
Eden kemudian menghilang sebelum akhirnya muncul dengan kedua tangannya yang telah terbakar, oleh api yang berasal dari kemampuannya.
Pukulan Eden tepat di pipi kanan wajah dari Krecein, tapi hal tersebut tidak membuat perbedaan apapun, Krecein masih tetap tidak terluka, bahkan goresan saja tidak ada di wajahnya, Eden hanya bisa tersenyum kesal.
"Grrr!" Krecein segera menggunakan tangan kanannya untuk menggapai Eden, tapi Eden sudah menggunakan kemampuannya untuk berpindah tempat, ke belakang Krecein.
"Coba yang ini!" Eden menggunakan banyak energi Jiwa ke dalam pukulannya, yang membuat api berkobar, meski demikian Eden sekarang berada di dalam air, meski itu menjadi api yang besar, tapi tidak sebesar ketika berada di darat, serta tidak sekuat ketika berada di luar air.
"Baam!" Pukulan Eden menciptakan gelombang besar, tapi ketika semua orang yang berada di dalam dinding pelindung berpikir itu berhasil, Eden tiba-tiba saja terhempas.
"Buuk! Baam!" Eden berguling-guling di pasir laut, menyaksikan itu orang-orang yang sebelumnya bergembira menjadi terkejut, mereka menelan ludah menyaksikan hal yang tidak dapat dilihat oleh mata, Yap pukulan barusan yang dilakukan oleh Krecein begitu cepat, meski Eden sudah mencoba menghindarinya, pukulan itu lebih cepat dibandingkan dia.
"Uhuk... Sakit..." Eden menatap dengan mata yang buram, dirinya tidak dapat melihat dengan jelas.
"Swuss!" Krecein seketika menghilang sebelum muncul di depan Eden, sebuah pukulan akan mengenai Eden, hal itu segera dirasakan oleh Eden, dirinya segera menghilang tepat ketika kepalan tangan Krecein akan mengenainya.
Eden muncul kembali jauh dari tempat Krecein berada, tubuhnya penuh luka, beberapa organ dalamnya rusak, serta beberapa tulangnya patah.
Meski Eden tahu dirinya tidak akan bisa membunuh Krecein dengan kekuatannya saat ini, Eden masih mencobanya, karena dirinya tidak mau Kerajaan Mare rusak parah, dan menyebabkan kehancuran di mana-mana, serta membuat masalah yang akan timbul di masa depan, oleh karena itu Eden berniat menghadapi Krecein sendiri, untuk mencegah hal tersebut.
"... Sial!" Eden baru saja memikirkan beberapa hal, kepalan tangan Krecein sudah di depannya, Eden terpukul dengan keras dan mengakibatkan terlempar cukup jauh.
Krecein tidak memberi Eden waktu istirahat, dirinya segera muncul di belakang Eden, sebelum kembali melontarkan pukulan
"Khak!" Eden kembali terhempas hingga melubangi permukaan tanah, menyaksikan Eden yang dipukuli habis-habisan oleh Krecein, membuat Nivian menjadi sangat marah, dirinya berniat untuk ikut campur, tapi bawahannya menghentikan, karena menteri itu tahu bahkan jika gabungan Eden dan Nivian, keduanya tetap tidak akan bisa menghabisi Krecein.
__ADS_1
"Alya!" Nivian akhirnya tidak dapat menahan diri lebih lama lagi, ketika dirinya menyaksikan Eden yang benar-benar tidak bergerak, setelah di angkat oleh Krecein keluar dari dalam lubang dirinya kemudian dipukul dengan keras.
"Yang Mulia!" Alya yang merupakan Menteri wanita itu, tidak dapat lagi menghentikan Nivian yang sudah menghilang dan muncul di depan Eden.
"La... ri..." Eden bergumam dengan suara yang pelan, tubuhnya telah benar-benar hancur, meski pikirannya masih waras, tapi tubuhnya sudah tidak dapat lagi menanggung beban dari luka yang diterima.
"Tidak! Kau yang seharusnya pergi! Ini pertarungan kami! Kau seharusnya tidak melakukan hal yang seperti ini!" Nivian berteriak keras, sambil dengan tetap memandang sosok Krecein.
Pada awalnya Nivian mengetahui kabar Eden yang menghadapi Krecein, hatinya menjadi bersemangat, tapi begitu dirinya sampai ke atas dinding pelindung, dirinya benar-benar terkejut menyaksikan Eden yang telah babak belur, hanya dalam beberapa menit saja, oleh karena itu dirinya tidak tahu harus melakukan apa dan hanya dapat membeku menyaksikan Eden yang dihajar habis-habisan.
Tapi seketika Nivian tersadar akan hal itu, dirinya ingin menolong Eden tapi Alya tidak membiarkan Nivian ikut campur, di mana Alya memerintahkan semua Kesatria yang berada di atas dinding, untuk menahan Nivian.
Hal itu membuat Nivian sangat marah, meski dirinya tahu Alya melakukan itu untuk keselamatannya, Nivian tetap tidak bisa mentoleransi seseorang yang berani melawannya.
Dirinya segera membuat semua Kesatria jatuh pingsan, tapi begitu Nivian ingin melakukan hal yang sama kepada Alya, dirinya melihat Eden yang sudah tidak dapat bergerak.
"..." Eden akhirnya hanya bisa membisu, meski demikian Eden tetap membuat beberapa gerakan, di mana dirinya mengeluarkan beberapa Ramuan penyembuhan, setelah itu merasa tubuhnya sudah dapat digerakkan kembali, membuat Eden kembali menatap Nivian.
"Kau benar-benar tidak berubah..." Gumam Eden dengan pelan, tapi hal itu masih dapat didengar jelas oleh Nivian.
"Rwwwaaaauuurrr!" Krecein kemudian kembali menyerang, Eden segera menarik Nivian, sebelum akhirnya menghilang, lalu keduanya muncul kembali cukup jauh dari Krecein.
"Hei! Aku memiliki cara untuk mengalahkannya, tapi aku butuh bantuan, berapa lama kau bisa bertahan?" Eden bertanya kepada Nivian dengan tergesa-gesa.
"Setidaknya aku dapat bertahan tiga puluh menit!" Mendengar itu Eden berpikir sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Beri aku waktu selama itu, maka setelahnya serahkan saja kepadaku, aku yang akan menghabisinya!" Nivian yang mendengarnya terdiam, dirinya menatap Eden dengan sangat serius.
"Baik, tapi apakah kau yakin bisa mengalahkannya?" Nivian bertanya dengan ragu-ragu.
"Dewi Laut Mati..." Seketika tubuh Nivian menegang, dirinya segera menatap Eden seolah-olah melihat orang gila.
"Jangan menatapku seperti itu! Percaya saja kepadaku! Jika hal itu berhasil dan aku mengalahkan Krecein, maukah kau menerima satu permintaanku?" Eden bertanya dengan wajah serius, yang membuat Nivian menjadi sedikit gelisah akan permintaan Eden tersebut.
"Uhmm... Baik!"
Mendengarnya Eden segera tersenyum lebar, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Nivian, kemudian Nivian kembali fokus ke hal yang berada di depannya.
"Yang Mulia!" Alya seketika muncul di sebelah Nivian.
"Bantu aku mengulurkan waktu untuk Eden, hanya tiga puluh menit saja, mengerti?" Mendengar nada memerintah dari Nivian, Alya segera menerimanya.
...
Sementara itu di suatu tempat, Eden muncul seketika, dirinya melihat-lihat ke sekitar, sebelum akhirnya menarik nafas panjang, lalu berlari dengan cepat melalui pintu lorong.
Seketika mekanisme tempat itu berfungsi, berbagai jebakan mulai bermunculan, dari senjata tajam, racun, sengatan listrik, dan berbagai hal lainnya.
Meski hal itu menyakitkan bagi Eden, tapi dirinya tidak berhenti dan terus berlari, hingga akhirnya Eden menemukan sebuah pintu raksasa tepat di depannya, Eden segera berhenti dan menatap pintu raksasa tersebut.
Kemudian Eden meletakkan kedua tangannya di pintu tersebut, hal itu menyebabkan hal aneh kembali muncul, yaitu sebuah suara yang bergema dapat terdengar.
__ADS_1
"Selamat Datang! Pilihlah hal yang Anda inginkan! Kekuatan atau Keabadian?" Eden yang mendengarnya tersenyum lebar, dirinya mengingat jelas tentang hal yang terjadi saat ini, Permainan yang dibuat oleh Dewi Laut Mati, karena bosan dengan berada di penjara yang terbuat dari Batu Gembok Laut.
"Tidak keduanya! Aku memilihmu Azurea! Yang aku mau hanya dirimu! Jadilah budakku! Kau dasar wanita aneh!" Eden dengan suara keras berbicara di depan pintu tersebut.