
"Silahkan Mbak, sudah reservasi atau belum?" tanya pelayan wanita yang menyambut kedatangan Riris begitu ia memasuki restoran.
"Sudah, atas nama Pak Joko," jawab Riris.
"Baik, silahkan ikuti saya," kata pelayan itu.
Riris mengikuti pelayan yang berjalan menuju sebuah meja dimana ada seorang pria seusia ayahnya yang mengenakan kaos putih dipadu kemeja denim berwarna hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka dan memakai kacamata sedang duduk sambil menatap layar ponselnya.
"Mari silahkan Mbak," kata pelayan itu membuat pria itu menyadari kedatangan Riris.
"Permisi? Pak Joko?" tanya Riris.
"Iya, Mbak Fairis?" tanya Joko sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Panggil saja Riris, Pak," kata Riris sambil menjabat tangan Joko.
"Baik, silahkan duduk. Mau pesan makanan atau minuman?" tanya Joko lalu kembali duduk ke kursinya.
"Tolong jus jeruk saja Mbak satu," kata Riris.
"Bapak ada tambahan pesanan?" tanya pelayan itu.
"Tidak, terimakasih," jawab Joko.
"Baik, kalau begitu silahkan ditunggu," kata pelayan itu kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Perkenalkan Mbak, saya Joko sutradara film, kami sedang ada proyek film yang bekerjasama dengan PT. Ultima Sanjaya, dan saya ingin menawarkan kepada Mbak Riris untuk menjadi pemeran utama wanita," jelas Joko.
__ADS_1
Riris sedikit terkejut dengan ucapan Joko, bagaimana bisa dia yang bukan seorang aktris tiba-tiba mendapatkan tawaran sebagai pemeran utama sebuah film yang digarap oleh sutradara terkenal. "Maaf kalau boleh tau apa alasan Bapak memilih saya? Maksud saya, saya bukan seorang aktris, tapi Bapak mau mempercayakan peran penting itu kepada saya," tanyanya.
"Iya, saya mengerti Anda pasti bingung, tapi kalau Anda melihat iklan yang Anda bintangi kemarin, Anda bisa melihat bahwa akting Anda itu bagus, natural, jadi saya yakin sebenarnya Anda itu berbakat. Terlebih karakter pemeran utama wanita dalam film kali ini cocok sekali dengan Anda, saya yakin kalau Anda yang menjadi pemeran utama wanitanya pasti film ini akan menjadi lebih bagus," jelas Joko begitu bersemangat.
"Pak Joko terlalu memuji, mungkin karena kemarin hanya iklan jadi tidak banyak scene dan kebetulan akting saya pas bagus saja, tapi kalau untuk film dengan banyak scene saya rasa saya belum mampu," kata Riris.
"Oke gini, Mbak Riris pernah nonton hasil karya saya?" tanya Joko.
"Tentu saja, saya hampir menonton semua film yang disutradarai oleh Bapak," jawab Riris antusias.
"Bagaimana penilaian Mbak Riris terhadap hasil karya saya?" tanya Joko lagi.
"Menurut saya pribadi bagus sekali Pak, karya Anda selalu berkesan dan bermakna," jawab Riris.
"Anda pasti tahu beberapa kali saya lebih memilih wajah baru sebagai pemeran utama ketimbang aktor aktris terkenal, dan hasilnya Anda bisa lihat sendiri, itu karena saya memiliki pertimbangan saat memilih wajah baru, karena saya yakin mereka memiliki kemampuan untuk itu, dan terbukti," jelas Joko. "Jadi apakah Mbak Riris berubah pikiran mengenai tawaran saya?" lanjutnya.
"Untuk pemeran prianya saya sudah ada pandangan, tapi bersedia atau tidaknya dia itu tergantung keputusan Mbak Riris, kalau Anda menerima tawaran saya maka dia juga bersedia, tapi kalau Anda tidak bersedia maka dia juga, kalau sampai seperti itu akan sangat mengecewakan bagi saya," jawab Joko lalu menyeruput kopinya.
"Kalau boleh tahu siapa Pak?" tanya Riris.
"Devano Sanjaya, CEO PT. Ultima Sanjaya," jawab Joko membuat Riris refleks membekap mulutnya yang menganga karena begitu terkejut dengan jawaban Joko. "Tapi saya harap Mbak Riris jangan menyinggung hal ini terlebih dahulu ke siapapun, selain karena belum pasti, saya takut muncul berita yang nantinya akan merugikan Pak Vano," lanjut Joko yang ditanggapi anggukan kepala oleh Riris.
**********
Vano merasa risih melihat Rendra tersenyum-senyum sendiri sambil menatapnya memeriksa berkas-berkas.
"Ren, apa kamu gak punya kerjaan selain senyam senyum gak jelas begitu liatin atasannya yang sedang kerja?" tanya Vano dengan menekankan kata atasan pada kalimat yang diucapkannya.
__ADS_1
"Van, apakah kamu sudah segitu cintanya ma Riris sampe rela ngikutin dia kemana-mana?" tanya Rendra.
"Apakah ikut campur urusan pribadi atasan termasuk dalam daftar kerjaan seorang asisten?" Vano menjawabnya dengan balik bertanya.
"Bisa jadi, karena asisten itu juga seorang sahabat yang dulu selalu dukung kamu saat kamu terpuruk karena patah hati," jawab Rendra terkesan mengejek membuat Vano hampir melemparkan berkas di mejanya ke arahnya karena kesal.
"Bagaimanapun dia calon tunanganku, aku tidak rela dia disentuh pria lain," jawab Vano membuat Rendra tersenyum.
"Apapun alasan kamu, sebagai sahabat aku senang dengan keadaan kamu yang sekarang, mengenai Riris, aku selalu mendukungmu, dia wanita yang tepat," kata Rendra membuat Vano melirik ke arahnya dan tersenyum.
"Mengenai Rosi, aku juga mendukungmu," balas Vano.
**********
"Menurut Bunda gimana?" tanya Riris sambil bersandar di bahu Hera yang sedang mengaduk-aduk sayur di atas kompor.
"Terserah kamu sayang, selama itu hal positif dan kamu menyukainya Bunda selalu dukung," jawab Hera sambil menoleh sekilas dan tersenyum ke arah Riris. "Sebenarnya apa yang bikin kamu ragu menerima tawaran itu? Bunda rasa itu tawaran yang bagus," lanjutnya.
"Riris takut mengecewakan semuanya," jawab Riris pelan lalu berjalan mengikuti Hera yang menata mangkok sayur di atas meja makan.
"Seharusnya kamu senang sayang mendapatkan tawaran yang diimpikan banyak orang seperti itu, dan kalau menurut Bunda seharusnya kamu manfaatkan kesempatan itu, kamu terima lalu belajar dan ikuti arahan sutradara, berusaha sebaik mungkin dan berikan hasil yang maksimal," kata Hera. "Tapi jangan karena hal ini kamu jadi mengesampingkan pendidikan, ayah tidak akan senang dengan hal itu," lanjutnya sambil memegang kedua bahu Riris yang duduk di salah satu kursi meja makan.
"Iya Bunda, Riris rasa Riris akan menerima tawaran itu, setelah Riris baca skripnya, Riris suka karakter tokoh yang akan Riris perankan, dan Riris janji akan tetap memprioritaskan pendidikan," kata Riris sambil tersenyum ke arah Hera. "Nanti Bunda bantuin Riris minta ijin ke ayah ya," pinta Riris dengan raut memohon.
"Iya sayang, Bunda rasa ayah akan menyetujuinya," Hera berjalan ke dapur dan kembali menghidupkan kompor lalu menaruh wajan di atasnya. "Kamu sudah tau siapa pemeran utama prianya?".
"Kata sutradara sih kalau Riris menerima tawaran ini, Kak Vano bakal setuju juga buat jadi pemeran utama prianya," jawab Riris lalu menoleh ke arah Hera. "Bunda itu minyaknya kebanyakan," seru Riris melihat Hera hampir memenuhi wajan dengan minyak goreng.
__ADS_1
Hera buru-buru meletakkan botol minyak goreng dan mematikan kompor. Lalu dia berjalan mendekati Riris dan duduk di kursi sebelahnya. "Devano Sanjaya? Dia mau menjadi pemeran utama pria asalkan kamu jadi pemeran utama wanita?" tanya Hera yang dijawab anggukan pelan oleh Riris. "Oh my God," kata Hera sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.