasudah aku tutup dulu Van, sampai jumpa," pamit Gisel lalu memutus sambungan telepon.


Riris pikir Vano akan bertanya mengenai apa yang dikatakan Gisel tentangnya, tetapi ternyata Riris salah, Vano tetap diam dan fokus mengemudi.


"Kak, apa Kakak percaya aku melakukan hal seburuk yang dikatakan temen Kakak?" tanya Riris.


"Aku mengenal Gisel cukup lama dan tahu bagaimana kelakuannya, jadi andai saja kamu tidak pandai membela diri aku lebih percaya kalau dia yang melakukan hal buruk ke kamu," jawab Vano membuat Riris merasa lega. "Tapi emang bener kamu ngunci dia ma teman-temannya di toilet?" tanyanya sambil menatap Riris.


Riris mengangguk, "Tapi gak sengaja, Kak. Dia nglempar kuncinya ke closet, gak sengaja tombol flushnya kepencet jadi kuncinya hanyut,".


"Trus gimana cara kamu keluar?" tanya Vano penasaran.

__ADS_1


"Pakai jepit rambut, tapi bakal kekunci lagi setelah pintunya ketutup, dan aku sengaja nutup pintu dan biarin mereka di dalam, biar gak da pengunjung lain yang masuk trus bikin mereka malu karena baju mereka basah, aku pikir mereka pasti ngubungin seseorang buat bantu mereka," jelas Riris membuat Vano tertawa pelan.


"Sepertinya Kakek membekali lebih banyak kemampuan ke kamu ketimbang cucunya sendiri," kata Vano.


"Mungkin karena Kakek pikir kalau Kakak kuat jadi bisa dobrak pintu, sedang aku tidak," jawab Riris polos membuat Vano tersenyum.


"Pintu itu lebih gampang didobrak dari luar, kalau kekunci di dalem meskipun orang itu kuat belum tentu bisa dobrak pintu," jelas Vano.


"Oh iya, tau ah, Kakak tanya Kakek sendiri aja kalau gitu alasannya," kata Riris membuat Vano menatap gemas ke arah Riris


**********


Di Ruang CEO PT. Ultima Sanjaya


"Van, setengah jam lagi kita ada meeting dengan penulis dan sutradara yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita," kata Rendra sambil menunggu Vano memeriksa beberapa berkas yang harus dia tandatangani.


"Film yang akan mengiklankan merk ponsel kita itu?" tanya Vano tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di hadapannya.


"Iya, iklan ponsel terbaru kita benar-benar populer di berbagai kalangan karena jalan ceritanya yang menarik, mungkin karena itu Pak Joko tertarik untuk mengemasnya dalam bentuk film. Berhubung iklan ponsel di dalamnya dirasa tidak mengganggu jalannya cerita, makanya mereka mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita, mereka dapat suntikan dana, perusahaan kita bisa mengiklankan produk kita," jelas Rendra.


"Apakah mereka juga akan memakai pemeran yang sama dalam iklan kemarin?" tanya Vano sambil menutup map berkas di depannya.


"Kalau dari proposal yang masuk, Pak Joko sepertinya akan mengangkat cerita sahabat dari pemeran utama di iklan kemarin, tapi untuk pemeran dalam film sepertinya masih didiskusikan," jelas Rendra sambil menerima map berkas yang disodorkan oleh Vano. "Tapi sepertinya Pak Joko tertarik meminta Riris untuk menjadi tokoh utama wanita," lanjutnya.


"Darimana kamu tau?" tanya Vano.


"Kemarin sewaktu menyerahkan proposal, aku sempat ngobrol dengan Pak Joko, dia dan penulisnya, Mbak Andrea, tertarik dengan Riris, aktingnya natural, terlihat pintar, cocok dengan karakter pemeran utama dalam cerita," jawab Rendra.

__ADS_1


"Kalau beneran Riris jadi pemeran utama, bagaimana kalau ada kissing scene?" batin Vano dengan raut khawatir membuat Rendra mengerutkan dahinya, bingung mengenai apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu.


__ADS_2