
"Beb, buat acara ntar malam kamu dateng bareng aku ato bareng Pak Vano?" tanya Rosi sambil mengunyah siomay kantin fakultas favoritnya.
Riris menatap sahabatnya itu sambil mencoba menelan makanannya sebelum menjawab, "Mungkin bareng kamu, Kak Vano gak bilang apa-apa sama aku," jawabnya. "Kamu gimana, Ki?" lanjutnya sambil menoleh ke Azki yang sibuk dengan ponselnya.
"Kalo Azki jelas sama bodyguardnya Ris gak usah ditanya," potong Rosi.
"Kamu apa-apaan sih Ros? Jealous?" goda Azki.
"Sorry, gebetan gua lebih ganteng ketimbang laki lu, sayang," jawab Rosi sambil mengibaskan sebagian rambut panjangnya yang terurai.
Azki dan Riris tertawa kecil. "Semenjak kamu jadi jarang ngumpul ma kita, Rosi emang suka sensi gitu, Ki," jelas Riris.
"Maaf ya sayang, soalnya Kak Ervan khawatir aku diganggu sama cewek-cewek yang suka sama dia trus milih putus sama dia kayak yang sudah-sudah, makanya selama dia ada waktu dia dampingin aku kemana-mana," jelas Azki.
"Emang kamu gak risih gitu?" tanya Rosi.
"Pasti, tapi aku tahu niat baik Kak Ervan, jd selama itu gak ganggu aktivitas aku, aku cuma mencoba membiasakan diri sambil meyakinkan dia kalau sebenarnya sikap dia yang berlebihan itu gak perlu," jawab Azki yang membuat Rosi mengacungkan kedua jempolnya.
"Sejak kapan kamu suka Kak Ervan?" tanya Rosi lagi membuat raut wajah Azki berubah canggung, kemudian dia menyeruput minumannya.
"Sebenarnya aku belum memiliki perasaan suka ke Kak Ervan," jawab Azki lirih.
"What?" pekik Rosi dan Riris bersamaan.
"Trus kenapa kamu malah jadian sama Kak Ervan sih, Beb? Kamu gak berniat mainin Kak Ervan kan?" tanya Rosi.
"Pelanin suara kamu Rosi, malu diliatin seisi kantin," Azki mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. "Aku gak da niat buat mainin Kak Ervan, aku emang belum suka sama dia, tapi aku yakin dia serius ma aku, dan aku rasa aku bakal nyia-nyiain kesempatan yang bagus ketika aku nolak dia, jadi aku terima dia, aku yakin suatu saat aku bakal membalas perasaan Kak Ervan," jelas Azki.
Rosi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gimana kalau nantinya tidak sesuai dengan harapan kamu?" tanya Rosi.
"Ros, yang terjadi nanti gak da yang tahu, kita hanya bisa berusaha dan selalu berpikiran positif, yang penting Azki nyaman sama Kak Ervan, Kak Ervan juga segitu sayangnya ke Azki, memperlakukan dia dengan baik, bukankah sebagai sahabat seharusnya kita ikut seneng? Lagipula Azki pasti udah mempertimbangkan konsekuensinya sebelum ngambil keputusan, ya kan?" kata Riris sambil menatap Azki.
Azki mengangguk kemudian menggenggam tangan kanan Riris. "Makasih sayang," ucapnya terharu karena Riris mengerti alasannya tanpa dia menjelaskan alasannya.
Rosi menatap kedua sahabatnya bergantian, "Aku merasa tersingkir," kata Rosi sambil menampakkan raut wajah sedih.
__ADS_1
Riris dan Azki tersenyum, lalu mereka berdua memeluk Rosi, kemudian ketiganya tertawa bersamaan dengan begitu riang.
**********
Malamnya Vano menjemput Riris untuk datang ke pesta yang diadakan oleh MG Pictures sebagai perusahaan film yang akan merilis film hasil kerjasama dengan PT. Ultima Sanjaya. Karena tujuan diadakannya pesta tersebut adalah untuk perkenalan dan membangun chemistry, maka tamu undangannya adalah semua orang yang terlibat dalam pembuatan film tersebut.
"Kak, aku gak enak gak jadi pergi bareng Rosi, kita jemput dia aja gimana?" kata Riris begitu dia masuk ke mobil Vano.
"Rosi udah dijemput sama Rendra," jawab Vano sambil menjalankan mobilnya.
"Beneran?" tanya Riris memastikan.
"Iya, kamu bisa pastiin sendiri ke orangnya," jawab Vano terdengar agak kesal.
"Yaudah kalo gitu, lagian kenapa Kakak tiba-tiba jemput tanpa ngasih tahu dulu," keluh Riris lirih tapi masih bisa didengar Vano.
"Bukankah sudah seharusnya sebagai pasangan kita datang bareng, gak perlu aku kasih tahu terlebih dahulu," jawab Vano.
"Kak, wanita itu...emm...maksudnya aku, aku gak suka menerka-nerka, aku butuh kepastian lewat ucapan, mungkin ada orang yang peka, gak perlu dikasih tahu melalui ucapan dia sudah bisa memahami hati dan pikiran seseorang, tapi aku bukan salah satu dari mereka, jadi tolong kedepannya kasih tahu aku apa yang ada di pikiran Kakak melalui ucapan," kata Riris.
Riris menatap Vano, kemudian mengangguk dengan ragu-ragu sebagai jawaban atas ucapan Vano.
**********
"Sel, Vano dateng," seru Prita melihat Vano memasuki aula.
Gisel yang merasa senang mendengar pria yang dia sukai semenjak kuliah datang segera mengarahkan pandangannya ke pintu masuk aula. Senyumnya memudar begitu melihat Vano tidak datang sendiri melainkan bersama dengan wanita yang tidak dia sukai karena telah berhasil mengerjai balik dia dan teman-temannya beberapa hari yang lalu.
"Sialan, kenapa harus sama dia lagi sih," gerutu Gisel.
"Sel, itu bukannya cewek yang di bioskop kemarin? Mending kamu nyamperin Vano nanti aja kalau pas gak sama cewek itu," saran Gina.
"Bodo," kata Gisel sambil berjalan menuju Vano.
"Van, kamu udah dateng, aku anterin nyapa presiden direktur MG Pictures yuk," kata Gisel sambil merangkul lengan kanan Vano.
__ADS_1
Vano menatap Riris dan mengarahkan pandangannya ke lengannya seolah meminta Riris untuk mengambil alih merangkul lengannya.
"Maaf Mbak, Kak Vano datang bersama saya, jadi saya yang akan menemaninya," Riris mendorong pelan tubuh Gisel membuatnya menjauh dari Vano, kemudian dia merangkul lengan Vano mesra. Vano tersenyum karena senang melihat sikap Riris yang sesuai dengan harapannya.
Riris dan Vano pergi meninggalkan Gisel yang berdiri mematung menahan kesal, kalau wanita lain yang melakukannya mungkin Gisel sudah menindasnya, tapi mengingat apa yang sudah Riris lakukan terhadapnya Gisel tidak mau mengambil resiko, jika dia menindas Riris dia takut justru nanti dirinya yang akan dipermalukan di pesta itu. Ketika Gisel mengamati Vano dan Riris yang sedang menyapa tamu-tamu penting, Prita datang dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"What? Apa alasannya?" pekik Gisel.
"Mereka berdua mengalami kecelakaan saat perjalanan kemari, trus gimana Sel? Gak mungkin kita tampil tanpa drum dan biola, kalau gak tampil kita yang malu," kata Prita dengan raut khawatir.
Gisel tampak berpikir, "Bisa gak nyari pemain pengganti?".
"Waktu kita gak banyak, lagipula aku ma Gina gak punya kenalan yang jago main drum dan biola, kemampuan mereka gak bisa ngimbangi kita," jawab Prita.
"Aku harus nemuin Vano dan minta dia buat bantuin kita," kata Gisel lalu berjalan ke arah Vano.
"Emang Pak Vano punya kenalan yang bisa main drum atau biola, Sel?" tanya Prita sambil mengikuti langkah Gisel.
"Dia dulu ikut band kampus dan jago main drum, asal kita kasih not baloknya aku yakin dia bisa ngimbangi kita," jelas Gisel. "Van, bisa bantu aku?" tanya Gisel begitu berada di depan Vano dan Riris. "Pemain drum dan biola kita kecelakaan pas mau kesini, jadi aku mau minta tolong kamu buat gantiin posisi pemain drum," jelas Gisel melihat Vano mengerutkan dahinya. Di sisi lain Riris terkejut mengetahui Vano bisa bermain drum. "Please," lanjut Gisel sambil mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Lalu posisi biola?" tanya Vano.
"Yang penting kamu mau bantu aku dulu, nanti aku akan cari orang buat gantiin posisi pemain biola," kata Gisel.
Vano menatap Riris seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Kakak kenapa liatin aku gitu? Kalau mau bantu silahkan, aku gak keberatan," tanya Riris.
"Kamu bisa main biola kan?" tanya Vano ke Riris membuat Gisel terkejut karena tidak menyangka tapi sekaligus berharap.
"Sel, kalau kamu bisa bujuk dia gantiin posisi pemain biola, aku mau bantu kamu buat gantiin pemain drum," kata Vano ke Gisel sambil mengarahkan tangannya ke arah Riris.
"Kamu dengar sendiri kan kata Vano? Dia mau bantu aku kalau kamu mau gantiin posisi pemain biola. Jadi gimana?" tanya Gisel tidak ramah membuat Riris kesal.
"Iya denger, dan aku gak peduli," kata Riris acuh lalu mengarahkan pandangannya ke Vano. "Kak, aku mau ambil makanan dulu," pamit Riris sambil berbalik hendak menuju meja makanan.
__ADS_1
Melihat sikap Riris yang acuh Gisel menjadi panik,dia sadar saat ini dia berada pada posisi yang membutuhkan pertolongan, jadi dia harus menurunkan egonya dan meminta tolong kepada Riris secara baik-baik. "Tunggu, aku mohon bantu aku," katanya lirih sambil memegang lengan kiri Riris hingga membuat Riris terpaksa menghentikan langkahnya.