
Riris, Rosi, Azki, Lia, Putra, dan Anton siang itu keluar dari ruang kuliah dengan perasaan lega dan senang. Bagaimana tidak, sebagai kelompok pertama yang mendapatkan tugas presentasi sehingga hanya diberikan waktu seminggu untuk menyiapkannya, mereka mendapatkan pujian dari dosennya karna hasil yang memuaskan baik dari segi bahan materi dan soal, media penyampaian, maupun performa setiap anggota tim dalam penyampaiannya. Awalnya siang itu juga Putra mengajak anggota kelompoknya untuk jalan-jalan ke mall dan menonton film untuk merayakannya, namun karna Rosi ada urusan maka rencananya mereka akan ke mall nya nanti sore.
"Beb...temenin aku yuk ke PT. Ultima Sanjaya, aku grogi kalo cuma sendirian, apalagi nanti aku juga bakal ketemu sama CEO nya," ajak Rosi pada Riris dan Azki.
"Yee...itu kan acara meeting penting perusahaan Ros, buktinya CEO nya aja ampe turun langsung, gak pantes kalo yang gak berkepentingan ikut hadir di meeting itu," jelas Riris.
"Terus gimana dunk, tuh liat tangan aku aja pe basah terus dari tadi gara-gara gugup," kata Rosi sambil menunjukkan tangannya yang terasa dingin dan berkeringat.
Azki yang merasa iba akhirnya menoleh ke Riris, "Kita temenin aja yuk Ris, nanti kita nunggu di luar ruangan aja, gimana?"
"Iya..iya gak papa kalian nunggu di luar, yang penting aku merasa aman karna ada kalian, ya Ris, please," rengek Rosi sambil menggenggam tangan Riris dan mengayunkannya ke kanan ke kiri.
"Yaudah aku ngikut, tapi abis itu traktir makan siang ya?" kata Riris.
"Siap nona-nona cantik, kalau begitu silahkan lewat sini," kata Rosi tersenyum senang, lalu membungkukkan badannya sedikit dan menengadahkan tangannya mempersilahkan kedua temannya untuk berjalan mendahuluinya seolah mereka berdua adalah orang penting. Riris dan Azki yang melihat kelakuan sahabatnya itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum lalu berjalan meninggalkan Rosi yang menyusul mereka dengan wajah ceria.
**********
Di gedung PT. Ultima Sanjaya
__ADS_1
"Waw...ini gedung perusahaan atau tower stasiun televisi sih, tinggi banget," ucap Azki begitu menginjakkan kaki di depan pintu masuk.
"Namanya juga perusahaan besar, Ki, ayuk masuk," kata Rosi.
Rosi menghampiri meja resepsionis, dilihatnya ada 2 wanita cantik dan berpenampilan elegan yang berada di balik meja itu, yang 1 sedang sibuk menerima telepon, sedangkan yang 1 langsung berdiri dan tersenyum, "Silahkan Nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Rosiana Anggara, saya ada janji dengan Pak Dion dari manajer periklanan dan promosi jam 11", jelas Rosi.
"Baik nona, tolong tunggu sebentar biar saya konfirmasikan terlebih dahulu," kata resepsionis itu lalu mengangkat gagang telepon dan melakukan suatu panggilan. Tak berapa lama resepsionis itu mengakhiri panggilan telepon dan menatap Rosi ramah, "Silahkan nona naik ke lantai 8, lalu dari lift nona belok ke kanan, Pak Dion sudah menunggu nona di ruangan meeting yang berada di paling ujung lorong tersebut,".
"Baik mbak terimakasih atas informasinya," ucap Rosi lalu berlari kecil menuju kedua temannya yang sedang duduk di sofa lobby menunggunya. "Yuk kita naik,".
"Silahkan duduk nona Rosi, sambil menunggu kedatangan CEO kami, nona Rosi bisa mempelajari kontrak kerjasama ini," kata Dion sambil menyodorkan sebuah map ke Rosi.
Rosi mulai membaca dan mencoba memahami isi kontrak kerjasama itu. Mata Rosi membelalak melihat nominal uang yang akan dia dapatkan dari kontrak kerjasama tersebut, nominalnya setara dengan nominal jika dia setiap hari upload 1 foto endorse selama setahun penuh.
Di luar ruangan Riris dan Azki duduk di sofa sambil mengobrol. Tak lama Riris pamit ke toilet. Di perjalanan menuju toilet, dari jarak beberapa meter Riris melihat dua orang pria tampan sedang berjalan berdampingan dengan gagahnya menuju ke arahnya. Satunya tinggi dengan postur tubuh yang begitu menggoda wanita untuk memeluknya, semua yang melekat di tubuhnya terlihat begitu pas dan mewah sehingga membuat auranya begitu mempesona. Sedangkan pria di sampingnya memiliki postur tubuh sedikit lebih pendek, tapi tetap terhitung tinggi untuk ukuran pria Indonesia pada umumnya. Raut wajahnya datar sehingga aura tegas dan berwibawa begitu terlihat. Sesaat Riris terpaku karna merasa takjub, mereka berdua terlihat seperti tokoh utama pria dan asisten pribadinya dalam drama korea yang ditontonnya. Ketika kedua pria tadi menatap Riris, dia tersadar lalu menunduk dan berjalan lebih cepat menuju ke toilet. Vano yang merasa tidak asing dengan wajah gadis yang baru saja berpapasan dengannya menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang, dia memperhatikan gadis tadi sampai hilang di balik pintu toilet.
"Ren, bukannya itu gadis yang akan dijodohkan kakek denganku?" tanya Vano.
__ADS_1
"Saya rasa memang benar kalo gadis tadi adalah nona Fairis, apakah saya perlu mencari tau perihal kedatangan nona Fairis ke perusahaan ini Pak?" kata Rendra yang ikut menghentikan langkah mengikuti gerakan atasannya.
"Ya, nanti laporkan ke aku, sekarang kita ke ruang meeting dulu," ajak Vano sambil berjalan kembali menuju ke ruang meeting.
Begitu Vano dan Rendra masuk ke ruang meeting, Dion dan rekan-rekannya berdiri menyambut kedatangan atasan tertinggi mereka. Rosi yang menyadari bahwa yang barusan masuk pasti CEO perusahaan itu ikut berdiri dan memandang ke arah keduanya. Sama seperti Riris, Rosi juga begitu takjub, bahkan mulutnya sampai menganga dan matanya melebar dengan sempurna. Setelah Vano duduk di kursinya, Dion dan rekan-rekannya ikut duduk, Rosi yang menyadari pergerakan mereka ikut duduk, dia begitu gugup karena pria yang membuatnya terpesona tadi duduk tepat berada di sebelahnya.
Meeting menghabiskan waktu sekitar 1 jam dengan hasil kesepakatan bahwa Rosi menyetujui semua isi kontrak kerjasama yang ditawarkan, karena toh bagi Rosi kontrak itu sangat menguntungkan dan tidak ada pasal yang merugikannya, kecuali memang dia melanggar salah 1 pasal.
Ketika Vano keluar dari ruang meeting, dia menghentikan langkahnya karena kembali melihat gadis yang akan dijodohkan dengannya sedang duduk di sofa bersama seorang gadis lainnya. Rosi yang melihat arah pandangan Vano seakan paham bahwa pria itu bertanya-tanya tentang keberadaan kedua temannya itu.
"Mereka berdua teman saya Pak Vano, maaf saya mengajak mereka kemari untuk menemani saya," jelas Rosi.
Vano yang sedikit terkejut karna Rosi menyadari dia sedang menatap ke arah kedua gadis itu menoleh ke arah Rosi, "Iya, tidak apa-apa, saya tadi hanya merasa mengenal salah 1 dari mereka, ternyata saya salah," ucapnya berbohong karena tidak ingin Rosi bertanya lebih lanjut.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu Pak Vano, sekali lagi terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Saya permisi Pak Dion, saya tunggu kabar selanjutnya," pamit Rosi lalu berjalan ke arah kedua temannya.
"Sepertinya saya tidak perlu mencari tau perihal kedatangan nona Fairis kemari Pak Vano, karna anda sudah mengetahui alasannya," ucap Rendra, hatinya agak lega karna tugasnya tidak jadi bertambah.
Hai-hai readers....bantu like dan komentarnya ya, biar author tau ada yang baca dan suka ma novel author.
__ADS_1
Untuk visual Vano dan Rendra di bab selanjutnya ya, soalnya author belum nemu yang sekiranya cocok ma karakter di novel, atau buat kalian yang baca bisa lho kasih saran ke author siapa kira-kira yang cocok untuk visualnya.