
"Beb, kok malah bengong sih, ayuk," ajak Rosi sambil menggandeng tangan Riris dan menyeretnya menuju pintu masuk.
Riris terpaksa mengikuti langkah Rosi dengan enggan, namun tatapannya belum lepas dari Vano membuat pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Rendra dan mengobrol dengannya untuk menghindari tatapan Riris.
"Beb, kamu sama Pak Vano beli camilan gih, biar aku sama Mas Rendra beli tiket," bisik Rosi saat mereka baru saja masuk ke area bioskop.
"Kenapa gak kita berdua aja sih yang beli tiket, Ros? Trus Kak Vano dan Mas Rendra yang beli camilan?" tanya Riris polos.
Rosi memegang dahinya sambil geleng-geleng kepala seolah ucapan Riris membuatnya pusing.
"Beb, ini tu kesempatan aku buat deketin Mas Rendra, jadi aku harus nempelin dia terus biar cepet gini," kata Rosi sambil menempelkan kedua jari telunjuknya.
Riris hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya yang begitu agresif mendekati Rendra.
"Yadah tempelin tu sana, dan satu hal yang perlu kamu inget, kamu dah bela-belain cuekin sahabat kamu buat deketin Mas Rendra lho, malu kalo ampe gagal," ledek Riris.
"Iya udah sana buruan pergi," kata Rosi sambil memegang kedua bahu Riris dan menuntunnya untuk berjalan menuju tempat Vano berdiri. Sedangkan Rosi menghampiri Rendra dan mengajaknya menuju loket pembelian tiket.
Riris menghampiri Vano yang sedang mengoperasikan ponselnya. "Kak, bisa ikut aku beli camilan? Aku rasa aku gak bisa bawa semuanya sendirian,".
Vano menoleh ke arah Riris dan mengangguk pelan, kemudian mengikuti Riris menuju stand penjual makanan.
"Kak, ada masalah? Aku perhatikan dari tadi Kakak kayak ngeliat kesana kemari," tanya Riris ketika menangkap kekhawatiran di wajah Vano.
"Gak, aku cuma gak biasa berada di tempat kayak gini," jawab Vano datar.
__ADS_1
"Oh," sahut Riris lalu memesan beberapa camilan dan minuman untuk mereka berempat. Vano membayar camilan dan minuman yang Riris pesan kemudian meminta sebagian untuk dia bawa. Kemudian mereka berdua menghampiri Rendra dan Rosi yang menunggu mereka di depan ruang bioskop. "Aku ke toilet bentar ya, kalian masuk duluan aja. Ros, tolong bawain ini ya," pinta Riris sambil menyerahkan camilan dan minuman yang dia bawa.
"Aku temenin," kata Vano spontan sambil menyodorkan camilan dan minuman yang dia bawa ke dada Rendra hingga Rendra gelagapan memegangnya agar tidak jatuh.
Riris dan Rosi saling pandang heran dengan ucapan Vano. Selang berapa detik Rosi tampak menahan senyumnya.
"Kak, aku cuma ke toilet, gak perlu ditemenin," kata Riris.
Awalnya Vano bersikeras menemani Riris ke toilet dengan mengatakan beberapa alasan, tapi karena Riris bisa mematahkan semua alasan itu akhirnya Vano mengalah dan mengikuti Rendra dan Rosi masuk ke ruang bioskop.
Di dalam toilet, ketika Riris mencuci tangan, ada tiga sosok wanita yang masuk ke dalam toilet. Ketika Riris hendak keluar dari toilet, salah seorang dari mereka mengunci pintu masuk kemudian berbalik menghadap Riris lalu melipat tangannya di dada sambil tersenyum sinis.
"Maaf Mbak kenapa pintunya dikunci, saya mau keluar," kata Riris sopan kepada wanita cantik dengan rambut panjang coklat yang tergerai indah. Dia memakai dress merah selutut dan semua atribut yang melekat padanya terlihat dari merk ternama. Tanpa mempedulikan ucapan Riris, wanita itu melempar kunci hingga masuk ke lubang closet di salah satu bilik toilet.
Mendengar perkataan wanita itu Riris tahu wanita itu memang sengaja ingin membuat masalah dengannya. Tapi Riris sama sekali tidak ingat pernah mengenal maupun berurusan dengan wanita itu, jadi Riris bingung apa alasan wanita itu mencari masalah dengannya.
"Maaf Mbak, kalau boleh tahu Anda ada masalah apa dengan saya hingga melakukan semua ini?" tanya Riris dengan raut tenang.
Wanita itu tersenyum sinis. "Aku gak ada masalah sih sebenarnya ma kamu, cuma ngeliat kamu berdampingan ma Vano tu ganggu pemandangan banget," kata wanita itu sambil menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
Riris tersenyum mendengar ucapan wanita itu, "Mungkin salah satu wanita yang menyukai Kak Vano, apa mungkin Kak Vano tadi terlihat khawatir ampe ngotot nemenin ke kamar mandi karena hal ini?" tanya Riris dalam hati. "Mungkin penglihatan Mbak yang bermasalah, buktinya cuma Mbak yang bilang gitu ke saya," kata Riris masih bersikap tenang.
"Sel, kayaknya cewek ini nantangin kamu, udah langsung aja gak usah buang-buang waktu, keburu filmnya dimulai," kata wanita di sebelah kanan wanita yang dipanggil Sel, atau lebih tepatnya Gisel, membuatnya yang sudah merasa kesal karena ucapan Riris makin bertambah kesal.
"Iya, Sel, gemes liat dia sok berani gitu," giliran wanita di sebelah kirinya yang ikut menimpali.
__ADS_1
"Heh, cewek ganjen, buruan ambil kuncinya, kalo gak bakal aku bikin kamu sendiri yang gak mau keluar karena malu," ancam Gisel.
Riris menghela nafas, dia benar-benar malas berurusan dengan wanita yang terlalu banyak tingkah dan menyebalkan seperti itu. Tapi mengingat dia sudah terlalu lama di toilet hingga takut membuat Vano dan yang lain khawatir, dia harus segera memberikan sedikit pelajaran kepada mereka dan pergi dari sini.
"Baiklah," kata Riris singkat lalu berjalan menuju bilik toilet dimana kuncinya jatuh. Lalu diambilnya shower closet dan ditekannya lalu diarahkannya ke ketiga wanita tadi bergantian hingga mereka berhambur kebingungan. Ketika ketiga wanita tadi sudah cukup basah, Riris melepaskan shower closet yang dipegangnya hingga jatuh ke lantai.
"Aduh, maaf, tadinya aku mau menyiram kotoran, gak tau kok jadi nyiram kalian," kata Riris sambil menutup mulutnya dengan tangan seperti orang yang kaget.
Wanita yang berdiri di sebelah kanan dan kiri Gisel berjalan mendekati Riris dengan raut yang begitu marah, begitu mereka sampai di depan pintu bilik, Riris tiba-tiba menutup pintu dengan cukup keras membuat keduanya terlempar dan jatuh ke lantai.
Riris sempat kaget ketika dilihatnya salah satu dari mereka terbaring di lantai dengan mata tertutup dan tak bergerak, "Sepertinya aku mendorongnya tidak begitu kencang," batinnya, tapi melihat dada wanita itu naik turun menandakan dia hanya pingsan, Riris merasa lega. Kemudian tatapannya beralih ke wanita satunya yang telah berada pada posisi duduk sambil meringis dan mengelus-ngelus hidungnya. "Aduh maaf, muka kalian seram sekali membuat saya takut dan refleks menutup pintu," kata Riris dengan polosnya.
Gisel sempat terdiam karena syok, lalu dia berjalan mendekati Riris hendak memukul Riris. Riris memegang tangan Gisel yang hampir mendarat di pipinya kemudian memelintirnya pelan dan mendorongnya hingga dia terduduk di bagian atas closet membuatnya tanpa sengaja memencet tombol flush. Gisel berteriak mengetahui kunci pintunya hanyut ke saluran pembuangan.
"Ups, maaf, refleks," kata Riris sambil melepaskan tangan wanita itu.
"Aw," jerit Gisel meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanannya. "Bagus, sekarang kita semua terkurung di sini," ucapnya dengan sinis. Riris hanya mengangkat kedua bahu dan tangannya dengan polosnya.
Riris berjalan menuju pintu masuk dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya kemudian mengutak-atik lubang kunci pintu masuk dengan benda itu. Beberapa menit kemudian Riris menegakkan tubuhnya kemudian memasukkan kembali benda tadi ke dalam tas dan menoleh ke arah Gisel. "Saya harap kalian tidak melakukan hal ini lagi pada siapapun, dan semoga kedepannya jika kita dipertemukan lagi, sikap kalian bisa lebih baik," kata Riris sambil membuka gagang pintu dan membukanya membuat Gisel dan temannya melongo dan saling berpandangan.
Gisel yang hendak memaki Riris mengurungkan niatnya karena melihat Riris kembali menutup pintu kamar mandi. Gisel berdiri dan berjalan menuju pintu masuk berniat membuka pintu dengan tangan kirinya. "Sialan, terkunci, dia maling apa gimana sih," kata Gisel.
"Terus gimana ini, Sel, niatnya mau kasih tu cewek pelajaran malah kita yang terkunci di sini, kesakitan, basah semua lagi, bisa keluarpun malu deh," gerutu temannya. "Kasihan Prita, dia pasti syok makanya bisa ampe pingsan gini," lanjutnya sambil memandang temannya yang masih pingsan.
"Aaaa...sial..sial..." jerit Gisel sambil menghentak-hentakkan kakinya. "Udah biar aku telepon Pak Man buat bawain kita baju ganti ma bukain pintu, soal Prita bukannya dia emang Ratu Pingsan, kegores pisau dikit aja pingsan, gak usah khawatir," kata Gisel sambil berjalan menuju bilik toilet tempat tasnya terjatuh saat dipelintir oleh Riris.
__ADS_1