
Sudah sejam Riris mengikuti Yola berjalan kesana kemari masuk ke berbagai toko di mall sekedar untuk melihat-lihat. Riris senang melihat raut wajah wanita yang tampak cantik dengan gayanya yang classy itu terlihat begitu antusias menikmati acara jalan-jalan mereka. Terkadang mereka berdua mengobrol, bercanda, dan tertawa riang sehingga mungkin siapapun yang melihat akan mengira bahwa mereka berdua adalah ibu dan anak kandung.
"Ris, sini deh, kayaknya tas ini cocok buat kamu," kata Yola sambil menunjukkan tas mungil berwarna hitam dengan hiasan gantungan logam berlapis emas pucat berbentuk lambang brand tas favoritnya.
Riris mendekat ke arah Yola lalu memperhatikan tas yang ada di tangan Yola, sesaat dia terpukau, iya, menurutnya tas itu begitu cantik, tapi Riris bukanlah tipe perempuan sosialita yang gemar mengoleksi barang-barang mewah hanya sekedar untuk menuruti gaya hidupnya yang serba glamour, dia memang menyukai barang branded tapi karena pertimbangan dari segi estetika dan kualitas. Tidak semua barang-barang yang dipakainya merupakan brand keluaran luar negeri, banyak yang merupakan brand lokal, yang terpenting baginya adalah kualitas, sesuai dengan seleranya, dan ia nyaman memakainya.
"Iya tante bagus, sepadan dengan harganya yang begitu mahal," kata Riris.
"Bagus kalo kamu suka, yuk kita ke kasir," ajak Yola menuju kasir sambil membawa tas yang ditunjukkannya tadi.
"Kok dibawa ke kasir? Ah mungkin tante Yola mau beli buat dirinya sendiri," batin Riris sambil melangkah mengikuti Yola.
Setelah membayar tas itu Yola menyerahkan paper bag berisi tas tadi ke Riris. Riris yang mengira Yola meminta bantuannya untuk membawakan belanjaannya menerimanya.
"Tas udah, berarti sekarang kita cari baju, di mall ini ada toko pakaian favorit kamu gak sayang?" tanya Yola sambil menoleh ke samping ke arah Riris.
"Ada tante, tapi isinya kebanyakn model yang cocok buat anak muda, kalo yang cocok buat tante Riris gak tau ada gak di sana," jawab Riris. Sesaat Riris tersadar akan ucapannya yang menurutnya bisa saja menyinggung Yola, "Maaf tante bukannya Riris bermaksud bilang kalau...emm..emm," Riris bingung mencari kata yang pas.
"Hahaha...kalau tante tua? Gak papa sayang, tante paham kok maksud kamu, kan tante emang beda generasi ma kamu, makanya tante tanya ke kamu toko yang sesuai untuk kalangan muda, kan mau nyari bajunya buat kamu," kata Yola sambil menoel dagu Riris.
"Riris lagi gak pengen beli baju kok tante, kita nyari apa yang tante butuhin aja,"
"Ayo dong sayang, tante tu dari dulu pengen banget punya anak perempuan, dandanin dia biar cantik, milihin dia baju, tas, sepatu, mau yah..yah.." rayu Yola sambil memegang pipi kanan Riris.
"Riris gak mau ngrepotin tante,"
__ADS_1
"Oke kalau cuma itu masalahnya, karna tante gak repot berarti mulai sekarang kamu harus nurut sama tante, sekarang dimana toko pakaiannya?" tanya Yola sambil menggandeng tangan Riris dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan Riris.
"Ya Tuhan, kakek Cipto sama menantunya kenapa bisa mirip banget yah, sama-sama royal, Riris kendalikan ekspresi wajah kamu, jangan terlihat bahagia berlebihan setelah tau tas cantik tadi adalah milik kamu, jangan permalukan diri kamu sendiri dengan bersikap seolah kamu gak pernah dibelikan orang tuamu barang-barang semahal itu, meski kenyataannya emang seperti itu," kata Riris dalam hati.
"Kamu lihat-lihat dulu sayang, tante mau lihat-lihat yang di sebelah sana," kata Yola sambil memutar tubuhnya ingin menuju ke suatu sudut toko pakaian yang baru saja mereka masuki. "Oh ya, kalo ada yang kamu suka jangan lupa tunjukin ke tante ya," lanjutnya sambil menoleh ke arah Riris sesaat lalu kembali berjalan meninggalkannya.
Ketika sedang memilih baju yang sekiranya cocok untuk Riris, Yola dikejutkan dengan sosok perempuan cantik yang berdiri di sampingnya dan menyapanya.
"Tante Yola," sapa gadis itu sambil tersenyum.
"Hana, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Yola sambil cipika-cipiki ke Hana.
"Iya tante, udah sekitar sebulan Hana menetap di Indonesia karna papa dipindah tugaskan ke sini." jawab Hana.
"Lalu suami kamu?"
"Oh begitu, maaf Hana tante gak bermaksud bikin kamu sedih," kata Yola melihat perubahan di raut wajah Hana yang tadinya ceria.
"Gak papa kok tante, oh ya, gimana kabar om Juna dan emm...Vano," tanya Hana lalu menundukkan wajahnya, terlihat perasaan bersalah pada wajah Hana ketika menyebut nama Vano.
"Mereka berdua baik," jawab Yola singkat.
"Hana dengar Vano sudah lama tinggal di sini tante, apa benar?" tanya Hana.
"Iya, sudah sekitar 4 tahun Vano tinggal di sini untuk mengurus perusahaan kakeknya," jelas Yola.
__ADS_1
"Apa Hana boleh main ke rumah tante untuk ketemu Vano?" tanya Hana dengan ekspresi yang kembali ceria.
"Boleh, silahkan mampir kalau kamu pas ada waktu, kebetulan tante sama om juga untuk sementara waktu tinggal di sini,"
Yola yang melihat Riris tak jauh dari tempatnya memanggilnya, "Ris, sini sayang,"
"Iya tante," jawabnya mendekat ke arah Yola. Matanya menatap kagum pada sosok cantik dengan postur bak model kelas atas yang tampak anggun di samping Yola.
"Sayang kenalin ini teman Vano sewaktu kuliah di Amerika," kata Yola yang mengerti kalau Riris penasaran dengan wanita yang berdiri di sampingnya.
"Riris," ucap Riris sambil mengulurkan tangannya.
"Siapa dia? Bukan istri Vano kan? Gak mungkin karna dia terlihat masih sangat muda, lagian dia manggil tante Yola dengan sebutan tante. Ato pacar Vano? Tapi selera Vano bukan seperti itu," batin Hana.
"Hana," ucap Hana sambil membalas uluran tangan Riris.
"Kamu udah nemu baju yang bagus sayang?" tanya Yola ke Riris.
"Belum tante," jawab Riris.
"Ini tante udah milih beberapa baju, kamu coba di kamar ganti ya," kata Yola yang dibalas anggukan kepala oleh Riris. "Hana tante permisi dulu ya," pamit Yola yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Hana.
Hana kecewa karena Yola sudah tidak memperlakukannya sebaik dulu. Dia tau mungkin Yola kecewa karena dia sudah meninggalkan Vano yang saat itu begitu mencintainya demi menikah dengan aktor luar negeri yang menjadi rekannya saat menjadi model suatu produk.
"Aku harap kamu masih mencintaiku seperti dulu Van, sekarang aku sadar, kamu adalah pria yang paling tulus mencintaiku dan selalu memperlakukan aku dengan baik. Semoga masih ada kesempatan buat aku membuatmu kembali menjadi milikku," batin Hana lalu berlalu meninggalkan toko.
__ADS_1
Yola keluar dari mall dengan ekspresi yang begitu puas, mimpinya selama ini untuk berbelanja dengan anak perempuan yang begitu didambakannya, memilihkannya baju, tas, sepatu, dan segala pernak-pernik perempuan terwujud berkat Riris. Dia berjalan dengan riangnya sambil menenteng begitu banyak paper bag hasil belanjaannya hari ini di tangan kanan maupun kirinya. Riris yang juga menenteng paper bag di tangan kanan maupun kirinya terlihat lelah dan sedikit shock, bagaimana tidak, wanita yang baru dia temui sehari sebelumnya itu rela mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk dirinya tanpa beban sedikitpun, bahkan dia terlihat jauh lebih bahagia ketimbang Riris yang hari ini merasa mendapatkan jackpot karena dibelikan barang-barang branded.
"Benar kata ayah, mungkin kalau aku menjadi menantunya bahkan aku minta helikopter pun akan dibelikan," batin Riris sambil berjalan lunglai menyusul Yola yang berjalan dengan begitu bersemangat karena selanjutnya Riris akan menemaninya ke salon.