Kekasih Yang Kurindukan

Kekasih Yang Kurindukan
Panggilan Sayang untuk Putra


__ADS_3

"Gimana kalo Mas coba aja, biar tau akan jadi masalah atau berkah?" balas Riris ambigu.


"As your wish baby," jawaban Raffi membuat Riris tanpa sadar menampakkan senyum yang begitu bahagia.


"Ada yang lagi berbunga-bunga nih kayaknya," ucap Rosi menyadarkan Riris.


"Siapa? Aku?" tanya Riris menoleh ke Rosi sambil mengarahkan telunjuknya ke arahnya.


"Iyalah, kan yang dari tadi senyum-senyum sendiri cuma kamu cintaku, liat noh yang lain udah pada habis makanannya, tinggal kamu doang yang belum gara-gara mainan ponsel mulu," jelas Rosi.


Riris mengedarkan pandangannya ke arah piring teman-temannya, benar kata Rosi, yang lain piringnya sudah kosong. "Maaf deh, abis keasyikan baca sesuatu, tunggu bentar ya aku habisin dulu makanan aku, ya ya ya, please," ucapnya sambil memasang wajah imut.


"Iya gak papa kita tungguin, buruan dihabisin," kata Putra.


Setelah menyelesaikan makan siang, mereka berenam melangkahkan kaki menuju perpustakaan. Meskipun letak perpustakaan agak jauh dari fakultas, mereka memilih berjalan kaki sekedar untuk melihat-lihat suasana kampus dan fasilitas apa saja yang tersedia.


Setelah sampai di perpustakaan, Riris, Putra, Rosi, dan Azki memilih buku-buku yang kira-kira bisa dijadikan referensi. Sedangkan Anton dan Lia mencari referensi lewat internet dengan laptop Anton. Mereka sibuk membaca buku yang mereka pilih kemudian menandai bagian-bagian yang sekiranya akan dimasukkan sebagai bahan presentasi. Tak terasa waktu menunjukkan pukul empat sore, mereka mengembalikan buku-buku yang tidak mereka perlukan kemudian meminjam buku yang telah mereka tandai kepada petugas. Untuk selanjutnya Riris akan berdiskusi mengenai bahan materi berdua saja dengan Putra, Lia akan menyiapkan serta mempelajari contoh soal beserta pemecahannya sendiri, Rosi berdua dengan Azki akan menyiapkan latihan soal, sedangkan Anton sambil menunggu mereka berlima menyerahkan bahan presentasi akan membuat desain untuk media presentasinya terlebih dahulu.


**********


Selesai makan malam, Riris kembali ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Diraihnya ponselnya di atas nakas, dilihatnya ada beberapa notif pesan pada aplikasi dengan logo warna hijau. Pertama yang dia buka adalah pesan dari Raffi.


"Malam, gimana hari pertama kuliah?".


"Capek Mas, tapi menyenangkan,".


"Mungkin karna belum terbiasa aja, dulu kan waktu SMA kebanyakan guru yang menjelaskan, sedangkan kuliah menuntut kita buat aktif secara mandiri,"


"Kalo ada kesulitan bisa tanya sama Mas, sapa tau Mas bisa bantu," lanjut Raffi.


"Oh iya, kenapa baru inget kalo Mas satu jurusan ma aku, tau gitu tadi pinjam buku Mas aja ya buat bahan presentasi, hehe".


"Kan buku Mas juga gak banyak, lebih lengkap di perpustakaan, lagian kan jadi ada pengalaman berkunjung ke perpustakaan, kadang Mas juga ke sana sambil nunggu kelas berikutnya, suasananya nyaman buat ngerjain tugas ato sekedar santai sambil nonton film,".


"Sama siapa biasanya Mas?".


"Sendiri aja, yang lain lebih seneng main ke kosan temen ato jalan-jalan kemana gitu,".


"Oh, kok Mas gak gabung ma temen-temen yang lain? Kan seru, aku aja pengen ngegosip bareng di kosan temen, jalan rame-rame ma temen-temen, baru mikirin aja udah bikin happy,".

__ADS_1


"Kalo mikirin jalan berdua sama Mas bikin happy gak?".


"Gak, Mas kan banyak penggemar, takut jadi pelampiasan cewek-cewek yang ditolak sama Mas,".


"Hahaha...palingan kamu yang jadi penggemar Mas. Udah malem, buruan tidur!".


"Iya, Mas juga gih".


"Good night, see the beauty in your dreams!".


"Night too, hope the same for you,".


Setelah Riris menutup chat dengan Raffi dia beralih membuka chat dari Putra.


"Malem Ris".


Ditengoknya jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat delapan menit, 'belum terlalu larut, masih pantas untuk mengirim chat balasan', pikirnya.


"Hai Put".


"Akhirnya dibales juga pesen aku, padahal online nya udah dari tadi".


"Maaf, nungguin ya? Hehe...ada apa?".


"Oke, gimana kalo abis kelas Kalkulus?".


"Oke, by the way gi apa?".


"Gi chat ama kamu? Kamu sendiri kenapa belum tidur?".


"Nih yang dikelonin belum tidur-tidur,".


Riris mengerutkan dahinya membaca balasan Putra, baru mau bertanya ada pesan susulan dari Putra.


"Maksudnya si bocil keponakan aku, kalo tidur kadang maunya ma aku,".


Lalu ponselnya berdering dan terlihat di layarnya nama Putra, 'Video Calling' . Begitu Riris menekan tanda terima, muncullah sosok anak laki-laki gembul berkulit putih yang masih berumur sekitar empat atau lima tahun.


"Hai anak ganteng, namanya siapa?" sapa Riris sambil mengangkat telapak tangan kanannya.

__ADS_1


"Hai tante, namaku Bian, umurku lima tahun, rumahku di perumahan Tirta....ooom," jawab Bian lalu menyerahkan ponsel ke Putra dan sembunyi ke dalam selimut.


Riris tertawa lalu menutup mulutnya dengan tangannya.


"Ngegemesin banget sih om keponakannya,".


"Kok om?".


"Kan aku sama ngegemesinnya kayak Bian, jadi manggil kamunya sama kayak dia,".


"Sama ngegemesinnya gimana? Buktinya Bian aja manggil kamu tante, hehe,".


"Hish, terserah om sajalah,".


"Haha kesal dia, ya udah tante met bobok ya, sampe ketemu besok,".


"Iyaaa ooom,".


Riris meletakkan ponselnya kembali di atas nakas lalu bersiap untuk tidur.


**********


"Ris, kamu mau ikut aku naik motor ato bawa kendaraan sendiri?" tanya Putra yang menghampirinya setelah kelas Kalkulus berakhir.


"Tadi aku berangkatnya diantar jadi gak bawa kendaraan," jawab Riris yang masih berdiri di samping Rosi dan Azki.


"Kalian mau diskusiin materi presentasi ya?" tanya Azki.


"Iya Ki, kalo kalian berdua abis ini mau pulang atau kemana?" tanya Riris.


"Kita juga mau diskusiin latihan soal sih, ya kan Ros?" kata Azki yang diangguki oleh Rosi. "Emang kalian mau diskusi dimana?" lanjutnya.


"Di cafe deket kampus aja sih, kata Putra nyaman buat ngerjain tugas, kalian ikut aja pa?" tanya Riris.


"Aku sih ngikut aja, gimana Ros?"


"Oke ayuk, kamu bareng aku ma Azki aja Ris ke cafe nya, biar Putra nyusul nanti," jawab Rosi.


"Ah kalian berdua ini ganggu aja, gagal kan kencan aku ma Riris," kata Putra sambil terkekeh, menutupi kekecewaan karena gagal berdua saja dengan Riris.

__ADS_1


"Idih ogah kali kencan ma om-om," canda Riris. "Om kita duluan ya," lanjutnya sambil tersenyum.


Tak lama sampailah mereka di sebuah cafe dengan desain pinggir jalan yang asri, cafe itu menggunakan meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Di sekitaran ruangan banyak terdapat tanaman hias yang akan memberikan udara sejuk di siang hari yang panas. Begitu menemukan tempat yang nyaman dan memesan minuman juga cemilan untuk menemani mereka mendiskusikan tugas, mereka berempat sibuk dengan pasangan masing-masing membahas bahan presentasi.


__ADS_2