Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Begitu Manis


__ADS_3

"Beb, kalian pulangnya bareng aku ato gak?" tanya Rosi yang baru saja beranjak dari kursinya.


"Aku gak sayang, udah ada yang jemput," kata Riris sambil memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.


"Sapa?" tanya Rosi.


"Tuh," jawab Riris sambil mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Terlihat Raffi sedang bersandar di tembok dan melambai ke arah mereka.


"Bisa gak sih Beb kalo mau romantis-romantisan jangan di depan kita? Bikin iri aja," kesal Rosi.


"Aku aja baru tau barusan kalo Mas Raffi ampe nyamperin ke kelas, maaf ya sayang, aku duluan," kata Riris sambil mencubit dagu Rosi. "Aku duluan ya Ki," lanjutnya sambil cipika-cipiki ke Azki. Lalu dia bergegas keluar kelas dan menghampiri kekasihnya yang tengah memainkan ponselnya.


"Kita langsung pulang Mas?" tanya Riris saat Raffi memasukkan ponselnya ke tasnya.


"Mampir apartemen dulu ya sayang, aku masih kangen," bisik Raffi sambil tersenyum.


"Apaan sih," kata Riris sambil memukulkan tasnya ke tubuh Raffi. "Mas, tadi aku liat kulkas Mas udah kosong, mau belanja sekalian gak?" tanya Riris.


"Dengan senang hati Nyonya Hardian," jawab Raffi sambil meraih tangan Riris dan menggandengnya.


Mendengar Raffi memanggilnya seolah dia istri Raffi membuat Riris tersipu, dia tak mampu menyembunyikan rona bahagia di wajahnya sehingga dia memilih menundukkan kepalanya.


"Makasih ya sayang," lanjut Raffi sambil mengecup punggung tangan Riris yang sedang dia genggam.


"Buat?" tanya Riris sambil menatap kekasihnya itu sambil tersenyum.


"Kehadiran kamu di hidup Mas, Mas bahagia banget punya kekasih seperti kamu sayang, rasanya Mas pengen cepet-cepet jadiin kamu istri Mas," kata Raffi sambil mengelus puncak kepala Riris.


"Nafas Ris nafas, lagi-lagi kamu dibuat tak berdaya dengan ucapan pria di hadapanmu ini, memalukan," batin Riris. "Mas, apakah dari dulu Mas seperti ini?" tanya Riris.


"Seperti apa maksud kamu?" tanya Raffi mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Semanis ini, ucapan Mas selalu bikin aku susah nafas" jawab Riris sambil menundukkan kepalanya dan menggoyang-goyangkan tangannya yang ada di genggaman Raffi.


Raffi tersenyum, "Ya anggap aja begitu, kenapa? Kamu tambah terpesona sama Mas?" tanya Raffi menggoda kekasihnya.


"Bukan hanya terpesona Mas, tapi rasanya gak mau pisah sama Mas," kata Riris dalam hati. "Aku sayang sama Mas," kata Riris dengan tatapan serius.


"Mas jauh lebih sayang sama kamu," kata Raffi sambil tersenyum. "Yuk katanya mau belanja, Mas pengen cepat sampe apartemen trus kangen-kangenan sama pacar Mas yang hari ini maniiiis banget," lanjutnya sambil mencubit hidung Riris gemas dengan tangan satunya.


Riris hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua berjalan menuju mobil Raffi dengan bergandengan tangan mesra.


**********


"Ki, kalo kamu gimana? Mau bareng gak?" tanya Rosi setelah Riris meninggalkan mereka berdua.


"Gak deh Ros, aku ada urusan abis ini," jawab Azki.


"Mau kemana? Mau dianterin?" tawar Rosi.


Rosi hanya terdiam menatap sahabatnya yang berlalu meninggalkannya sampai sosoknya menghilang dari pandangannya. Kemudian Rosi berdiri dan menyusul kedua sahabatnya yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang kelas. Dalam perjalanan menuju parkiran banyak pria yang berpapasan dengannya menatapnya dengan sorot kekaguman, tapi karena dia sudah terbiasa dengan hal itu, dia sama sekali tidak canggung dan berjalan tanpa mempedulikan mereka. Ketika sampai di depan parkiran, dilihatnya sosok wanita yang begitu dikenalnya duduk di kursi penumpang sebuah mobil yang sepertinya tak asing baginya.


"Kayak pernah liat, mobil siapa ya?" gumam Rosi sambil mencoba mengingat-ingat. Tak lama dia menjentikkan jarinya pertanda usahanya membuahkan hasil, "Mobil Mas Ervan," gumamnya lalu tersenyum. "Kamu ada hutang cerita ke kita Ki," kata Rosi lalu berjalan menuju mobilnya.


**********


"Mas, bisa gak lepasin aku dulu, ini gak selese-selese lho ntar, katanya pengen ngobrol," rengek Riris saat Raffi tak mau melepaskan pelukannya saat Riris menata barang belanjaan mereka di kabinet dapur.


"Sayang," bisik Raffi tepat di depan telinga Riris.


"Hmm?" sahut Riris tanpa menghentikan kegiatannya menata bahan makanan di rak.


"Sayang," bisik Raffi lagi di tengkuk Riris membuat kekasihnya itu tergelak dan refleks berbalik menatap wajah pria yang tetap enggan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Riris menatap mata Raffi yang sayu, Raffi juga menatap mata Riris seolah mencari sesuatu di dalam sana. Riris yang ditatap seperti itu tak kuasa menyembunyikan kegugupannya, digigitnya bibir bawahnya tanpa tahu hal itu memicu gairah pria di hadapannya itu. Riris merasakan tubuhnya tiba-tiba terangkat dan berada pada posisi duduk di atas kabinet.


Raffi mencondongkan tubuhnya ke arah Riris dengan kedua tangannya mengunci kedua tangan Riris yang bertumpu di atas kabinet. Raffi menatap bibir Riris sesaat lalu kembali menatap mata Riris yang telah berubah sayu. Perlahan Raffi mendekatkan wajahnya, dilihatnya Riris yang hanya terdiam seolah tau apa yang akan dilakukannya saat itu. Melihat kekasihnya seolah mengharapkan hal yang sama dengannya, dikecupnya bibir kekasihnya dengan lembut selama beberapa saat. Karena tidak ada penolakan, disesapnya bibir yang telah lama membuatnya begitu tergoda itu. Tak puas dengan merasakan manisnya bibir kekasihnya itu, didorongnya lidahnya menyusup masuk ke dalam mulut kekasihnya.


Riris terkesiap, itu adalah ciuman pertama baginya, dan dia tidak tahu cara melakukannya hingga dia kaget ketika tiba-tiba dirasakannya lidah Raffi menyusup masuk ke dalam mulutnya. Jantungnya berdebar tak karuan menyadari apa yang baru saja terjadi, tubuhnya terasa panas seolah ada gelora yang tertahan. Dia terdiam berusaha menenangkan dirinya.


Raffi yang menyadari bahwa itu pertama kalinya bagi kekasihnya melepaskan tautan bibir mereka. Raffi berniat menyudahi ciuman mereka karena tidak ingin memaksa Riris untuk mengimbangi dirinya yang sudah terbiasa melakukan hal itu. Dia menunduk dan memejamkan matanya seolah meredam gairahnya. Lalu ditatapnya wajah Riris yang masih terdiam dengan bibirnya yang basah akibat perbuatannya. Tanpa disangka Riris menangkup wajahnya dan mengecup bibirnya sekilas. Hal itu membuatnya tak kuasa lagi menahan gejolak di dadanya. Dikecupnya lagi bibir kekasihnya itu, disesapnya seolah dia tengah kehausan. Merasakan Riris mulai membalas ciumannya meskipun dengan kaku, lidahnya menyusup masuk dan menyapu setiap sudut rongga mulut kekasihnya dengan penuh gairah. Karena terlalu menikmati ciumannya Raffi tak menyadari Riris yang hampir kehabisan nafas sampai gadis itu memundurkan badannya ke belakang sehingga tautan bibir mereka terlepas.


"Maaf sayang, apakah aku kelewatan?" tanya Raffi.


Riris tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Aku hanya belum bisa mengimbangi Mas, jadi Mas harus bersabar," kata Riris.


Raffi tersenyum mendengar kekasihnya tak keberatan dengan perbuatannya barusan, "Terimakasih sayang," kata Raffi lalu mengecup kening Riris.


#


#


#


#


#


Hai readers, terimakasih banyak ya buat yang udah sempetin baca novel aku, maaf kalo tidak sesuai ekspektasi kalian, ini novel pertama aku, jadi aku masih belajar.


Buat readers yang mungkin kecewa karena up.nya lama, maaf ya, aku pengennya bikin novel yang menarik sehingga butuh waktu lama buat bikinnya, terlebih aku juga bagi waktu dengan kesibukan di Real Life, jadi sepertinya gak bisa kalo mesti crazy up.


Dan karena aku gi bikin novel baru buat ikutan lomba, maaf ya mungkin untuk novel ini akan jarang up buat sementara, tapi aku usahain tetap bisa up setiap hari. Kalau misal gak bisa kalian bisa mampir di novel baru aku ya, judulnya Save Me, Love Me, ceritanya tentang romantis fantasi, masih dalam proses sih, semoga lulus review.


Tetap tolong dukungannya ya buat aku, berupa like, komen, vote, atau hadiah, terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2