
POV Vano
Aku dan Rendra yang baru saja kembali ke tempat dimana sebelumnya Riris dan Rosi asyik bermain air bingung karena tidak menemukan kedua gadis itu. Ku arahkan pandanganku menyapu sekeliling pantai yang dapat dijangkau oleh mataku mencari sosok mereka, namun nihil, sosok mereka sama sekali tidak terlihat. Ketika aku dan Rendra sudah menyerah mencari keberadaan mereka, tiba-tiba ada sosok wanita paruh baya yang menepuk pundakku.
"Mas, Anda teman kedua Mbak-Mbak cantik yang tadi mainan air di sini?" tanya wanita yang terlihat menjinjing tas berisi berbagai macam rempeyek.
"Iya Bu, Ibu tau mereka pergi ke arah mana?" tanyaku.
"Tadi kelihatannya salah satu dari mereka dirampas ponselnya Mas sama salah 1 preman di daerah sini, lalu mereka mengejar preman itu, tadi saya sempat perhatikan mereka berlari ke arah sana," jelas wanita itu sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Riris dan Rosi mengejar Bagas. "Maaf Mas saya tidak bisa bantu tadi soalnya saya juga takut sama preman tadi. Lebih baik Mas buruan susul temannya, takutnya temannya diapa-apain, soalnya beberapa minggu yang lalu ada wisatawan wanita yang mengalami pelecehan oleh salah 1 preman di daerah sini," lanjut wanita tadi.
Mendengar perkataan wanita itu terlintas hal buruk di pikiranku, aku begitu mengkhawatirkan Riris. Aku memandang Rendra yang juga tampak khawatir, tanpa mengucapkan sepatah katapun Rendra paham apa yang harus kami lakukan.
"Terimakasih Bu, kami permisi dulu," pamit Rendra lalu kami berlari menuju arah yang ditunjukkan wanita tadi.
Begitu sampai di sebuah tempat yang sepi dan agak jauh dari bibir pantai, langkahku terhenti karena mendengar suara beberapa orang menjerit kesakitan. Ku pasang telingaku baik-baik agar dapat mendengar lebih jelas karena aku begitu takut itu adalah suara jeritan Riris dan Rosi. Rendra yang sepertinya juga mendengar apa yang aku dengar ikut berhenti dan fokus mendengarkan.
"Van, kayaknya itu suara pria bukan wanita," kata Rendra.
Lalu kami berlari mendekat ke arah asal suara, begitu sampai di sebuah tempat yang teduh karena banyaknya pepohonan yang tumbuh rindang di sana, aku begitu terkejut melihat seorang pria dengan wajah lebam dan berdarah terkapar tak berdaya di depanku, tak jauh dari pria itu seorang pria terlihat duduk memegangi tangannya sambil merintih kesakitan. Dan yang lebih membuatku syok sampai badanku terhuyung ke belakang karena kakiku terasa lemas, kulihat tangan mungil Riris sedang memelintir tangan kekar seorang pria sampai pria itu menjerit kesakitan, lalu dia menendang kaki pria itu hingga tersungkur ke tanah. Di sebelahnya Rosi terlihat seperti petinju yang memukul wajah seorang pria dengan brutal sampai wajah pria itu hampir tak bisa dikenali.
"Kak Vano?" jerit Riris yang kaget saat melihatku. Mendengar jeritan Riris, Rosi menghentikan pukulannya, karena dia lihat Bagas sudah tidak berdaya dia hempaskan pria itu ke tanah.
__ADS_1
"Semoga habis ini kalian sadar dan kapok, dan berusaha menjadi orang yang baik," kata Rosi sambil meregangkan kedua tangannya yang terasa lelah.
"Kak, tutup mulut Kakak nanti kemasukan lalat," kata Riris yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku.
Reflek ku katupkan kedua bibirku dan menegakkan tubuhku. Kulihat Rendra di sebelahku masih berdiri dengan wajah pias, sepertinya dia juga begitu terguncang karena adegan yang baru saja kami lihat.
"Apa kalian yang membuat mereka seperti ini?" tanyaku ingin memastikan apa yang baru saja aku saksikan, hal yang sama sekali tak pernah terpikir olehku. Gadis kecil yang terlihat begitu polos dan rapuh membuat dua pria bertubuh kekar kesakitan karena sepertinya tangan dan kakinya patah. Terlebih seorang wanita seksi yang aku pikir hanya bisa berdandan terlihat begitu menyeramkan saat dengan brutalnya meninju wajah orang sampai babak belur dengan kedua tangan telanjangnya.
Kulihat Riris terkekeh pelan, dari raut wajahnya bisa kulihat bahwa dia sedang berusaha untuk tidak menertawakan aku dan Rendra yang terlihat jelas begitu syok.
"Iya Pak, habisnya mereka ini otaknya mesum banget, gak ngehargain wanita, beraninya keroyokan lagi," kata Rosi dengan nada kesal. "Udah yuk kita pergi dari sini," lanjutnya sambil menggandeng lengan Riris dan menuntunnya menjauhi tempat itu.
"Van, kita perlu lapor polisi gak?" tanya Rendra yang sudah dapat mengendalikan rasa terkejutnya.
Kupandangi Riris dan Rosi yang berjalan di depanku sambil bercanda dengan ceria seolah tidak mengalami hal buruk apapun sebelumnya.
"Gadis itu benar-benar mengejutkan, entah apalagi kejutan yang akan dia tunjukkan kepadaku, benar-benar menarik," kataku dalam hati.
**********
POV Author
__ADS_1
Di kediaman Sanjaya, Sucipto terlihat baru saja mengakhiri panggilan dengan seseorang. Tersungging senyuman di bibirnya.
"Ini baru sedikit yang kamu ketahui tentang Riris Van, Kakek yakin kalo kamu sudah mengenal Riris lebih jauh maka kamu tidak akan mau melepaskan gadis kecilku itu," gumamnya pelan.
Tak berapa lama muncul Yola yang berdiri di hadapannya dengan nafas terengah-engah,
"Pa, apa Papa tahu kalau Riris hampir saja dilecehkan oleh kawanan preman?" tanyanya saat nafasnya sudah mulai kembali normal.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Sucipto.
Yola tampak tersenyum kikuk, dia malu kalau harus jujur bahwa dia meminta seseorang untuk memantau Vano dan Riris.
"Papa sudah meminta seseorang untuk mengikuti Riris kemanapun dia pergi dan menjaganya. Papa tau kamu juga menginginkan Riris menikah dengan Vano makanya kamu berusaha mendekatkan mereka. Tapi dengan cara kamu yang seperti itu pasti Vano dapat mengetahui rencana kamu itu Yol, biarlah mereka dekat dengan sendirinya. Papa yakin pada akhirnya mereka akan saling tertarik satu sama lain," jelas Sucipto.
"Tapi Pa, dengan kejadian ini apa Papa tidak ingin memperketat pengawalan untuk Riris?" tanya Yola yang khawatir dengan keselamatan calon menantunya itu.
"Kamu tidak usah khawatir. Karena memang dari dulu Papa menginginkannya menjadi menantu di keluarga kita, dari Riris kecil Papa sudah membimbing dia untuk menjadi seseorang yang mampu melindungi dirinya sendiri. Jadi ketika dia menjadi anggota keluarga ini nanti dia siap menghadapi saingan bisnis Papa yang mungkin memiliki niat jahat terhadap keluarga kita," jawab Sucipto.
"Jadi benar informasi yang aku dapat dari orang suruhanku Pa? Kalo Riris menghajar kawanan preman itu dengan tangannya sendiri?" tanya Yola dengan ekspresi terkejut.
"Seperti itulah Riris, dari luar dia terlihat seperti gadis seumurannya yang polos dan manja. Tapi bila dihadapkan pada bahaya dia berubah menjadi gadis yang menakutkan," jelas Sucipto sambil tersenyum. "Kamu bahkan akan lebih kagum kepadanya jika mengetahui kemampuannya bermain musik dan berbicara dengan berbagai bahasa," lanjut Sucipto.
__ADS_1
"Wow, sehebat itukah calon menantuku Pa?" tanya Yola lirih sambil menutup mulutnya yang menganga saking kagumnya saat membayangkan betapa hebatnya kemampuan calon menantunya.