Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Ciuman Pertama


__ADS_3

Rosi berjalan mendekat ke arah kedua sahabatnya dengan raut seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu kenapa sayang kok raut muka kamu gitu?" tanya Riris melihat Rosi duduk di sebelahnya dengan kedua tangannya menopang wajahnya yang menunduk.


"Beb, kalian berdua mau gak bantu aku?" tanya Rosi lesu sambil menoleh ke arah kedua sahabatnya bergantian.


"Bantu apa? Kalo bisa pasti kita bantu kok," kata Azki sambil merangkul pundak sahabatnya yang terlihat frustasi itu.


"Tadi barusan manajer periklanan dan promosi Ultima Sanjaya nelpon aku, dia ngabarin aku kalo kemungkinan jadwal syuting iklan aku diundur, 2 model cewek yang bakalan jadi partner aku positif virus jadi mesti isolasi, lalu dia ingat waktu aku tandatangan kontrak aku dateng bareng kalian, terus minta tolong aku bujukin kalian buat jadi model pengganti," jelas Rosi dengan suara pelan.


Riris dan Azki saling pandang.


"Ros, bukannya kita gak mau bantu, masalahnya kita berdua itu gak ada pengalaman jadi model, jadi kita gak bisa kalo disuruh akting ataupun berpose layaknya model," kata Riris.


"Please dong Ris, Ki, scene kalian berdua gak banyak kok, nanti kalian berperan sebagai sahabat aku, kita kan emang sahabatan jadi nanti kayak interaksi kita biasanya gini aja, lagian kalo kalian mau nanti kita bertiga bisa liburan gratis ke Jogja karna lokasi syutingnya di Jogja, terus dapet honor lagi," ucap Rosi berusaha merayu kedua sahabatnya.


Setelah merayu kedua sahabatnya dengan berbagai cara akhirnya Riris dan Azki menyerah, mereka setuju untuk menjadi model pengganti. Rosi begitu bahagia karena syuting iklannya dapat dilakukan sesuai jadwal, selain itu dia bisa berlibur bersama kedua sahabatnya.


"Beb, kamu mau pulang bareng kita gak?" tanya Rosi ke Riris saat mereka berjalan menuju parkiran.


"Gak aku bawa mobil kok," kata Riris sambil menunjukkan kunci di tangannya.


"Tumben," tanya Rosi heran.


"Aku mau nengokin mas Raffi, katanya dia gi gak enak badan," jawab Riris malu-malu.


"Cie...yang udah berani nengokin ke apartemen, ati-ati lho nanti diterkam," goda Rosi lalu tertawa.


"Kamu apaan sih Ros, jangan ngracunin pikiran Riris deh, dia tu masih polos, beda ma kamu," protes Azki.


"Emang aku kenapa coba? Asal kalian berdua tau ya, aku ini cewek baik-baik kali, kalo soal penampilan aku yang seksi itu karna emang tuntutan profesi aku sebagai model," jelas Rosi gak mau kedua sahabatnya berpikiran negatif tentangnya.


"Iya kita tau kamu cewek baik-baik, kalo gak ogah kita sahabatan ma kamu, ya gak Ris?" kata Azki sambil menatap Riris.


Riris hanya mengangkat kedua jempolnya tanda setuju. "Yaudah aku duluan ya, kalian hati-hati di jalan," pamit Riris sambil cipika cipiki ke kedua sahabatnya.

__ADS_1


**********


Riris yang semenjak semalam tidak mendapat pesan dari Raffi begitu khawatir dan akhirnya pagi ini memutuskan untuk meneleponnya. Sewaktu mendengar Raffi tidak enak badan Riris begitu khawatir dan berniat menjenguk kekasihnya itu di apartemennya.


Setelah memasukkan password apartemen Raffi yang didapatnya saat berbincang melalui telepon, Riris masuk ke apartemen yang terlihat begitu sepi. Dia melihat sebuah kamar dengan pintu yang tidak tertutup sempurna lalu membukanya pelan. Terlihat kekasihnya sedang berbaring di ranjang dengan mata tertutup. Riris memegang dahi Raffi pelan dan terkejut karena suhu badan Raffi begitu panas. Raffi yang merasakan sentuhan di dahinya membuka mata, begitu melihat sosok yang menyentuhnya adalah kekasihnya, dia tersenyum.


"Sudah lama sayang?"


"Baru aja, mas panas banget badannya, kita ke dokter yuk," ajak Riris.


Raffi menggeleng, "Mas cuma demam, minum obat juga sembuh,"


"Mas udah minum obat?" tanya Riris.


Raffi menggelengkan kepalanya lagi, "Mas ada obat penurun panas di laci itu, bisa tolong ambilkan?"


"Mas udah makan belum?" tanya Riris, Raffi hanya menggeleng, "Kalau pagi tadi?" tanya Riris lagi, Raffi kembali menggeleng, "Lalu kapan terakhir mas makan?" tanya Riris frustasi mendengar kekasihnya yang sedang sakit belum makan semenjak pagi, padahal ini sudah sore.


"Terakhir kemarin waktu makan sama kamu," jawab Raffi pelan.


Raffi hanya tersenyum, "Maafin mas karna bikin kamu khawatir, mas lagi ada banyak tugas kemarin jadi lupa makan," ucap Raffi berbohong, padahal dia frustasi karena memikirkan permasalahannya dengan Sasi.


Riris menghela nafas, Riris sadar sekarang bukan saatnya dia marah-marah, yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar kekasihnya itu segera sembuh. "Aku bikinin makanan dulu ya buat mas, baru nanti minum obat,".


Raffi memegang tangan Riris yang hendak berjalan keluar kamar, "Makasih sayang,".


Riris hanya mengangguk kemudian berjalan keluar kamar menuju dapur. Disana dia membuka kulkas untuk melihat apa yang bisa dia masak untuk kekasihnya. Setelah melihat bahan yang ada, Riris memutuskan untuk membuat sop. Setelah sekitar 30 menit masakan Riris sudah jadi. Karena keadaan Raffi yang terlihat begitu lemas Riris berinisiatif membawa makanan untuk Raffi ke kamarnya.


"Mas makan dulu yuk," kata Riris setelah menaruh nampan makanan di atas nakas.


"Bisa tolong suapin mas?" ucap Raffi dengan raut memelas.


Riris mengambil mangkuk di atas nampan dan mulai menyuapi Raffi.


"Ini kamu yang masak sayang?" tanya Raffi setelah menghabiskan suapan pertamanya.

__ADS_1


"Iya, kenapa? Mas terpesona setelah tau pacar mas ini ternyata bisa masak?" kata Riris sambil menyuapkan makanan lagi ke Raffi.


"Iya, mas jadi makin cinta setelah tau calon istri mas ini masakannya enak," jawab Raffi. "Mas juga makin takut kehilangan kamu Ris," lanjutnya dalam hati.


Riris tersipu mendengar Raffi menyebut calon istri. "Belum ada seminggu pacaran, udah ngakuin sebagai calon istri, mas lebai ah,".


"Loh emang apa salahnya, yang baru ketemu langsung nikah aja ada kok,"


"Yang begituan adanya di novel doang kali mas, yang terpaksa menikah gitu, ketauan ni mas Raffi suka baca novel," ledek Riris.


"Di dunia nyata juga ada kok, kamu mau jadi salah 1 nya? Soalnya liat kamu manis gini mas jadi pengen maksa kamu buat nikah sama mas sekarang juga," ucap Raffi dengan nada serius.


Hati Riris berbunga-bunga mendengar ucapan Raffi, "Mas apaan sih, udah buruan habisin makannya terus minum obat, bentar lagi malam, aku mesti pulang,".


Setelah Raffi menghabiskan makanannya dan minum obat Riris pamit untuk pulang.


"Mas, kalau ada apa-apa hubungin aku ya, aku pulang dulu," pamit Riris.


"Sayang," panggil Raffi sambil memegang tangan Riris dan menuntunnya untuk duduk di sebelahnya.


Riris hanya diam dan menatap Raffi, menunggu apa yang ingin diucapkan kekasihnya itu. Namun Raffi tak kunjung mengatakan sesuatu, dia hanya menatap Riris dengan sorot mata penuh cinta, perlahan Raffi mendekatkan wajahnya ke wajah Riris hingga semakin mengikis jarak antara mereka berdua. Riris membeku, hatinya berdebar tak karuan memikirkan apa yang akan dilakukan Raffi kepadanya.


20 cm...


15 cm...


10 cm...


Riris memejamkan matanya tak kuasa melihat apa yang akan dilakukan Raffi kepadanya.


Cup..


Riris merasakn sesuatu yang lembut dan lembab menyentuh dahinya. Perlahan Riris membuka matanya, dilihatnya kekasihnya itu tersenyum lalu mengusap lembut kepalanya, "Hati-hati di jalan ya sayang, makasih udah ngrawat mas hari ini,".


Riris diam sesaat untuk mengontrol hatinya yang begitu kacau saking bahagianya mendapatkan ciuman pertamanya, meski hanya sebatas ciuman di dahi. Entah bagaimana kacaunya hatinya kalau itu tadi adalah ciuman di bibir, memikirkannya saja membuat Riris menggila.

__ADS_1


__ADS_2