
"What?" seru Rosi dan Azki bersamaan saat mendengar ada hubungan apa antara Riris dan Vano. Mereka tidak menyangka kalau ternyata sahabatnya itu memiliki kedekatan layaknya keluarga dengan pemilik perusahaan besar yang saat ini memakai jasa mereka.
"Maaf ya sayang aku gak cerita dari kemarin, soalnya emang aku deketnya sama kakek Cipto, kalo ma kak Vano nya baru aja kenal, jadi aku pikir gak penting juga aku cerita," jelas Riris dengan raut wajah bersalah melihat ekspresi terkejut kedua sahabatnya.
Pagi ini Riris terpaksa jujur kepada kedua sahabatnya mengenai hubungannya dengan pemilik PT. Ultima Sanjaya. Dia tidak mau berbohong mengenai alasannya tidak ikut serta kedua sahabatnya yang rencananya pagi ini akan mengunjungi beberapa tempat wisata bersama crew syuting lainnya. Daripada nanti dia mencari-cari alasan dan akhirnya kepergok sedang pergi berdua dengan Vano, bisa saja kedua sahabatnya salah paham dan berdampak negatif bagi persahabatannya dengan Rosi dan Azki. Terlebih Riris takut jika dugaannya benar bahwa Rosi menyukai salah 1 di antara Vano dan Rendra, dan ternyata yang disukai Rosi adalah Vano, maka dia akan menyangka Riris memiliki hubungan spesial dengan Vano, bukan tidak mungkin Rosi akan membenci dirinya.
"Beb, kamu gak ngrasa aneh? Kenapa mamanya Pak Vano menyuruh kamu yang memilih barang-barang pesanannya? Jangan-jangan itu cuma alasan mamanya Pak Vano biar kamu deket sama Pak Vano?" kata Rosi dengan raut berpikir sambil memegang dagunya.
Riris membulatkan matanya mendengar dugaan Rosi lalu buru-buru mengangkat kedua tangannya dan menggerakkannya cepat ke kanan dan ke kiri, "Gak..gak..gak mungkin kayak gitu, Rosi sayang...Pak Vano itu bisa dibilang perfect, tanpa dijodohin pun banyak yang mau sama dia, jangan ngaco deh".
"Iya Ros, bisa aja kan mamanya Pak Vano mikirnya pilihan Riris bakal lebih sesuai ma seleranya karna sama-sama wanita, trus biar Riris gak repot jadi Pak Vano yang disuruh nganterin, kasian tu Riris nanti jadi kepikiran omongan kamu," Azki yang melihat wajah khawatir di wajah Riris mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Hiks...sedih deh gak bisa ikut bareng kalian jalan-jalan," keluh Riris sambil menghela nafas kasar dan memasang wajah cemberut. "Yadah aku duluan ya, takutnya kak Vano udah nungguin di lobby, kalian selamat bersenang-senang ya," pamit Riris sambil meraih tasnya lalu berjalan keluar kamar hotel dengan lunglai.
"Gak mungkin deh dugaan aku salah," ucap Rosi masih tampak berpikir.
"Udah gak usah ampe begitu mikirnya, serius amat buk, eits tunggu...ini bukan karna kamu gi cemburu kan Ros?" tanya Azki.
Rosi menepuk bahu Azki agak keras, "Sembarangan, oke aku akui kalo Pak Vano emang menarik banget jadi cowok tapi bukan berarti aku suka juga kali," protes Rosi. "Lagian saat ini ada cowok yang lagi aku taksir, dan pastinya dia lebih seksi dan menggoda," lanjut Rosi sambil menampilkan wajah sensual.
__ADS_1
Azki bergidik ngeri melihat ekspresi sahabatnya itu, "Udah ah yuk buruan berangkat, aku gak mau sampe terkontaminasi otak mesum kamu,".
**********
"Udah lama nunggunya kak?" tanya Riris saat berada di hadapan Vano yang sedang duduk di sofa lobby sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa gadis ini makin lama makin terlihat manis sih," kata Vano dalam hati saat matanya menatap gadis di hadapannya yang terlihat begitu manis dengan atasan blouse pendek model elbow sleeve berwarna putih dipadu bawahan circle skirt di atas lutut motif bunga-bunga berwarna navy.
Riris yang heran karena Vano malah terdiam sambil menatapnya membungkuk dan menggerakkan satu tangannya di depan wajah Vano, sedangkan tangan satunya menyisipkan rambutnya ke belakang telinga agar rambut panjangnya yang terurai tidak menutupi wajahnya. "Kak?".
Vano dapat melihat dengan jelas setiap lekuk wajah Riris yang berada tepat di depannya. Matanya yang begitu bersinar tampak semakin indah dengan bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mungil membuat Vano gemas ingin mencubitnya, dan saat tatapannya beralih pada bibir Riris Vano menelan ludahnya, bibir yang terlihat begitu lembut dan merona itu begitu menggoda baginya, ingin rasanya dia menciumnya dan menyesapnya, sekilas terbayang di benaknya betapa manisnya bibir itu.
Riris yang menyadari Vano sedang mengamati wajahnya merasa gugup lalu buru-buru menegakkan tubuhnya. Vano yang tersadar karena merasakan gerakan Riris merasa malu telah kepergok sedang mengamati wajah Riris, tapi dia berusaha menampakkan raut wajah sedatar mungkin.
Riris mengikuti langkah Vano sambil memperhatikan ekspresi beberapa wanita yang sempat berpapasan dengan Vano, mereka terlihat terpesona pada pria yang tampak begitu tampan dengan kaos oblong warna putih dan celana panjang berwarna hitam itu.
Di dalam mobil Vano menyuruh Riris membacakan apa saja barang yang dipesan oleh mamanya, setelah mengutak-atik ponselnya sekitar 10 menit mereka mulai menelusuri jalanan Jogja yang masih belum begitu ramai. Tujuan pertama mereka adalah toko batik yang paling melegenda di Jogja, letaknya di daerah Malioboro. Vano berharap dengan mereka datang di pagi hari pengunjung yang datang ke toko belum begitu ramai sehingga mereka tidak perlu berdesakan dengan para pengunjung lainnya.
Begitu berada di dalam toko Riris begitu kagum dengan koleksi-koleksi yang dipajang berjajar rapi, dia mulai melihat-lihat baju batik yang sekiranya cocok dengan selera Yola. Saat memilih baju ada 1 hal yang membuat Riris kagum kepada Vano, pria yang dinilainya dingin itu ternyata begitu perhatian, dia dengan setia mengikuti kemanapun Riris melangkah dan membantunya memilih baju yang sekiranya sesuai dengan selera mamanya.
__ADS_1
"Dek, itu kakaknya ya?" tanya seorang wanita yang berada di dekat Riris tanpa mengalihkan pandangannya kepada Vano yang tampak sibuk melihat-lihat kemeja batik pria di stand berjarak sekitar 3 meter darinya.
Riris menoleh ke arah wanita cantik di sebelahnya kemudian mengikuti pandangan wanita itu, "Oh, iya mbak,". Riris memilih mengiyakan anggapan wanita itu daripada harus repot-repot berbicara panjang lebar kepada orang yang tidak dia kenal.
"Kakak kamu perhatian banget ya, mau nemenin adek nya beli baju, so sweet, mana ganteng banget lagi," kata wanita itu dengan ekspresi yang memperlihatkan ketertarikannya pada Vano. "Boleh gak dek kalo mbak minta tolong dikenalin sama kakaknya?" lanjut wanita itu.
Riris yang sedang berusaha menemukan jawaban yang tepat kaget saat tiba-tiba Vano telah berada di hadapannya.
"Perhatian banget sih mas mau anterin adek nya beli baju, kenalin saya Dea," kata wanita itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Vano yang melihat gelagat wanita itu seolah berusaha mencari perhatiannya menggenggam tangan Riris, "Kamu udah selesai milih bajunya sayang?" tanya Vano sambil tersenyum ke arah Riris.
Riris yang terkejut karena merasakan tangannya digenggam oleh Vano bahkan memanggilnya sayang hanya mengangguk kaku.
"Yaudah kita ke kasir. Maaf, saya dan kekasih saya permisi dulu," kata Vano menatap Dea sekilas lalu menggandeng Riris menuju kasir.
Dea terdiam untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Bukankah baru saja dia diacuhkan oleh seorang pria saat dengan percaya dirinya dia memperkenalkan dirinya? Dan apa? Gadis itu kekasihnya? "Sial, pasti *gadis itu sedang menertawai kebodohanku sekarang, bisa-bisanya secara terang-terangan aku menunjukkan ketertarikanku terhadap kekasihnya di hadapannya, bahkan meminta bantuannya untuk mengenalkannya padaku. Kamu benar-benar memalukan De*," gumamnya dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kak, kenapa harus kayak gitu tadi?" tanya Riris saat Vano sudah melepaskan tangannya begitu mereka berdua sampai di depan kasir.
__ADS_1
"Males buang-buang waktu nanggepin cewek tadi," jawabnya santai.
Mendengar jawaban Vano membuat Riris melongo, "Ni orang santai banget padahal abis gandeng tangan orang sembarangan, manggil sayang lagi, gak tau pa dah bikin jantung aku berdebar gak karuan,"