Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Mulai Menunjukkan Perhatian


__ADS_3

POV Riris


Di sinilah aku sekarang, berjalan menjauh dari bibir pantai dengan tangan Mas Raffi masih setia menggenggam tanganku. Aku iikuti kemanapun kaki Mas Raffi melangkah tanpa membuka percakapan. Mas Raffi juga seolah tak ingin banyak bicara, hanya sesekali dia menoleh ke belakang sambil tersenyum kepadaku, entah mengapa di mataku dia terlihat berbeda, jika biasanya dia terlihat seperti seseorang yang harus menjaga sikapnya, saat ini dia begitu lepas mengekspresikan rasa bahagia di hatinya. Hatiku ikut bahagia melihatnya, sepertinya detik ini, menit ini, rasa sukaku ke Mas Raffi meningkat berkali-kali lipat, mungkin saat ini aku sudah benar-benar jatuh cinta kepadanya.


"Sepertinya toko ini yang paling lengkap dibanding dengan yang lain, ayo masuk," ajak Mas Raffi. "Pilihlah apa saja yang kamu butuhkan," lanjutnya sambil mengedarkan pandangan melihat keseluruhan isi toko yang didominasi oleh pakaian wanita.


"Kok masih diam," tanyanya ketika melihatku tak bergeming dari tempatku semula.


Kuarahkan pandanganku ke genggaman tangan Mas Raffi, tanpa perlu aku bicara Mas Raffi paham apa yang ingin aku sampaikan.


"Maaf...mas gak sadar," ucapnya setelah melepas genggamannya, lalu memegang tengkuknya sambil terkekeh.


Aku hanya tersenyum lalu mulai melihat-lihat baju yang berjejer rapi memenuhi toko.


"Mas mau ambil uang di penginapan, kamu tunggu di sini ya sambil memilih baju, jangan kemana-mana," pesan Mas Raffi lalu berlalu meninggalkanku.


Aku lega, karena aku bisa bebas memilih baju tanpa rasa canggung karena diperhatikan olehnya. Akhirnya aku memilih kaos hitam dengan tulisan 'only for you' berwarna putih di bagian belakang, sedangkan bagian depan polos. Lalu untuk bawahannya aku memilih circle skirt yang panjangnya persis di bawah lutut berwarna dusty pink. Aku meminta penjual untuk membungkusnya ke dalam plastik berisi pakaian dalam yang sebelumnya sudah aku pilih terlebih dahulu, karena akan sangat memalukan menurutku bila Mas Raffi melihatku membeli pakaian dalam.


Tak berapa lama terlihat Mas Raffi setengah berlari menghampiriku, "Sudah dapet bajunya?" tanyanya.


"Sudah Mas," jawabku sambil mengangkat plastik putih di tanganku.


"Berapa semuanya Mbak?" pandangan Mas Raffi beralih ke Mbak penjual.


"150 ribu Mas,".


"Uangnya pas ya Mas, terimakasih," lanjut Mbak penjual setelah menerima uang dari Mas Raffi.


"Makasih ya Mas bajunya," ucapku saat berjalan kembali ke penginapan.


"Sama-sama, tapi kamu jangan salah paham ya, itu gak gratis," ucapnya dengan datar.


Aku menghentikan langkahku dan menatap wajahnya, "Iya nanti aku ganti uang Mas kalo sudah sampai penginapan," kataku karena ada keseriusan yang kutangkap saat Mas Raffi mengatakannya tadi.


Mas Raffi menggelengkan kepalanya, "Bukan uang, tapi Mas pengennya kamu gantian nemenin Mas buat pergi ke suatu tempat,".

__ADS_1


"Kemana?".


"Akan Mas pikirkan nanti, yang penting kamu mau kan?".


"Akan aku pikirkan nanti," jawab Riris.


Raffi tertawa Riris membeo ucapannya, "Mas anggap kamu menyetujuinya,".


**********


POV Author


Hari pertama kuliah


"Riris," panggil Rosi sambil melambai ke arah Riris.


"Udah aku siapin kursi buat kamu," lanjutnya sambil menepuk kursi di sebelahnya saat Riris hanya berjarak semeter dari tempatnya duduk.


"Makasih sayang," ucap Riris sambil menoleh ke arah Rosi saat sudah duduk di kursinya. "Hai Azki," sapanya melihat Azki di sebelah Rosi.


"Kita berdua ikut kelompok kalian ya?" Putra dan Anton langsung menggeser kursinya mendekat ke Riris lalu mendudukinya.


Riris menoleh ke arah Rosi dan Azki seolah meminta persetujuan, anggukan kepala mereka membuat Putra dan Anton senang.


"Lia ikut kelompok kita aja mau gak?" tanya Riris melihat Lia yang hendak beranjak dari tempat duduknya yang tepat berada di depan Riris.


"Mau dong," jawabnya tersenyum.


Karena kelompok Riris sudah pas berjumlah enam orang, mahasiswa yang tadinya berniat bergabung dengan maksud agar mempunyai kesempatan untuk mendekati Riris, Rosi, maupun Azki, meninggalkan kelompok Riris dengan perasaan kecewa.


Setelah mahasiswanya duduk secara berkelompok, dosen memberikan penjelasan bahwa masing-masing kelompok akan dibebankan suatu materi, kemudian diminta untuk mempelajarinya secara mandiri dari berbagai sumber lalu membuat bahan presentasi. Pada setiap pertemuan akan ada kelompok yang bertugas menjelaskan materi di depan kelas layaknya seorang dosen. Dalam kelompok tersebut dua orang bertugas membuat materi presentasi dimana salah satunya akan mempresentasikannya di depan kelas dan satu lagi menjawab apabila ada pertanyaan dari mahasiswa lain mengenai materi yang disampaikan, satu orang membuat media presentasi sekaligus menjadi operator saat presentasi berlangsung, satu orang membuat contoh soal dan menjelaskannya, lalu dua orang sisanya membuat latihan soal. Sedangkan dosen hanya akan memberikan koreksi terhadap apa yang dipresentasikan, menyampaikan apa yang belum dibahas pada presentasi, dan menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh kelompok yang bertugas mempresentasikan materi.


Setelah melakukan diskusi, diputuskan bahwa Putra dan Riris bertugas membuat materi presentasi dimana nanti Riris yang akan mempresentasikan materi di depan kelas, Anton membuat media presentasi, Lia membuat contoh soal dan menjelaskannya, sedangkan Rosi dan Azki membuat latihan soal. Karena kelompok mereka merupakan kelompok pertama yang bertugas, mereka hanya memiliki waktu seminggu untuk mempersiapkan bahan presentasi, sehingga diputuskan setelah kelas itu berakhir mereka akan makan siang bersama di kantin lalu ke perpustakaan karena sudah tidak ada kelas lagi di hari itu.


Ketika makan siang bersama di kantin, ponsel Riris berbunyi menandakan ada pesan masuk. Senyum Riris langsung mengembang sempurna begitu tahu kalau pesan itu berasal dari pria yang telah merebut hatinya, Raffi.

__ADS_1


"Hai, lagi apa?".


"Lagi makan ma temen-temen mas di kantin,".


"Abis itu ada kelas lagi?".


"Gak, cuma diajakin ke perpustakaan soalnya ada tugas kelompok buat minggu depan,".


"Oh, kamu gak nanya Mas lagi apa?".


"Hehe...harus gitu?".


"Ya seneng aja kalo kamu kepo sama Mas,".


"Ya udah, Mas lagi apa?".


"Lagi liatin kamu makan,".


"Uhuk..uhuk..," Riris tersedak saat membaca balasan dari Raffi. Diraihnya es jeruk pesanannya dan buru-buru meneguknya. Kemudian Riris mengedarkan pandangannya mencari sosok yang membuatnya tersedak. Dilihatnya sosok yang dicarinya itu sedang berdiri di dekat kasir sambil tersenyum ke arahnya.


"Maaf gara-gara Mas, minuman kamu langsung habis tak bersisa, jangan pesen es manis lagi, gak baik buat kesehatan, cukup Mas yang beresiko diabetes karna keseringan ngliatin kamu," pesan yang masuk lagi dari Raffi.


Jelas wajah Riris merona merah membaca pesan Raffi, bukankah itu artinya menurut Raffi, dia itu manis, begitu pikir Riris. Ketika memikirkan bagaimana membalas pesan Raffi, pelayan kantin datang membawa sebotol air mineral untuk Riris.


"Mbak ini ada yang minta saya nganterin air ini buat mbak," jelasnya.


Sontak Riris menoleh ke arahnya dan tersenyum, "Ya Mbak makasih,".


Riris melihat teman-temannya memandangnya seolah bertanya siapa yang menyuruh pelayan kantin tadi.


"Aku juga gak tau siapa, jadi gak usah dibahas, oke, lanjutin aja makan kalian," bohong Riris.


Setelah teman-temannya melanjutkan makan mereka diselingi obrolan mengenai acara ospek kemarin, Riris mengetik pesan untuk Raffi.


"Makasih ya Mas air mineralnya, jangan liatin aku mulu, nanti Mas jatuh cinta, hehe..."

__ADS_1


"Gak masalah, yang masalah itu kalo itu kejadian kamunya gak bisa balas,".


__ADS_2