Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Siapa Devano Sanjaya


__ADS_3

Di suatu bangunan megah menjulang tinggi yang terdiri dari sepuluh lantai dengan logo dan nama perusahaan yang besar dan dapat dilihat jelas bahkan dari jarak yang lumayan jauh, seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi dan atletis sedang duduk di depan mejanya. Di ruangan yang disediakan khusus untuk pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan itu, dia sedang melihat foto-foto wanita yang direkomendasikan oleh divisi periklanan dan promosi perusahaan tersebut.


"Bagaimana Pak Vano? Apakah ada yang sekiranya cocok dengan tema promosi kita dari model-model tersebut?" tanya Dion manajer periklanan dan promosi di perusahaan tersebut.


"Jelaskan profil model ini," perintah pria yang duduk di belakang meja CEO dengan papan nama bertuliskan 'Devano Sanjaya' itu sambil memegang sebuah foto lalu menunjukkannya kepada Dion.


"Namanya Rosiana Anggara, umur 18 tahun, mahasiswi semester satu di Universitas Tantra Mahesa Jurusan Matematika. Dia seorang selebgram yang aktif di media sosial Instagram dengan jumlah pengikut lebih dari sepuluh juta, sering menerima endorse dan menjadi model iklan produk-produk keluaran perusahaan biasa sampai kelas atas, dia memasang tarif yang lebih terjangkau ketimbang artis, tapi daya beli masyarakat rata-rata meningkat setelah dia menjadi bintang iklannya," jelas Dion.


"Untuk reputasinya? Apa pernah ada skandal yang kurang bagus tentang dia selama ini?".


"Selama ini belum ada Pak Vano. Artikel yang keluar tentang nona Rosi ini kebanyakan hanya tentang penampilannya yang seksi dan menjadi idola kaum pria maupun wanita," jawab Dion.


"Oke, kita pakai dia saja menjadi model, segera urus kontrak kerjasama dengannya, lalu segera serahkan berkas untuk plaining iklannya biar kita bisa segera luncurkan seri ponsel terbaru kita," ucap Vano sambil menutup berkas yang baru saja dia pelajari kemudian menyerahkannya kembali kepada Dion.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dion, membungkukkan badannya sedikit ke arah Vano lalu ke arah Rendra sang asisten pribadi yang duduk di sofa, kemudian berjalan ke arah pintu keluar.


Setelah melihat Dion keluar dari ruangan dan menutup pintu, Vano mengarahkan pandangannya ke Rendra.


"Ren, udah dapet yang aku minta kemarin?".


Rendra berjalan menuju meja Vano dan menyerahkan amplop coklat seukuran kertas A4. Vano hanya melihatnya sekilas lalu melirik ke arah Rendra. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Rendra paham jika atasan sekaligus sahabatnya semenjak duduk di bangku kuliah itu memintanya untuk menjelaskan isi amplop itu.


"Namanya Fairis Putri Ganendra, umurnya bulan November mendatang genap berusia 18 tahun, bulan ini baru saja mulai berkuliah di Universitas Tantra Mahesa Jurusan Matematika, dan baru-baru ini terlihat sedang dekat dengan seorang mahasiswa di universitas yang sama. Apa perlu aku jelasin juga perihal cowok itu Van?" ucap Rendra.


"Gak perlu. Kalo begitu berarti ada kemungkinan calon model kita kenal dengan wanita itu?" tanya Vano sambil membentur-benturkan telunjuknya ke pelipisnya, pandangannya tak lepas dari Rendra.


"Dari informasi beberapa teman satu jurusan nona Fairis, dia dan nona Rosi bersahabat semenjak mulai masuk kuliah,".

__ADS_1


"Kenapa Kakek bukannya mencarikan wanita yang dewasa malah menyodorkan gadis kecil itu untuk dijodohkan denganku?" gumamnya pelan tapi masih bisa didengar oleh Rendra.


"Menurut informasi yang aku dapat, Pak Cipto sudah dekat dengan nona Fairis semenjak nona masih kecil, beliau menyayanginya seperti cucu beliau sendiri. Mungkin karna sudah mengenal dengan baik kepribadian nona Fairis, makanya beliau pikir nona Fairis adalah wanita yang pantas untuk menjadi pendampingmu," jelas Rendra.


"Lalu menurutmu aku mesti gimana?" lanjut Vano.


"Sebagai cucu satu-satunya yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan beliau sudah pasti siapapun wanita yang dipilihkan beliau untuk menjadi pendampingmu adalah wanita yang berkualitas. Kamu beruntung kalau sampai memiliki istri seperti itu. Tapi balik lagi ke kamu, mau belajar mencintainya atau lebih memilih menikah dengan wanita yang dari awal sudah kamu cintai," jelas Rendra.


"Kalau penampilannya gimana? Cantik? Seksi?" tanya Vano.


"Kamu bisa liat sendiri fotonya di dalam amplop itu," jawab Rendra, menurutnya persepsi orang berbeda, yang menurut Rendra cantik belum tentu cantik di mata Vano, daripada salah lebih baik biarkanlah Vano menilai sendiri.


Vano membuka amplop coklat itu dan mencari foto yang dimaksud, Vano mengerutkan dahinya, "Benar-benar Kakek ini, dia lebih pantas menjadi adikku, kalo seperti calon model kita tadi siapa namanya, itu dia masih mendinglah kalo disandingin ma aku,".


"Apa itu artinya kamu lebih tertarik dengan calon model kita? Apa perlu aku kirimkan kontak pribadinya ke ponselmu," goda Rendra.


"Seingatku dulu Hana juga penampilannya gitu," gumam Rendra pelan tapi masih bisa didengar oleh Vano.


Mendengar nama wanita dari masa lalunya disebut membuat Vano menatap tajam ke arah Rendra. Menyadari hal itu Rendra buru-buru memasang senyum yang paling manis.


"Maaf brother, setelah aku pikir-pikir mereka berbeda," kata Rendra dengan memasang raut bersalah. "Berbeda orangnya saja, kalo dia gak suka sama model yang mengumbar keseksiannya untuk tontonan umum kenapa dulu bisa suka sama Hana, jelas-jelas Hana model dengan penampilan yang seksi mirip seperti Rosi," lanjut Rendra dalam hati.


"Ya sudah, apa jadwalku selanjutnya?" tanya Vano mengalihkan pembahasan.


"Jam 11 nanti kamu ada janji bertemu dengan Pak Dirga dari PT. Cisco di Balcony Resto, setelah itu jadwal kamu kosong, hanya ada beberapa berkas dari divisi perencanaan produk yang perlu kamu periksa dan ditandatangani," jelas Rendra.


"Cisco? Apa ada masalah dengan sistem keamanan produk baru yang akan kita luncurkan?".

__ADS_1


"Tidak, beliau hanya ingin menawarkan temuan mereka untuk sistem keamanan terbaru yang lebih canggih untuk seri ponsel kita selanjutnya,".


"Oh oke, kamu bisa keluar, aku mau istirahat sebentar, masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum meeting kan?" kata Vano setelah menengok arloji seharga ratusan juta yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Rendra melirik arloji yang harganya juga lumayan mahal di pergelangan tangan kirinya, "Sekitar sejam lagi kita akan berangkat ke tempat meeting, oke kalo begitu aku keluar dulu," pamit Rendra lalu berjalan keluar dari ruangan.


Vano meraih ponselnya kemudian melakukan suatu panggilan, tak berapa lama muncul suara sahutan.


"Halo cucuku sayang, tumben pagi-pagi telepon Kakek?".


"Kek, apa Kakek tidak salah memilihkan Vano jodoh?".


Tersungging senyuman di bibir Kakek, mendengar pertanyaan dari cucunya tadi Kakek dapat menebak kalau cucunya telah mencari informasi mengenai gadis yang ingin dia jodohkan dengannya.


"Apa yang salah dengan pilihan Kakek?".


"Ayolah Kek, dia masih 18 tahun itu aja belum genap, Vano udah 27 tahun Kek, dia lebih pantas jadi adik Vano,".


"Harusnya kamu senang Van, Kakek kasih jodoh daun muda buat kamu, lagian dimana lagi kamu bisa temukan gadis seperti dia, sudah cantik, baik, pintar,".


"Baik menurut orang lain belum tentu baik juga buat Vano Kek, Vano maunya nikah sama wanita yang Vano suka dan baik menurut Vano,".


"Kenapa kamu gak nyoba kenal dulu gadis itu, Kakek yakin kamu akan tertarik dengan gadis itu,".


"Sudah, Kakek tutup dulu, Kakek ada tamu,"


Tut..tut..tut

__ADS_1


"Sial, ditutup," kesal Vano.


__ADS_2